Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa parkir di zona merah pada penutupan perdagangan Kamis (4/6). Indeks saham domestik ini terkoreksi cukup tajam sebesar 1,70 persen ke posisi 5.839,79.
Sepanjang hari, pergerakan indeks bahkan sempat menyentuh titik terendah di level 5.644,23. Aktivitas perdagangan terpantau sangat dinamis dengan total nilai transaksi mencapai Rp25,54 triliun dari 39,68 miliar saham yang diperdagangkan.
Kondisi pasar didominasi oleh tren negatif yang menjangkiti sebagian besar emiten di Bursa Efek Indonesia. Tercatat ada 623 saham yang harganya merosot, sementara hanya 106 saham yang berhasil naik dan 85 saham lainnya tidak bergerak.
Seluruh indeks sektoral juga tak mampu bertahan dari tekanan jual yang terjadi secara masif. Sektor industri menjadi yang paling terpuruk dengan kejatuhan 4,07 persen, disusul sektor properti yang melemah 3,28 persen.
Tekanan pada Saham Berkapitalisasi Besar
Pelemahan ini turut menyeret sejumlah saham unggulan atau big caps yang biasanya menjadi penopang pasar. Saham-saham papan atas mengalami koreksi harga yang cukup signifikan di tengah sentimen negatif global maupun domestik.
Beberapa saham berkapitalisasi besar yang mengalami penurunan harga adalah sebagai berikut:- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Harga saham terkoreksi sebesar 1,81 persen.
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Mengalami penurunan tajam hingga 3,85 persen.
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII): Melemah tipis sebesar 0,18 persen pada penutupan.
Penurunan harga pada saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo ini memberikan dampak langsung terhadap kejatuhan indeks secara keseluruhan. Investor terlihat cenderung melakukan aksi jual untuk mengamankan posisi mereka.
Analis dari Phintraco Sekuritas mengungkapkan bahwa tekanan jual sebenarnya sudah terasa sejak awal pekan. Minimnya kepercayaan investor diperburuk dengan berbagai rumor serta ketidakpastian ekonomi di dalam negeri.
Sentimen Global dan Kenaikan Harga Minyak
Kondisi pasar modal Indonesia tidak terlepas dari pengaruh situasi geopolitik internasional yang memanas. Sebagian besar bursa di kawasan Asia juga terpantau bergerak di zona merah akibat konflik global.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Situasi ini menimbulkan kecemasan di kalangan pelaku pasar mengenai potensi lonjakan inflasi global.
Analisis pasar menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap inflasi membuat investor lebih berhati-hati dalam menaruh modalnya di instrumen berisiko. Hal ini secara otomatis menekan arus modal masuk ke pasar saham berkembang, termasuk Indonesia.
Nilai Tukar Rupiah Terpuruk di Asia
Kondisi IHSG semakin diperberat dengan performa nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS. Mata uang Garuda harus rela terdepresiasi sebesar 0,46 persen ke angka Rp18.049 menurut data Bloomberg.
Pelemahan ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan pasar berkembang Asia Pasifik. Berikut adalah perbandingan pergerakan mata uang di kawasan tersebut terhadap dolar AS:
| Mata Uang | Perubahan Nilai | Status |
|---|---|---|
| Rupiah Indonesia | -0,46% | Melemah |
| Ringgit Malaysia | -0,36% | Melemah |
| Rupee India | -0,09% | Melemah |
| Baht Thailand | +0,24% | Menguat |
| Peso Filipina | +0,20% | Menguat |
| Yuan China | +0,06% | Menguat |
Tabel di atas menunjukkan kontrasnya pergerakan rupiah dibandingkan dengan beberapa mata uang tetangga yang justru menguat. Tekanan pada rupiah diprediksi masih akan berlanjut selama sentimen dolar AS tetap kuat.
Meskipun kondisi pasar sedang lesu, beberapa emiten tetap menunjukkan performa laporan keuangan yang solid. Salah satunya adalah MIDI yang dilaporkan meningkatkan pembagian dividen hingga 61 persen menyusul lonjakan laba bersih perusahaan.