Trump Sebut Netanyahu Gila, Ini Respons Mengejutkan PM Israel Terbaru 2026

Trump Sebut Netanyahu Gila, Ini Respons Mengejutkan PM Israel Terbaru 2026
Foto: Trump Sebut Netanyahu Gila, Ini Respons Mengejutkan PM Israel Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengakui telah melontarkan kata-kata kasar terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Dalam sebuah percakapan telepon, Trump kedapatan menyebut pemimpin Israel tersebut "gila" akibat ketegangan terkait konflik di Lebanon.

Kekesalan Trump dipicu oleh tindakan militer Israel yang terus menyerang Lebanon di tengah upaya Amerika Serikat menegosiasikan perdamaian dengan Iran. Kabar mengenai umpatan tersebut awalnya muncul melalui laporan media Axios dan kini telah dikonfirmasi langsung oleh sang presiden.

Melalui wawancara dalam siniar "Pod Force One" yang disiarkan pada Rabu (3/6/2026), Trump mengakui kebenaran laporan tersebut. "Ya, saya melakukannya," ujar Trump singkat saat menanggapi pertanyaan mengenai kata-kata keras yang ditujukan kepada Netanyahu.

Trump menjelaskan bahwa reaksinya lebih didasari oleh rasa terganggu daripada kemarahan besar. Ia merasa tindakan Netanyahu yang terus mengobarkan perang dengan Lebanon sangat menghambat agenda diplomasi Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Detail Ketegangan dalam Telepon

Berdasarkan laporan yang beredar, percakapan panas tersebut terjadi pada Senin (1/6/2026). Seorang pejabat Amerika Serikat yang identitasnya dirahasiakan mengungkap bahwa Trump melontarkan kalimat yang cukup provokatif kepada Netanyahu.

Berikut adalah poin-poin pernyataan keras yang diduga disampaikan Trump dalam sambungan telepon tersebut:

  • Menyebut Netanyahu benar-benar gila karena terus melanjutkan eskalasi militer.
  • Mengklaim bahwa Netanyahu akan berada di penjara jika bukan karena bantuan politik dari dirinya.
  • Menegaskan bahwa dirinya telah menyelamatkan posisi Netanyahu di masa lalu.
  • Menyatakan bahwa citra Netanyahu dan Israel kini sedang sangat terpuruk di mata internasional.

Meski sempat terjadi ketegangan yang cukup hebat, Trump menyatakan bahwa hubungannya dengan Netanyahu saat ini masih berjalan baik. Ia mengeklaim bahwa perselisihan tersebut tidak memutus kerja sama strategis antara kedua negara.

Respons Benjamin Netanyahu

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sendiri memilih untuk bersikap tenang menanggapi bocornya isi percakapan tersebut ke publik. Saat diwawancarai oleh CNBC, ia enggan membeberkan detail pembicaraan pribadinya dengan sang Presiden AS.

Netanyahu mengibaratkan perselisihan tersebut sebagai dinamika yang wajar terjadi dalam sebuah keluarga. Menurutnya, perbedaan taktis merupakan hal yang lumrah dan tidak akan mengubah arah hubungan diplomatik kedua negara.

Ia bahkan memberikan pujian balik kepada Trump sebagai bentuk apresiasi atas dukungan masa lalu. Netanyahu menyebut Trump sebagai sahabat terbaik yang pernah dimiliki Israel selama memimpin di Gedung Putih.

Ringkasan perbandingan pandangan antara kedua pemimpin tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Aspek Perspektif Donald Trump Perspektif Benjamin Netanyahu
Konteks Masalah Serangan Israel ke Lebanon mengganggu negosiasi damai dengan Iran. Perselisihan hanya bersifat taktis dalam mencapai tujuan bersama.
Status Hubungan Merasa sedikit terganggu namun mengeklaim masih berjalan baik. Saling menghormati dan menganggap Trump sahabat terbaik Israel.
Gaya Komunikasi Blak-blakan dan sempat melontarkan umpatan keras. Diplomatis dan memilih tidak mengumbar detail percakapan.

Tabel di atas menunjukkan bagaimana kedua pemimpin mengelola konflik komunikasi mereka di tengah situasi politik yang sangat sensitif. Meski ada perbedaan gaya bicara, keduanya tetap berupaya menjaga kerangka kerja sama strategis.

Situasi ini terjadi di titik krusial bagi stabilitas Timur Tengah, mengingat Iran memberikan syarat yang berat bagi perdamaian. Pihak Teheran menegaskan tidak akan ada kesepakatan apa pun dengan AS selama gencatan senjata tidak mencakup wilayah Lebanon.

Kondisi ini menempatkan Amerika Serikat dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan kepentingan keamanan Israel dengan stabilitas kawasan yang lebih luas. Hingga kini, publik masih menanti apakah perselisihan verbal ini akan memengaruhi kebijakan luar negeri AS ke depannya.

Artikel terkait

Rekomendasi