Pekan ini, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 1 tahun naik tajam melampaui 7%, tepatnya di angka 7,09%. Ini adalah posisi tertinggi sejak tahun 2018 dan melewati tenor 10 tahun yang berada di sekitar 6,69%. Kondisi ini menunjukkan terjadinya kurva imbal hasil terbalik atau inverted yield curve.
Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menyatakan bahwa fenomena kurva imbal hasil terbalik mencerminkan tekanan pasar jangka pendek yang serius. "Biasanya, dalam kondisi normal, imbal hasil tenor panjang lebih tinggi dibandingkan tenor pendek karena investor mengharapkan kompensasi waktu dan risiko yang lebih besar," ujarnya.
Menurut Josua, jika kurva terbalik terjadi, ini menandakan kekhawatiran pasar terhadap risiko jangka pendek. Kekhawatiran ini meliputi kebutuhan likuiditas, arah BI Rate, risiko arus modal keluar, serta keharusan pemerintah menerbitkan SBN di tengah situasi pasar yang rapuh.
Meskipun demikian, Josua menekankan bahwa di Indonesia, kurva terbalik tidak bisa serta merta diartikan sebagai pertanda resesi seperti di Amerika Serikat. Namun, ini tetap menjadi sinyal bahwa pasar menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk tenor pendek dan lebih condong ke instrumen yang sangat likuid.
Artikel Terkait
- Kurva Yield SUN Terbalik, Waspadai Perlambatan Ekonomi Market | 1 hari yang lalu
- Ekonom Ramal Neraca Dagang Indonesia Turun Jadi US$1,43 Miliar Market | 3 hari yang lalu
- Ekonom: Stimulus Transportasi Tak Banyak Ubah Konsumsi Nasional Market | 3 hari yang lalu
- Pasar Soroti Kurva Imbal Hasil Obligasi RI Terlalu Datar Market | 4 hari yang lalu
- Rusia Mulai Tawarkan Obligasi Yuan Usai Kunjungan Putin ke China Market | 28 May 2026 16:30
Kondisi kurva imbal hasil terbalik ini menuntut perhatian lebih terhadap arah kebijakan moneter dan fiskal. Dalam situasi seperti ini, langkah yang diambil pihak berwenang sangat menentukan kestabilan pasar ke depannya.