Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mengawali perdagangan pada Rabu (3/6/2026) dengan tren positif. Indeks acuan utama di Jepang bahkan berhasil melesat hingga mencetak rekor tertinggi baru sepanjang sejarah.
Para investor di kawasan ini terlihat cenderung mengabaikan ketidakpastian yang muncul dari negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Padahal, dialog tersebut sangat krusial untuk mengakhiri konflik yang tengah berkecamuk di Timur Tengah.
Ketegangan di Selat Hormuz Masih Membayangi
Meskipun pasar saham menguat, kekhawatiran atas meningkatnya tensi antara Washington dan Teheran sebenarnya belum sepenuhnya mereda. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengungkapkan kekhawatiran serius mengenai keamanan jalur pelayaran internasional.
Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, Rubio menyebut Iran telah memasang ranjau di sebagian besar Selat Hormuz. Jalur tersebut sangat vital karena menjadi rute utama bagi kapal-kapal komersial dunia.
Pernyataan ini merupakan penampilan perdana Rubio di Kongres sejak pecahnya konflik dengan Iran pada akhir Februari lalu. Situasi di lapangan pun dilaporkan terus memanas seiring upaya perlindungan jalur perdagangan tersebut.
Pihak Gedung Putih mengonfirmasi kepada CNBC bahwa Pentagon telah mengambil langkah tegas dengan menghancurkan puluhan kapal penebar ranjau milik Iran. Sejumlah besar ranjau laut juga telah dibersihkan demi menjamin keamanan arus energi global.
Pentingnya peran strategis Selat Hormuz bagi ekonomi dunia:
- Menjadi jalur utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sebelum terjadinya konflik.
- Gangguan sekecil apa pun di area ini berisiko memicu lonjakan harga energi di tingkat internasional.
- Berperan sebagai urat nadi perdagangan global yang menghubungkan produsen energi utama dengan konsumen di berbagai belahan dunia.
Kondisi keamanan di selat ini terus dipantau ketat karena dampak ekonominya yang masif bagi banyak negara produsen maupun konsumen minyak.
Performa Indeks Saham Asia dan Global
Di pasar ekuitas, indeks Nikkei 225 Jepang mencuri perhatian dengan melonjak sebesar 0,91 persen ke level tertinggi barunya. Senada dengan itu, indeks Topix juga membukukan kenaikan sebesar 0,93 persen pada pembukaan perdagangan.
Australia juga mencatatkan kinerja positif melalui indeks S&P/ASX 200 yang naik tipis 0,32 persen. Namun, tren berbeda justru terlihat pada kontrak berjangka indeks Hang Seng di Hong Kong.
Berikut adalah ringkasan pergerakan pasar saham utama di wilayah Asia:
| Indeks Saham | Pergerakan / Level | Keterangan |
|---|---|---|
| Nikkei 225 (Jepang) | +0,91% | Rekor tertinggi baru sepanjang sejarah |
| Topix (Jepang) | +0,93% | Menguat selaras dengan Nikkei |
| S&P/ASX 200 (Australia) | +0,32% | Dibuka di zona hijau |
| Hang Seng Futures (Hong Kong) | 25.853 | Melemah dari penutupan sebelumnya |
Data di atas menunjukkan bahwa fokus perdagangan di Asia saat ini terpusat pada Jepang dan Australia. Sementara itu, bursa saham Korea Selatan sedang berhenti beroperasi sementara karena adanya libur nasional di negara tersebut.
Harga Komoditas dan Sentimen Wall Street
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah terus merangkak naik akibat kekhawatiran akan terganggunya rantai pasokan. Kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,16 persen ke angka US$94,92 per barel, sedangkan Brent berada di kisaran US$96 per barel.
Sementara itu di Amerika Serikat, kontrak berjangka untuk indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq 100 terpantau bergerak datar. Investor di Wall Street tampaknya masih mencerna capaian rekor yang baru saja diraih pada sesi perdagangan sebelumnya.
Pada penutupan Selasa, indeks S&P 500 mencetak sejarah dengan berakhir di atas level 7.600 untuk pertama kalinya. Dow Jones juga menguat cukup signifikan sebesar 0,45 persen, meskipun Nasdaq Composite hanya mengalami kenaikan yang sangat tipis.