PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) telah menyusun rencana strategis untuk memperkuat lini bisnisnya sepanjang tahun 2026. Perusahaan perunggasan ini secara resmi mengalokasikan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) dengan nilai yang cukup signifikan.
Direktur Malindo Feedmill, Rudy Hartono, mengungkapkan bahwa perseroan menyiapkan anggaran belanja modal di kisaran Rp700 miliar hingga Rp800 miliar. Dana tersebut direncanakan untuk mendukung berbagai proyek ekspansi perusahaan yang sedang berjalan maupun yang akan datang.
Fokus Penggunaan Dana Belanja Modal 2026
Prioritas utama dari penggunaan anggaran besar tersebut adalah untuk memperkuat infrastruktur produksi di wilayah Sumatera. Salah satu proyek mercusuar yang sedang digarap adalah pembangunan pabrik pakan ternak atau feedmill baru yang berlokasi di Lampung.
Pihak manajemen menargetkan agar fasilitas produksi di Lampung ini bisa segera beroperasi dalam waktu dekat. Proyek pembangunan ini diproyeksikan bakal mencapai tahap penyelesaian atau rampung pada kuartal III tahun 2026 mendatang.
Rincian alokasi anggaran belanja modal PT Malindo Feedmill Tbk. meliputi beberapa poin utama berikut ini:
- Pembangunan pabrik pakan ternak (feedmill) baru yang berlokasi strategis di Lampung.
- Pengembangan fasilitas breeding atau pembibitan untuk meningkatkan kapasitas produksi secara berkelanjutan.
- Ekspansi pada sektor peternakan ayam pedaging atau broiler guna memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh.
- Peremajaan serta pemeliharaan infrastruktur peternakan yang sudah ada untuk menjaga efisiensi operasional.
Hingga periode pertengahan tahun ini, perusahaan melaporkan bahwa penyerapan dana belanja modal tersebut telah berjalan sesuai jalur. Realisasi penggunaan capex tercatat sudah menyentuh angka sekitar 30% dari total pagu anggaran yang disiapkan untuk tahun ini.
Dampak Positif Program Makan Bergizi Gratis
Selain fokus pada pembangunan infrastruktur, Malindo Feedmill juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang berpihak pada sektor pangan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi salah satu motor penggerak utama bagi industri perunggasan nasional di awal tahun 2026.
Rudy Hartono menjelaskan bahwa program tersebut memiliki peran krusial dalam menciptakan stabilitas ekosistem bisnis unggas. Dampaknya sangat terasa pada terciptanya keseimbangan yang lebih baik antara ketersediaan pasokan dan permintaan dari masyarakat.
Beberapa manfaat signifikan dari program pemerintah tersebut terhadap sektor perunggasan adalah:
- Menjaga kestabilan harga anak ayam usia sehari atau Day Old Chick (DOC) di tingkat peternak.
- Membuat harga ayam broiler di pasaran menjadi lebih kompetitif dan tidak fluktuatif secara ekstrem.
- Membantu keberlangsungan bisnis peternak UMKM serta mitra plasma yang bekerja sama dengan perseroan.
- Meningkatkan penyerapan produk protein hewani secara nasional melalui skema konsumsi yang teratur.
Menurut Rudy, sinkronisasi antara sisi suplai dan permintaan kini menjadi lebih terukur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini memberikan ruang bagi para pelaku usaha untuk menjalankan operasional dengan risiko kerugian akibat anjloknya harga yang lebih minim.
Situasi pasar yang lebih sehat ini sangat menguntungkan bagi para peternak, terutama dalam menghadapi dinamika biaya produksi. Stabilitas harga jual live bird dan DOC memungkinkan perencanaan keuangan yang lebih matang bagi seluruh rantai pasok industri perunggasan.
Pertumbuhan Kinerja Keuangan Kuartal I/2026
Efek dari kondisi pasar yang kondusif tercermin dengan jelas pada laporan keuangan Malindo Feedmill selama tiga bulan pertama tahun 2026. Perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan bersih yang sangat positif hingga mencapai angka Rp3,69 triliun.
Angka penjualan tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 16,61% jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh performa apik dari berbagai lini bisnis yang dikelola oleh perusahaan berkode saham MAIN tersebut.
Berikut adalah ringkasan performa penjualan berdasarkan kategori produk selama kuartal pertama tahun 2026:
| Kategori Penjualan | Nilai / Persentase Kenaikan | Keterangan Tambahan |
|---|---|---|
| Pakan Ternak | Naik Rp206,91 miliar (10,92%) | Menjadi kontributor utama dalam pendapatan perseroan. |
| Anak Ayam (DOC) & Itik | Melonjak 69,2% | Naik signifikan dari Rp477,77 miliar menjadi Rp808,39 miliar. |
| Makanan Olahan | Tumbuh 16,81% | Permintaan produk hilir tetap kuat di pasar ritel. |
| Ayam Pedaging (Broiler) | Turun 2,49% | Terjadi koreksi tipis dibandingkan periode tahun sebelumnya. |
Meskipun terdapat sedikit penurunan pada penjualan ayam pedaging, namun performa keseluruhan tetap menunjukkan tren yang sangat solid. Kenaikan drastis pada sektor penjualan anak ayam menjadi sorotan utama yang memperkuat posisi keuangan perusahaan di awal tahun ini.
Pencapaian ini juga merembet pada peningkatan margin keuntungan perusahaan di tengah berbagai tantangan global. Laba kotor perseroan tercatat meningkat sebesar 22,79%, yakni dari Rp327,97 miliar menjadi Rp402,73 miliar pada akhir Maret 2026.
Keberhasilan dalam mengelola efisiensi dan memanfaatkan momentum pasar akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan pada laba bersih. Laba bersih yang dapat diatribusikan oleh MAIN melonjak hampir dua kali lipat, yakni mencapai angka Rp123,28 miliar.
Sebagai perbandingan, pada periode kuartal I tahun lalu, perusahaan hanya membukukan laba bersih sebesar Rp62,88 miliar. Lonjakan laba yang signifikan ini menjadi sinyal positif bagi para pemegang saham mengenai prospek cerah Malindo Feedmill di masa depan.
Dengan fondasi keuangan yang kuat dan ekspansi pabrik pakan di Lampung yang terus berjalan, perusahaan optimis dapat menjaga momentum pertumbuhan. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.