Menjelang perayaan Idul Adha, Mazen al-Jerjawi biasanya sibuk mengurus ratusan hewan ternak miliknya. Sebagai salah satu peternak terkemuka di Gaza, ia terbiasa melayani permintaan kurban yang melonjak setiap tahunnya.
Kini kondisi berubah drastis bagi Jerjawi yang terpaksa beralih profesi dengan mengelola restoran kecil. Ia hanya bisa mengandalkan daging beku karena pembatasan ketat yang diterapkan Israel di wilayah tersebut.
Kepada Middle East Eye pada Senin (24/5/2026), Jerjawi mengungkapkan kesedihannya atas kondisi saat ini. Dulu ia mampu menjual sekitar 200 ekor domba dan sapi, namun sekarang ia tidak memiliki satu pun hewan ternak.
Ia menjelaskan bahwa saat ini tidak ada hewan hidup yang diizinkan masuk ke wilayah Gaza. Menurutnya, kebijakan tersebut membuat warga Gaza seolah hanya diizinkan bertahan hidup pada tingkat yang paling minimal.
Kehancuran Total Sektor Peternakan Gaza
Sebelum konflik pecah, Gaza secara rutin mengimpor puluhan ribu domba dan anak sapi setiap tahunnya. Tercatat sekitar 40.000 hingga 60.000 ekor didatangkan untuk memenuhi kebutuhan ibadah kurban warga setempat.
Namun, tahun ini menjadi tahun ketiga warga Palestina di Gaza tidak bisa menjalankan tradisi Idul Adha tersebut. Hal ini merupakan dampak langsung dari blokade dan gempuran militer yang terus melumpuhkan wilayah mereka.
Data dari Kamar Dagang dan Industri Gaza menunjukkan kerusakan yang sangat parah di sektor ini. Serangan udara dan rusaknya infrastruktur telah menghancurkan lebih dari 90 persen sektor peternakan.
Selain kerusakan fisik, kelangkaan pakan ternak juga menjadi penyebab utama ambruknya ekosistem peternakan. Kondisi ini memicu lonjakan harga hewan kurban yang tidak masuk akal bagi warga setempat.
Lonjakan Harga Ternak yang Ekstrem
Krisis ketersediaan ternak mengakibatkan harga jual domba meroket jauh dari harga normal. Jerjawi bahkan memutuskan berhenti berjualan karena populasi ternak yang tersisa sudah sangat langka.
Berikut adalah perbandingan harga hewan ternak di Gaza sebelum dan sesudah krisis berlangsung:
| Kategori | Harga Sebelum Perang | Harga Saat Ini |
|---|---|---|
| Harga Domba (USD) | 500 - 600 Dollar AS | Hingga 7.000 Dollar AS |
| Harga Domba (Rupiah) | Rp 8,9 juta - Rp 10,6 juta | Sekitar Rp 124 juta |
Tabel di atas menunjukkan kenaikan harga yang sangat fantastis akibat kelangkaan stok hewan kurban. Hal ini membuat pembelian hewan ternak hidup menjadi beban finansial yang hampir mustahil bagi penduduk Gaza.
Meskipun banyak warga Palestina di luar negeri ingin berkurban untuk kerabat di Gaza, Jerjawi menyarankan untuk tidak melakukannya. Ia menilai harga satu ekor domba saat ini sudah sangat tidak rasional.
Ia memberi saran agar mereka lebih memilih membeli puluhan kilogram daging beku daripada menghabiskan uang untuk satu ekor domba. Menurutnya, uang sejumlah 20.000 shekel atau Rp 124 juta bahkan cukup untuk membiayai sebuah pernikahan.
Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) turut memperkuat gambaran kelam di wilayah tersebut. Hingga November lalu, tercatat 80 persen populasi domba di Gaza telah mati akibat perang.
Kondisi serupa dialami oleh ternak kambing yang mencatatkan tingkat kematian mencapai 70 persen. Hal ini menegaskan bahwa sektor ketahanan pangan hewani di Gaza berada di ambang kehancuran total.