OECD: Krisis Energi Teluk Ancam Ekonomi Global 2026, Risikonya Mengejutkan

OECD: Krisis Energi Teluk Ancam Ekonomi Global 2026, Risikonya Mengejutkan
Foto: OECD: Krisis Energi Teluk Ancam Ekonomi Global 2026, Risikonya Mengejutkan. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD memberikan peringatan serius mengenai ancaman stabilitas ekonomi global akibat eskalasi krisis energi di kawasan Teluk. Situasi ini dinilai berpotensi menyeret dunia ke dalam fase perlambatan ekonomi tajam yang dampaknya setara dengan krisis besar selama pandemi Covid-19.

Lembaga internasional tersebut menekankan bahwa gangguan yang terjadi pada pasokan energi kini menjadi risiko sistemik yang sangat berbahaya bagi perekonomian dunia. Jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera diredakan, dunia mungkin akan menghadapi skenario terburuk atau "dark scenario".

Kondisi suram tersebut ditandai dengan jatuhnya angka pertumbuhan ekonomi global secara bersamaan dengan lonjakan suku bunga di berbagai negara maju. OECD dalam laporan terbarunya menegaskan bahwa hambatan distribusi energi yang berlangsung lama akan mengacaukan stabilitas harga, rantai pasokan, serta kepercayaan pasar internasional.

Dampak Gangguan Energi Terhadap Pertumbuhan Global

Mengutip informasi dari Financial Times pada Kamis (4/6/2026), OECD memprediksi bahwa gangguan aliran energi yang berkepanjangan hingga paruh kedua tahun 2027 dapat berdampak fatal. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan menyusut menjadi 2,1 persen pada tahun ini dan merosot lebih jauh ke angka 1,8 persen pada tahun depan.

Kekhawatiran ini dipicu oleh meningkatnya suhu geopolitik, terutama setelah Iran meluncurkan serangan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait. Aksi tersebut merupakan respons balasan atas serangan yang sebelumnya dilakukan oleh pihak Amerika Serikat di wilayah Iran bagian selatan.

Sebenarnya, dalam skenario dasar yang disusun OECD, pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan berada di angka 2,8 persen untuk tahun ini. Angka tersebut sudah menunjukkan penurunan dibandingkan pertumbuhan pada tahun 2025 yang mencapai 3,4 persen.

Jika kondisi berhasil distabilkan, ekonomi diprediksi baru akan pulih ke level 3,1 persen pada tahun 2027 mendatang. Namun, selama gangguan energi terus berlanjut, fluktuasi harga akan tetap tinggi dan terus memberikan tekanan berat pada aktivitas produksi serta perdagangan global.

Kondisi Ekonomi di Berbagai Negara Maju

Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi utama diperkirakan akan mengalami perlambatan pertumbuhan hingga mencapai level 2 persen pada tahun ini. Pada saat yang sama, tingkat inflasi di sana diprediksi menyentuh 3,7 persen, jauh melampaui target aman yang ditetapkan Federal Reserve sebesar 2 persen.

Kondisi serupa juga membayangi Inggris yang mencatatkan tingkat inflasi pada level yang hampir sama dengan Amerika Serikat. Hal ini menempatkan Inggris sebagai salah satu negara dengan inflasi tertinggi di antara anggota kelompok G7.

Sementara itu, kawasan zona euro tidak luput dari dampak krisis dengan proyeksi perlambatan ekonomi dari 1,4 persen menjadi hanya 0,8 persen tahun ini. Harapannya, pertumbuhan di kawasan tersebut baru akan merangkak naik menuju angka 1,2 persen pada tahun 2027.

Di Irlandia, ketidakpastian global dan lonjakan harga energi berisiko memicu kontraksi ekonomi sebesar 1 persen pada tahun 2026. Meski demikian, permintaan domestik yang telah disesuaikan di negara tersebut diproyeksikan masih mampu tumbuh secara moderat.

Berikut adalah ringkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi beberapa wilayah menurut laporan OECD:

  • Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diprediksi melambat ke angka 2 persen dengan inflasi yang tetap tinggi.
  • Kawasan zona euro diperkirakan mengalami penurunan pertumbuhan dari 1,4 persen menjadi 0,8 persen tahun ini.
  • Ekonomi Inggris menghadapi tantangan inflasi yang menjadi salah satu yang paling tinggi di antara negara G7 lainnya.
  • Irlandia memiliki risiko kontraksi ekonomi sebesar 1 persen akibat beban harga energi dan ketidakstabilan global.

Data di atas menunjukkan betapa besarnya pengaruh ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap indikator ekonomi negara-negara kunci di dunia.

Respons Pemerintah dan Analisis Pakar

Menteri Keuangan Irlandia yang juga menjabat sebagai Tánaiste, Simon Harris, memberikan komentar terkait proyeksi yang dikeluarkan oleh OECD tersebut. Menurutnya, angka-angka tersebut mencerminkan betapa besarnya tekanan eksternal yang sedang dihadapi oleh struktur ekonomi global saat ini.

Simon Harris menyatakan bahwa analisis tersebut sejalan dengan penilaian pemerintah terhadap situasi internasional yang semakin penuh tantangan. Ia menegaskan pentingnya bagi setiap negara untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian.

Tabel Proyeksi Ekonomi Global Berdasarkan Skenario OECD:

Indikator Ekonomi Skenario Dasar (2026) Skenario Krisis Energi (2026) Proyeksi Tahun 2027
Pertumbuhan Global 2,8% 2,1% 1,8% (Jika Krisis Berlanjut)
Pertumbuhan AS 2,0% Di Bawah 2,0% Pemulihan Tergantung Inflasi
Pertumbuhan Zona Euro 0,8% Risiko Kontraksi 1,2%
Inflasi AS & Inggris 3,7% Potensi Meningkat Target Menuju 2%

Tabel ini memberikan gambaran mengenai perbedaan signifikan antara kondisi ekonomi normal dibandingkan dengan kondisi saat gangguan energi terus berlangsung hingga tahun depan.

OECD juga memberikan peringatan mengenai penurunan upah riil yang mengancam sekitar sepertiga negara anggotanya. Inflasi yang terus menetap pada level tinggi akan menyebabkan daya beli masyarakat melemah secara signifikan di berbagai belahan dunia.

Mathias Cormann, Sekretaris Jenderal OECD, mengungkapkan kekhawatirannya agar dunia tidak benar-benar masuk ke dalam skenario gangguan yang lama. Beliau menggambarkan situasi tersebut sebagai sebuah skenario yang sangat gelap bagi kemakmuran masyarakat global.

Senada dengan hal itu, Kepala Ekonom OECD Stefano Scarpetta mengingatkan adanya dampak jangka panjang dari guncangan sektor energi. Guncangan ini diperkirakan akan memberikan efek permanen pada kapasitas output potensial suatu negara di masa depan.

Lebih lanjut, Scarpetta menyoroti risiko terhadap pasar keuangan, kepercayaan para investor, hingga investasi di bidang teknologi strategis. Sektor kecerdasan buatan atau AI, yang saat ini menjadi primadona investasi, sangat bergantung pada ketersediaan energi yang stabil dan terjangkau.

Artikel terkait

Rekomendasi