Proyeksi harga minyak dunia untuk tahun 2026 kembali mengalami revisi naik oleh para pengamat ekonomi. Langkah ini diambil menyusul gangguan pasokan energi yang terus berlanjut akibat ketegangan konflik di Iran.
Hingga saat ini, arus perdagangan melalui Selat Hormuz dilaporkan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas distribusi minyak mentah secara global.
Proyeksi Harga Minyak Brent dan WTI
Berdasarkan hasil survei terbaru terhadap 33 ekonom dan analis, rata-rata harga minyak Brent diperkirakan bakal menyentuh angka US$90,44 per barel pada 2026. Angka ini meningkat signifikan dari prediksi bulan sebelumnya yang berada di level US$86,38 per barel.
Kenaikan serupa juga terjadi pada proyeksi minyak mentah West Texas Intermediate (WTI). Para analis memperkirakan harga rata-rata WTI akan berada di posisi US$84,63 per barel, naik dari proyeksi April sebesar US$80,07 per barel.
Revisi ini menjadi kenaikan proyeksi ketiga kalinya secara berturut-turut sejak pecahnya konflik Iran pada Februari lalu. Jika dibandingkan dengan masa sebelum perang, estimasi harga Brent dan WTI untuk tahun 2026 telah melonjak hingga 40%.
Dampak Penutupan Jalur Distribusi Global
Sejak konflik dimulai, harga minyak sempat mencapai titik tertinggi dalam empat tahun terakhir. Brent tercatat melampaui US$126 per barel, sementara WTI menembus angka US$119 per barel akibat penutupan Selat Hormuz.
Meski harga terus merangkak naik, kemungkinan terciptanya rekor harga baru di tahun ini dianggap masih sangat rendah. Surabhi Menon dari EIU India menjelaskan bahwa tren kenaikan hanya akan terjadi secara tipis dari level yang ada saat ini.
Prediksi tersebut mengasumsikan bahwa kondisi di Iran akan tetap stagnan setidaknya hingga akhir Juli mendatang. Status gencatan senjata diperkirakan masih berjalan dengan kondisi Selat Hormuz yang tetap tertutup bagi lalu lintas perdagangan.
Berikut adalah ringkasan perubahan volume ekspor minyak mentah di kawasan Timur Tengah menurut data Kpler:
| Kondisi Ekspor | Volume (Barel per Hari) |
|---|---|
| Sebelum Krisis (Rata-rata) | 18,3 Juta |
| Saat Krisis Berlangsung | 8,8 Juta |
Penurunan drastis volume ekspor tersebut menunjukkan betapa besarnya hambatan logistik yang sedang dihadapi pasar energi dunia. Hal ini secara langsung menekan ketersediaan stok minyak di berbagai negara konsumen.
Tantangan Defisit Pasokan Sepanjang 2026
Analis NORD/LB Thomas Wybierek memprediksi bahwa gangguan distribusi ini akan memakan waktu lebih lama dari perkiraan semula. Ia meragukan pengiriman minyak melalui jalur laut bisa kembali normal dalam waktu dekat.
Sekalipun kesepakatan damai jangka pendek tercapai, volume pengiriman diprediksi tidak akan langsung pulih ke level sebelum krisis. Hal ini membuat mayoritas analis sepakat bahwa pasar global akan menghadapi defisit pasokan di sepanjang tahun 2026.
Besaran defisit pasokan global diperkirakan berada pada rentang yang cukup lebar. Angka kekurangan stok diprediksi berkisar antara 500 ribu hingga 8 juta barel setiap harinya.
Penurunan Permintaan di Tengah Pelemahan Ekonomi
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah memangkas estimasi pertumbuhan permintaan minyak global. Proyeksi tersebut turun menjadi 1,17 juta barel per hari dari target sebelumnya sebesar 1,38 juta barel.
Lembaga Informasi Energi AS (EIA) bahkan mengeluarkan proyeksi yang lebih pesimis terkait konsumsi energi. Mereka memperkirakan permintaan minyak dunia justru akan menyusut sekitar 420 ribu barel per hari.
Analis dari Crisil menyebutkan bahwa kondisi makroekonomi yang lemah menjadi penghambat utama pertumbuhan konsumsi. Harga yang tinggi dan penurunan proyeksi PDB global secara otomatis memperlambat laju permintaan pasar.
Meskipun ada potensi kenaikan produksi dari anggota OPEC+ pada awal Juni, dampaknya dinilai tidak akan signifikan. Masalah utama saat ini bukanlah pada kuota produksi, melainkan keterbatasan fisik untuk mengirimkan minyak melalui Selat Hormuz.