Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dollar AS, Media Asing Soroti Dampak Mengejutkan di 2026

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dollar AS, Media Asing Soroti Dampak Mengejutkan di 2026
Foto: Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dollar AS, Media Asing Soroti Dampak Mengejutkan di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus mengalami tekanan berat hingga berhasil menembus angka psikologis baru di level Rp 18.000. Kondisi ini menarik perhatian luas dari berbagai media internasional yang menyoroti kerentanan ekonomi Indonesia saat ini.

Pelemahan ini dipicu oleh tingginya volatilitas harga minyak dunia sebagai dampak konflik di Iran serta ketidakpastian ekonomi global. Berikut adalah rangkuman pandangan dari media asing seperti AFP, Bloomberg, dan The Straits Times mengenai jatuhnya nilai tukar rupiah.

Sorotan AFP terhadap Impor Minyak dan Defisit Dagang

Kantor berita AFP melaporkan bahwa rupiah sempat menyentuh posisi Rp 18.028 per dollar AS meski Bank Indonesia (BI) sudah melakukan intervensi pasar. Media asal Perancis ini menilai lonjakan harga minyak mentah akibat perang di Iran menjadi faktor utama yang membebani rupiah.

Indonesia saat ini berstatus sebagai negara importir bersih atau net importer minyak, sehingga kenaikan harga energi global langsung memukul ketahanan ekonomi nasional. Masalah ini diperparah dengan menyusutnya surplus perdagangan yang turun drastis dari 3,3 miliar dollar AS menjadi hanya 89 juta dollar AS pada April.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa angka 18.000 merupakan level psikologis yang sangat krusial bagi para investor. Menurutnya, permintaan dollar AS tetap tinggi untuk membiayai impor energi di saat pasokan dollar dari sektor perdagangan sedang menipis.

Penyebab utama tingginya permintaan dollar AS menurut Josua Pardede:

  • Kebutuhan besar untuk impor energi dan bahan baku industri.
  • Pembayaran dividen serta cicilan utang luar negeri oleh korporasi.
  • Adanya kebutuhan valuta asing yang bersifat musiman.
  • Menipisnya cadangan pasokan dollar akibat surplus perdagangan yang anjlok.

Josua menambahkan bahwa langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga dan melakukan intervensi saat ini belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan rupiah. Tekanan eksternal yang begitu masif membuat upaya pemulihan nilai tukar menjadi tantangan yang sangat besar bagi otoritas moneter.

Analisis Bloomberg Mengenai Performa Rupiah di Asia

Media ekonomi Bloomberg menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan performa terburuk di antara mata uang pasar berkembang global sepanjang tahun 2026. Tercatat rupiah telah terdepresiasi sekitar 7 persen, yang memimpin pelemahan mata uang di kawasan Asia.

Ringkasan data pelemahan rupiah menurut laporan Bloomberg:

Indikator Ekonomi Status / Kondisi
Depresiasi Rupiah 2026 Turun sekitar 7 persen
Peringkat Kinerja Terburuk di pasar berkembang global
Pemicu Eksternal Lonjakan harga minyak Brent
Cadangan Devisa Level terendah dalam dua tahun terakhir

Bloomberg menilai lonjakan harga minyak Brent menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keseimbangan fiskal serta ketahanan eksternal Indonesia. Selain itu, merosotnya cadangan devisa ke titik terendah dalam dua tahun terakhir semakin mempersempit ruang gerak pemerintah untuk menjaga stabilitas mata uang.

Kombinasi antara faktor global dan kondisi domestik yang menantang membuat posisi rupiah semakin terjepit. Para pelaku pasar internasional kini terus mengawasi langkah-langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi