Meski Diancam Bom oleh Trump, Oman Tetap Teguh Tak Mau Putus Hubungan dengan Iran: Fakta Mengejutkan 2026

Meski Diancam Bom oleh Trump, Oman Tetap Teguh Tak Mau Putus Hubungan dengan Iran: Fakta Mengejutkan 2026
Foto: Meski Diancam Bom oleh Trump, Oman Tetap Teguh Tak Mau Putus Hubungan dengan Iran: Fakta Mengejutkan 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kesultanan Oman secara tegas menolak tekanan diplomatik dari Amerika Serikat (AS) yang mendesak pemutusan hubungan dengan Iran. Muskat menegaskan bahwa komunikasi dengan Teheran hanya berfokus pada pembahasan sistem pengelolaan Selat Hormuz di masa depan agar selaras dengan hukum internasional.

Sebagai negara yang berbagi wilayah di Selat Hormuz, Oman memiliki peran strategis sebagai penengah netral di kawasan Teluk. Namun, posisi ini kini menjadi sasaran kritik tajam dari pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Ketegangan Diplomatik dengan Amerika Serikat

Hubungan kedua negara semakin memanas setelah Presiden Trump melontarkan ancaman serangan militer terhadap Oman secara mendadak. Pernyataan spontan tersebut menambah beban diplomatik bagi Oman yang selama ini dikenal sebagai mediator jalur belakang.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, turut memperkuat kecurigaan Washington saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat. Ia menyebut Oman sebagai satu-satunya negara yang tampak memberikan dukungan terhadap aktivitas Iran di wilayah selat tersebut.

Kecurigaan Amerika Serikat sebenarnya telah muncul sejak Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, tampil di media televisi AS. Saat itu, ia meminta perpanjangan waktu untuk negosiasi yang sedang diupayakan Oman sesaat sebelum konflik Israel-AS meletus.

Merespons situasi panas tersebut, Duta Besar Oman untuk AS, Talal bin Suleiman al-Rahbi, langsung bergerak melakukan lobi diplomatik. Ia menemui pihak Kementerian Luar Negeri dan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, untuk memberikan klarifikasi resmi.

Al-Rahbi menegaskan bahwa Muskat tidak menyetujui sistem tarif tol di Selat Hormuz dan tetap memegang teguh prinsip kebebasan navigasi internasional. Pernyataan ini bertujuan meredam kekhawatiran Washington mengenai potensi hambatan perdagangan di jalur vital tersebut.

Klarifikasi Oman Terkait Isu Tarif Tol

Pemerintah Oman membantah tudingan adanya rencana rahasia untuk memberlakukan biaya lintas kapal di Selat Hormuz. Meski ada beberapa politisi lokal yang sempat melirik ide biaya layanan spesifik, rencana tarif tol secara sistematis dipastikan tidak ada.

Selama periode konflik berlangsung, Oman mengklaim tetap aktif memberikan bantuan kepada kapal-kapal internasional, termasuk milik Amerika Serikat. Bantuan tersebut mencakup panduan navigasi darurat, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR), hingga layanan medis bagi kru kapal.

Di sisi lain, Iran menyatakan niatnya untuk memulihkan arus pelayaran ke kondisi normal dalam waktu satu bulan. Hal ini menjadi bagian dari draf kesepakatan untuk membuka kembali akses Selat Hormuz secara penuh.

Namun, Iran telah membentuk Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) yang mewajibkan setiap kapal melintas untuk mengajukan izin terlebih dahulu. Langkah ini langsung direspons tegas oleh AS dengan menjatuhkan sanksi melalui Kementerian Keuangan terhadap badan bentukan Iran tersebut.

Argumen Iran Mengenai Biaya Lingkungan

Untuk menyiasati aturan hukum internasional, Iran mengusulkan skema biaya non-diskriminatif bagi seluruh kapal yang melewati Selat Hormuz. Iran berdalih bahwa pungutan ini bertujuan sebagai dana kompensasi atas dampak kerusakan ekosistem laut di wilayah tersebut.

Poin-poin dasar argumen yang disampaikan pihak Iran adalah sebagai berikut:

  • Kegiatan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk dianggap memberikan beban lingkungan yang sangat besar.
  • Prinsip hukum internasional "pencemar membayar" dijadikan dasar untuk menuntut biaya pemulihan ekosistem.
  • Biaya tersebut diklaim akan digunakan secara transparan untuk menangani kerusakan lingkungan akibat ketegangan geopolitik.
  • Pengelolaan dana dimaksudkan untuk menjaga stabilitas jalur maritim dalam jangka panjang.

Arman Khorsand dari Departemen Lingkungan Hidup Iran menjelaskan bahwa operasi militer AS tidak hanya berdampak pada keamanan manusia. Menurutnya, pihak yang bertanggung jawab atas aktivitas di wilayah tersebut harus memikul beban biaya pemulihan lingkungan secara adil.

Posisi Oman kini berada di titik yang sangat sulit karena terjepit di antara kepentingan keamanan AS dan tawaran kerjasama regional Iran. Sebagai negara kecil dengan lokasi geografis yang krusial, Oman terus berupaya menjaga keseimbangan demi stabilitas ekonomi dan keamanan global.

Ringkasan perbandingan posisi kebijakan antara Amerika Serikat, Oman, dan Iran terkait Selat Hormuz:

Aspek Kebijakan Amerika Serikat Kesultanan Oman Republik Islam Iran
Status Navigasi Bebas tanpa syarat Bebas sesuai hukum Wajib izin PGSA
Sistem Pungutan Menolak keras Menolak tarif tol Usulan biaya lingkungan
Peran Regional Penjamin keamanan Mediator netral Pengelola utama selat

Tabel di atas menunjukkan perbedaan visi yang tajam antara ketiga pihak dalam mengelola salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia. Hingga saat ini, Oman masih berupaya memastikan bahwa Selat Hormuz tetap dapat dilalui tanpa memicu eskalasi konflik yang lebih luas.

Artikel terkait

Rekomendasi