Mengejutkan, 3 Kapal Tanker Matikan Transponder dan Tinggalkan Hormuz Diam-diam

Mengejutkan, 3 Kapal Tanker Matikan Transponder dan Tinggalkan Hormuz Diam-diam
Foto: Mengejutkan, 3 Kapal Tanker Matikan Transponder dan Tinggalkan Hormuz Diam-diam. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Tiga kapal tanker berukuran besar dilaporkan telah meninggalkan Selat Hormuz secara diam-diam dengan mematikan sistem pelacakan otomatis atau transponder mereka. Langkah ini diambil di tengah situasi krisis yang masih menyelimuti jalur pelayaran paling krusial di dunia tersebut.

Data pelacakan dari LSEG dan Kpler menunjukkan bahwa kapal-kapal tersebut kini tengah berlayar menuju pelabuhan di India dan China. Meski lalu lintas minyak dan gas alam cair (LNG) di wilayah Teluk masih sangat terbatas, pergerakan kapal ini menambah daftar tanker yang nekat melintas bulan ini.

Detail Kapal dan Rute Pelayaran

Salah satu kapal yang menjadi sorotan adalah Eagle Veracruz, sebuah supertanker kategori Very Large Crude Carrier (VLCC). Kapal ini mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah asal Arab Saudi yang telah dimuat sejak akhir Februari lalu.

Eagle Veracruz dijadwalkan bersandar di pelabuhan Quanzhou, Provinsi Fujian, China pada 16 Juni mendatang untuk memasok kilang minyak milik Sinochem. Menariknya, kapal ini sebelumnya termasuk dalam daftar armada yang sempat meminta izin khusus kepada Iran untuk dapat melintas dengan aman.

Selain itu, supertanker Nissos Keros juga terdeteksi telah keluar dari Selat Hormuz pada hari Selasa pekan ini. Kapal tersebut membawa 1,8 juta barel minyak mentah jenis Das dari Uni Emirat Arab dengan tujuan pelabuhan Visakhapatnam, India.

Berikut adalah rincian kapal yang terdeteksi melakukan perjalanan keluar dari kawasan konflik tersebut:

Daftar kapal tanker yang keluar dari Selat Hormuz:

  • Eagle Veracruz: Mengangkut 2 juta barel minyak mentah menuju pelabuhan Quanzhou, China.
  • Nissos Keros: Membawa 1,8 juta barel minyak mentah menuju kilang Hindustan Petroleum di India.
  • Hua Lin Wan: Kapal berbendera China yang membawa naphtha dari Kuwait menuju Guangdong.
  • Umm Al Ashtan: Kapal pengangkut LNG yang bergerak menuju arah timur menuju India.

Pergerakan kapal-kapal ini dilakukan dengan sangat hati-hati demi menghindari risiko keamanan selama perjalanan. Sebagian besar perusahaan pemilik kapal, termasuk AET Tankers dan ADNOC, memilih untuk tidak memberikan pernyataan resmi terkait posisi armada mereka.

Dampak Konflik Terhadap Pelayaran Global

Ketegangan bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari telah mengganggu stabilitas di Selat Hormuz secara signifikan. Padahal, jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang melayani sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG global.

Perbandingan kondisi lalu lintas pelayaran:

Kondisi Pelayaran Jumlah Lintasan per Hari Status Keamanan
Sebelum Konflik 125 - 140 Kapal Normal dan Terbuka
Pasca Konflik (Saat Ini) Sangat Terbatas Berisiko Tinggi

Data di atas memperlihatkan penurunan drastis aktivitas pelayaran akibat perang yang berkecamuk di kawasan tersebut. Hal ini memaksa para operator kapal untuk mengambil rute berisiko atau mematikan alat navigasi agar tidak terdeteksi pihak yang bertikai.

Dampak kemanusiaan juga mulai terasa bagi para kru kapal yang bertugas di wilayah perairan Teluk. Diperkirakan terdapat sekitar 20.000 pelaut yang saat ini masih tertahan di atas ratusan kapal karena terjebak di tengah situasi konflik yang belum mereda.

Situasi ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas harga energi jika blokade atau gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut dalam waktu lama. Hingga saat ini, para pelaku pasar minyak masih memantau ketat setiap pergerakan tanker yang berhasil keluar dari zona merah tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi