Badan Pengatur (BP) BUMN saat ini tengah mengkaji rencana penutupan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI). Perusahaan pelat merah ini dikenal sebagai pemain lama di sektor manufaktur digital dan integrator sistem.
Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, memberikan kepastian bahwa proses ini tidak akan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi para pegawainya. Sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara, ia menjelaskan bahwa saat ini rencana tersebut masih dalam tahap verifikasi mendalam.
Dony menegaskan komitmen pemerintah untuk melindungi seluruh tenaga kerja yang ada di PT INTI. "Pekerjanya aman, kami pastikan tidak ada yang terkena PHK dalam proses ini," ujarnya kepada media.
Guna mengawal proses transisi ini, BP BUMN menjalin sinergi strategis dengan Kementerian Ketenagakerjaan. Langkah ini bertujuan untuk memastikan transformasi BUMN mengedepankan prinsip keadilan bagi semua pihak tanpa ada yang tertinggal.
Kerja sama lintas instansi ini juga menjadi bagian dari upaya besar dalam menjaga kesehatan dan keberlanjutan BUMN di masa depan. Perlindungan terhadap hak-hak dasar pekerja menjadi prioritas utama di tengah agenda profesionalisme perusahaan negara.
Profil Singkat dan Jejak Operasional PT INTI
PT INTI saat ini mengoperasikan aktivitas bisnisnya melalui tiga lokasi strategis yang mendukung fungsionalitas perusahaan. Kantor pusat perseroan berlokasi di Jalan Moch. Toha Nomor 77, Bandung, Jawa Barat.
Selain kantor pusat, perusahaan memiliki kantor cabang yang berada di kawasan Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Balitung 1 Nomor 17. Fasilitas produksi utama juga disiapkan di Jalan Moch. Toha Nomor 225, Bandung.
Berdasarkan laporan tahunan 2023, jumlah sumber daya manusia yang menggerakkan roda bisnis PT INTI tercatat sebanyak 203 karyawan. Struktur modal perusahaan ini cukup kuat dengan modal dasar mencapai Rp1 triliun.
Adapun modal yang telah disetor penuh untuk operasional perusahaan tercatat sebesar Rp350 miliar. Sejarah panjang perusahaan ini dimulai dari evolusi kerja sama antara PN Telekomunikasi dengan raksasa teknologi Siemens AG pada tahun 1966.
Kolaborasi tersebut berkembang menjadi pembentukan Pabrik Telepon dan Telegraf (PTT) pada tahun 1968. Saat itu, unit ini berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pos dan Telekomunikasi atau LPP Postel.
PT INTI secara resmi berdiri sebagai entitas mandiri pada 30 Desember 1974. Pada masa awal berdirinya, perusahaan fokus memproduksi perangkat komunikasi radio sonde hingga stasiun bumi untuk satelit Palapa.
Memasuki tahun 1989, lini bisnis perseroan mulai mengerucut pada tiga segmen utama yang sangat krusial. Segmen tersebut mencakup produk transmisi, produk sentral, serta perangkat terminal pelanggan atau CPE.
Peran PT INTI sangat signifikan dalam sejarah teknologi tanah air sebagai pelopor digitalisasi sistem jaringan komunikasi. Sejak saat itu, perusahaan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern.
Antara tahun 2002 hingga 2019, perusahaan aktif melakukan langkah strategis berupa pemisahan unit bisnis atau spin-off. Hal ini ditandai dengan pendirian berbagai anak perusahaan serta kolaborasi dalam bentuk perusahaan patungan.
Beberapa entitas yang lahir dari proses ini adalah PT INTI Prisma Internasional. Selain itu, terdapat pula PT INTI Pindad Mitra Sejati yang merupakan hasil kerja sama strategis dengan perusahaan pertahanan PT Pindad.
Sejak tahun 2020, PT INTI mempertajam fokus bisnisnya pada empat pilar utama layanan teknologi. Keempat fokus tersebut meliputi integrasi sistem, layanan digital, managed service, serta aktivitas manufaktur dan perakitan.
Untuk menopang target bisnis tersebut, perusahaan mengelola INTI Smart Industrial Park di Bandung. Fasilitas seluas delapan hektar ini menjadi pusat produksi berbagai perangkat telekomunikasi dan elektronik modern.
Struktur Kepemilikan dan Entitas Anak Perusahaan
Secara kepemilikan saham, PT INTI merupakan perusahaan yang sepenuhnya atau 100% dimiliki oleh Negara Republik Indonesia. Namun, perseroan juga memiliki portofolio investasi di berbagai perusahaan lain.
Daftar kepemilikan saham PT INTI pada berbagai entitas bisnis adalah sebagai berikut:
- PT Smart Telecom: Perseroan memiliki porsi kepemilikan saham sebesar 0,06% di perusahaan ini.
- PT Bangtelindo: PT INTI menggenggam kepemilikan sebesar 2,65% dari total saham yang tersedia.
- PT Inti Pisma International: Perseroan memiliki pengaruh cukup signifikan dengan kepemilikan 22% saham.
- PT Maleo Emtiga: Investasi pada perusahaan ini tercatat mencapai angka sebesar 31,75%.
- PT INTI Pindad Mitra Sejati (IPMS): Perseroan menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi sebesar 87%.
- PT INTI Konten Indonesia (INTES): Kepemilikan perseroan di anak usaha ini hampir mutlak, yakni sebesar 99,99%.
Data di atas menunjukkan bahwa meskipun berada dalam kajian penutupan, PT INTI memiliki jaringan bisnis yang luas. Portofolio ini mencakup berbagai sektor mulai dari konten digital hingga solusi infrastruktur telekomunikasi.
Ringkasan profil keuangan dan operasional PT INTI berdasarkan data terbaru:
| Kategori Informasi | Detail Keterangan |
|---|---|
| Status Kepemilikan | 100% Milik Negara RI |
| Modal Dasar | Rp1 Triliun |
| Modal Disetor | Rp350 Miliar |
| Jumlah Karyawan (2023) | 203 Orang |
| Lokasi Fasilitas Produksi | INTI Smart Industrial Park (8 Hektar) |
Tabel ini merangkum aset dan kekuatan finansial yang dimiliki perusahaan sebelum memasuki fase transformasi oleh Danantara. Informasi ini mencerminkan skala bisnis PT INTI yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Keputusan mengenai masa depan PT INTI akan sangat bergantung pada hasil verifikasi yang dilakukan oleh BP BUMN. Pemerintah berjanji bahwa apapun hasilnya, kesejahteraan pekerja akan tetap menjadi landasan utama kebijakan.
Transformasi ini diharapkan mampu memberikan efisiensi yang lebih baik bagi portofolio BUMN secara keseluruhan. Masyarakat kini menunggu langkah konkret selanjutnya dari Danantara terkait optimalisasi aset-aset negara tersebut.
Seiring dengan kabar penutupan ini, jejak digital dan kontribusi PT INTI dalam sejarah komunikasi Indonesia tidak bisa dilupakan begitu saja. Peran mereka dalam mendukung Satelit Palapa tetap menjadi catatan penting bagi kemajuan teknologi nasional.