Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan yang cukup signifikan pada perdagangan sesi pertama, Rabu (13/5/2026). Sentimen negatif ini muncul setelah pengumuman hasil tinjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang merombak komposisi saham globalnya.
Kabar tersebut memicu investor asing untuk melakukan aksi jual bersih atau net sell dengan nilai yang cukup fantastis. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, aliran dana asing yang keluar dari pasar saham domestik mencapai Rp1,1 triliun di seluruh pasar.
Angka ini berasal dari nilai penjualan investor asing yang menyentuh Rp3,6 triliun, sementara nilai pembeliannya hanya berada di angka Rp2,5 triliun. Kondisi ini secara langsung memberikan dampak negatif terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siang ini.
IHSG terpantau anjlok lebih dari 1% setelah pasar memberikan respons negatif terhadap didepaknya beberapa saham unggulan Indonesia dari indeks global MSCI. Pada penutupan sesi I, indeks domestik merosot tajam 124,36 poin atau sekitar 1,81% ke posisi 6.734,54.
Daftar Saham yang Menjadi Incaran Asing
Meskipun tekanan jual sedang melanda pasar secara luas, beberapa saham terpantau masih menjadi primadona dan dikoleksi oleh pemodal luar negeri. Investor asing tetap melihat adanya peluang pada sejumlah emiten di tengah volatilitas pasar yang sedang tinggi.
Berikut adalah daftar saham dengan nilai beli bersih terbesar oleh investor asing pada perdagangan sesi pertama:
- PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK): Menempati posisi teratas dengan nilai beli sekitar Rp31,9 miliar dari total transaksi 102,2 juta saham.
- PT Timah Tbk (TINS): Mencatatkan nilai pembelian bersih sebesar Rp19,7 miliar dengan volume perdagangan mencapai 5,5 juta saham.
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Masih menjadi favorit dengan nilai akumulasi mencapai Rp14,8 miliar dari transaksi 5 juta saham.
- PT Rukun Raharja Tbk (RAJA): Mengantongi nilai beli Rp11 miliar seiring dengan sentimen rencana aksi korporasi berupa pemecahan nilai saham atau stock split.
- PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL): Berhasil menarik minat asing dengan nilai pembelian Rp10 miliar dari volume 21,2 juta saham.
- PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN): Mencatatkan akumulasi dari investor mancanegara sebesar Rp7,9 miliar.
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS): Membukukan estimasi pembelian oleh pemodal asing senilai Rp6,7 miliar.
- PT Gudang Garam Tbk (GGRM): Emiten rokok ini juga masuk dalam jajaran saham yang diburu dengan nilai sekitar Rp3,6 miliar.
- PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN): Mencatatkan total akumulasi pembelian dari pihak asing sebesar Rp3,5 miliar.
- PT Asia Pramulia Tbk: Menutup daftar sepuluh besar saham yang dikoleksi dengan nilai pembelian senilai Rp3,3 miliar.
Data di atas menunjukkan bahwa aliran dana masuk masih terjadi pada sektor-sektor tertentu, mulai dari infrastruktur hingga komoditas tambang. Hal ini mencerminkan adanya diversifikasi strategi investor asing meskipun tren pasar secara umum sedang mengalami pelemahan.
Daftar Saham yang Paling Banyak Dilepas
Di sisi lain, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar dan beberapa emiten konglomerasi justru menjadi sasaran utama aksi jual. Pelepasan aset ini menjadi pemicu utama merosotnya indeks pada pertengahan hari perdagangan ini.
Berikut adalah rincian emiten yang mencatatkan nilai jual bersih atau net sell terbesar oleh asing:
| Nama Emiten | Kode Saham | Estimasi Nilai Jual Asing |
|---|---|---|
| Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | BBRI | Rp196,7 Miliar |
| Amman Mineral Internasional Tbk | AMMN | Rp89,7 Miliar |
| Bank Mandiri (Persero) Tbk | BMRI | Rp63,5 Miliar |
| Petrindo Jaya Kreasi Tbk | CUAN | Rp53,2 Miliar |
| Barito Pacific Tbk | BRPT | Rp52,1 Miliar |
| Bank Central Asia Tbk | BBCA | Rp52,0 Miliar |
| Aneka Tambang Tbk | ANTM | Rp43,8 Miliar |
| Bakrie & Brothers Tbk | BNBR | Rp37,5 Miliar |
| Dian Swastatika Sentosa Tbk | DSSA | Rp30,8 Miliar |
| Mitra Adiperkasa Tbk | MAPI | Rp28,6 Miliar |
Data tersebut memperlihatkan tekanan jual yang merata pada sektor perbankan raksasa dan perusahaan-perusahaan di bawah naungan grup konglomerat besar. Nilai transaksi yang signifikan ini menjadi beban berat bagi pergerakan harga saham emiten bersangkutan di lantai bursa.
Kondisi Pasar dan Prediksi Dampak MSCI
Hingga akhir perdagangan sesi pertama, mayoritas instrumen saham di bursa domestik tercatat mengalami penurunan harga yang cukup dalam. Tercatat ada 398 saham yang melemah, berbanding terbalik dengan 262 saham yang menguat, sementara 150 saham lainnya jalan di tempat.
Nilai transaksi perdagangan secara keseluruhan mencapai Rp10,28 triliun dengan volume transaksi sebesar 26,13 miliar saham. Aktivitas pasar ini tergolong sangat aktif dengan frekuensi transaksi yang menembus hingga 1,47 juta kali.
Hampir seluruh sektor perdagangan berada di zona merah, di mana sektor infrastruktur, barang baku, teknologi, dan energi mencatat koreksi paling tajam. Sebaliknya, hanya sektor industri yang mampu bertahan dan mencatatkan penguatan di tengah kondisi pasar yang kurang kondusif.
CGS International Sekuritas Indonesia sebelumnya memproyeksikan bahwa perubahan komposisi atau rebalancing indeks MSCI ini bisa memicu aliran modal keluar. Diperkirakan outflow pasif dapat menyentuh angka US$1,8 miliar atau setara dengan Rp31,49 triliun.
Perlu dicatat bahwa seluruh perubahan dalam indeks MSCI ini baru akan mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026. Meski ada tekanan, terdapat kabar positif karena MSCI tetap mempertahankan posisi Indonesia dalam kelompok emerging markets.
Sebelumnya, sempat muncul kekhawatiran mengenai penurunan status atau reklasifikasi posisi Indonesia menjadi frontier markets. Namun, dalam pengumuman resmi di Amerika Serikat, Indonesia dipastikan tetap berada di daftar emerging markets bersama negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina.