PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Gas, tengah bersiap melebarkan sayap bisnis ke sektor energi bersih. Perusahaan plat merah ini berencana membangun pabrik hidrogen berbasis gas alam dengan nilai investasi yang cukup signifikan.
Proyek ambisius ini diperkirakan menelan biaya hingga US$16,31 juta, atau setara dengan Rp277,3 miliar apabila mengacu pada kurs Rp17.000 per dolar AS. Langkah strategis tersebut merupakan bagian dari upaya korporasi untuk memperkuat portofolio bisnis di bidang energi masa depan.
Strategi Teknologi dan Target Pasar Hidrogen
Dalam rencana pengembangannya, fasilitas produksi hidrogen ini akan mengandalkan teknologi Steam Methane Reforming (SMR). Teknologi tersebut dipilih karena efektivitasnya dalam mengolah gas alam menjadi hidrogen yang berkualitas tinggi.
Fokus utama dari pemasaran produk hidrogen ini nantinya adalah menyasar kebutuhan sektor industri oleokimia. Manajemen PGN melihat adanya potensi konsumsi yang stabil dan berkelanjutan dari industri tersebut untuk operasional mereka.
Selain menyasar industri manufaktur, hidrogen yang dihasilkan juga diproyeksikan untuk mendukung inisiatif energi hijau nasional. Salah satu sasarannya adalah pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Pemerintah sendiri telah menetapkan target ambisius agar penggunaan campuran bahan bakar nabati atau SAF bisa mencapai 1% pada tahun 2027 mendatang. Kehadiran pabrik hidrogen milik PGN grup ini diharapkan mampu menjadi katalisator bagi tercapainya target energi bersih tersebut.
Pihak manajemen PGAS menjelaskan melalui keterbukaan informasi bahwa penggunaan gas alam sebagai bahan baku utama merupakan langkah transisi yang tepat. "Saat ini hydrogen plant yang dibangun menggunakan bahan baku gas alam dan teknologi Steam Methane Reforming dengan target utama konsumen adalah industri oleokimia," ungkap manajemen pada Rabu (13/5/2026).
Persetujuan RUPS dan Detail Operasional
Rencana ekspansi ini tidak bisa dijalankan begitu saja tanpa adanya persetujuan dari para pemegang saham perusahaan. Manajemen telah menjadwalkan agenda tersebut dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang akan digelar pada 22 Mei 2026.
Agenda utama dalam rapat tersebut adalah meminta restu untuk penambahan kegiatan usaha pada anak perusahaan. Hal ini secara teknis berkaitan dengan izin KBLI 20112 yang mencakup industri gas industri untuk memayungi bisnis baru ini.
Pembangunan pabrik hidrogen ini akan dikelola secara mandiri oleh anak usaha tanpa perlu membentuk perusahaan patungan atau entitas baru. Keputusan ini diambil untuk menjaga efisiensi koordinasi dan kendali operasional langsung di bawah grup PGN.
Dari sisi finansial, seluruh pendanaan yang dibutuhkan untuk investasi sebesar Rp277,3 miliar tersebut akan diambil dari kas internal. Dengan kata lain, anak usaha PGAS akan memanfaatkan kekuatan modal sendiri tanpa bergantung pada pinjaman eksternal.
Lokasi pembangunan fasilitas ini direncanakan berada di dalam kawasan berikat yang dikelola oleh penyedia kawasan industri profesional. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan kemudahan logistik serta fasilitas pendukung yang sudah tersedia di area tersebut.
Saat ini, proses penyusunan perjanjian pemanfaatan lahan sedang dilakukan oleh pihak anak usaha. Kontrak penggunaan lahan tersebut akan disesuaikan dengan perkiraan jangka waktu operasional proyek hidrogen ini ke depannya.
Keunggulan Kompetitif dan Proyeksi Pendapatan
Manajemen PGAS merasa optimis bahwa pasar hidrogen di Indonesia masih menyimpan potensi pertumbuhan yang sangat besar. Kebutuhan industri yang bersifat rutin serta tren transisi energi global diprediksi akan mengerek permintaan hidrogen secara bertahap.
Ada beberapa poin yang menjadi kekuatan utama grup PGN dalam memenangkan persaingan di pasar energi baru ini:
- Kemampuan operasional grup yang sudah teruji dalam mengelola infrastruktur gas berskala besar.
- Jaringan layanan yang luas dan dekat dengan pusat-pusat industri strategis di tanah air.
- Keunggulan sistem logistik yang efisien untuk menjamin kelancaran distribusi produk ke pelanggan.
- Jaminan keandalan pasokan gas alam sebagai bahan baku utama produksi hidrogen.
Strategi pemasaran awal akan diprioritaskan kepada pelanggan industri non-captive dengan skema anchor customer. Pelanggan utama ini akan bertindak sebagai basis permintaan dasar guna menjamin keberlangsungan operasional pabrik sejak awal.
Setelah kebutuhan pelanggan utama terpenuhi, perusahaan berencana memanfaatkan sisa kapasitas produksi untuk dijual kepada industri lain di sekitar pabrik. Langkah ini diharapkan mampu memaksimalkan utilitas fasilitas dan meningkatkan margin keuntungan perusahaan.
Perusahaan juga telah merilis simulasi dampak bisnis dari kehadiran pabrik hidrogen ini terhadap kinerja keuangan grup di masa depan. Tanpa proyek ini, pendapatan perseroan pada tahun 2030 diprediksi mencapai angka US$6,807 miliar.
Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan tahunan majemuk atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 9,86% untuk periode 2026 hingga 2030. Namun, angka ini dipastikan akan meningkat jika proyek hidrogen resmi beroperasi secara komersial.
Berikut adalah ringkasan perbandingan proyeksi pendapatan perusahaan dengan adanya tambahan kegiatan usaha baru tersebut:
| Kategori Proyeksi | Tanpa Pabrik Hidrogen | Dengan Pabrik Hidrogen |
|---|---|---|
| Pendapatan Tahun 2030 | US$6,807 Miliar | US$6,812 Miliar |
| Pertumbuhan (CAGR) | 9,86% | 9,88% |
| Target Utama | Bisnis Gas Eksisting | Oleokimia & Energi Hijau |
Berdasarkan tabel di atas, terlihat adanya peningkatan proyeksi pendapatan menjadi US$6,812 miliar pada akhir dekade ini. Meski peningkatannya terlihat tipis di awal, namun langkah ini dianggap krusial bagi keberlanjutan bisnis jangka panjang di tengah tren dekarbonisasi.
Secara keseluruhan, ekspansi ini menunjukkan kesiapan PGN dalam menghadapi dinamika pasar energi dunia yang mulai meninggalkan bahan bakar fosil murni. Investasi ini bukan hanya soal keuntungan finansial, tetapi juga mengenai posisi strategis perusahaan dalam ekosistem energi nasional.