Kementerian Haji (Kemenhaj) memastikan kenyamanan jemaah haji Indonesia saat menghadapi puncak ibadah haji 2026. Salah satu kemudahan yang disiapkan adalah ketersediaan makanan siap santap di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Jemaah haji tidak perlu lagi repot memanaskan makanan sebelum mengonsumsinya. Konsumsi yang tersedia merupakan jenis ready to eat (RTE) yang didesain praktis namun tetap bergizi.
Jaenal Effendi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kemenhaj, memperkenalkan contoh makanan tersebut di Makkah pada Selasa (19/5/2026). Ia menjelaskan bahwa paket makanan ini sangat fleksibel untuk kebutuhan jemaah.
Kebutuhan konsumsi ini disiapkan khusus untuk masa menjelang puncak haji hingga jemaah berada di wilayah Armuzna. Jemaah bisa langsung membuka kemasannya tanpa harus melalui proses memasak atau pemanasan terlebih dahulu.
“Paket makanan untuk puncak haji ini sudah bisa langsung dibuka dan dimakan. Jadi, benar-benar tidak perlu dipanaskan lagi,” kata Jaenal saat memberikan keterangan resmi.
Selain kemudahan cara makan, kemasan produk ini dirancang multifungsi agar bisa langsung digunakan sebagai wadah. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kesulitan jemaah saat berada di lingkungan yang padat.
Jaenal juga menyadari kemungkinan adanya jemaah yang belum terbiasa dengan jenis makanan RTE ini. Oleh karena itu, petugas di lapangan akan memberikan edukasi singkat mengenai cara membuka kemasan secara benar.
“Nanti ada petugas yang menyampaikan bahwa makanan ini cukup digunting atau dibuka saja, lalu bisa langsung dinikmati,” tambah Jaenal menjelaskan teknis di lapangan.
Pemerintah juga menjamin bahwa rasa makanan tetap sesuai dengan selera lidah masyarakat Indonesia. Berbagai menu populer khas nusantara telah disiapkan agar jemaah tetap berselera makan selama di Tanah Suci.
Beberapa menu yang sudah dipastikan tersedia antara lain nasi uduk lengkap dengan daging, kari ayam, hingga rendang. Kemenhaj berusaha menjaga kualitas rasa meskipun makanan tersebut dikemas dalam bentuk siap santap.
Penyediaan konsumsi ini juga memperhatikan aspek Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Minimal 50 persen dari komponen dalam paket makanan tersebut harus berasal dari produk-produk Indonesia.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan industri dalam negeri turut merasakan manfaat ekonomi dari penyelenggaraan ibadah haji. Selain itu, penggunaan bahan asli Indonesia juga menjamin kesesuaian cita rasa yang diinginkan jemaah.
Produsen Makanan Siap Santap Puncak Haji
Dalam memenuhi kebutuhan jutaan porsi makanan, pemerintah menggandeng sejumlah perusahaan profesional. Total terdapat lima perusahaan yang ditunjuk sebagai pemasok resmi makanan siap santap ini.
Jaenal mengungkapkan bahwa tiga dari lima perusahaan tersebut merupakan produsen asli asal Indonesia. Sementara itu, dua perusahaan lainnya merupakan mitra strategis yang berbasis di Arab Saudi.
Daftar perusahaan Indonesia yang terlibat dalam penyediaan makanan siap santap :
- PT Halalan Thayyiban Indonesia
- PT Indo Niaga Agro
- PT Laukita Bersama Indonesia
Ketiga perusahaan di atas memiliki peran penting dalam mendistribusikan konsumsi jemaah haji. Seluruh produk yang dihasilkan telah melewati pengawasan ketat dari otoritas kesehatan dua negara.
Jaenal menekankan bahwa standar kualitas adalah prioritas utama dalam proses produksi ini. Produk-produk tersebut sudah mengantongi sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia.
Selain standar dalam negeri, makanan ini juga memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Saudi Food and Drug Authority (SFDA). Kerja sama lintas negara ini menjamin keamanan pangan bagi seluruh jemaah haji.
Distribusi makanan akan difokuskan pada hotel-hotel tempat jemaah menginap di Makkah. Hal ini dilakukan sesaat sebelum jemaah bersiap menuju prosesi puncak haji di padang Arafah.
Perusahaan-perusahaan Indonesia ini memiliki jadwal distribusi khusus pada tanggal-tanggal krusial. Jadwal tersebut disesuaikan dengan pergerakan jemaah selama periode puncak ibadah haji.
Jadwal penyediaan makanan oleh perusahaan Indonesia pada musim haji 2026 :
| Tanggal Hijriah | Tanggal Masehi | Keterangan Operasional |
|---|---|---|
| 7 Dzulhijjah 1447 H | 24 Mei 2026 | Persiapan sebelum berangkat ke Arafah |
| 8 Dzulhijjah 1447 H | 25 Mei 2026 | Pergerakan jemaah menuju Arafah |
| 13 Dzulhijjah 1447 H | 30 Mei 2026 | Kepulangan jemaah setelah melempar jumroh |
Tabel di atas menunjukkan sinkronisasi antara penanggalan Hijriah dan Masehi untuk memudahkan pemantauan distribusi. Kemenhaj ingin memastikan makanan selalu tersedia tepat saat jemaah membutuhkannya.
Targetnya, seluruh paket makanan siap santap ini sudah sampai di hotel jemaah pada 6 Dzulhijjah 1447 H atau 23 Mei 2026. Distribusi dilakukan lebih awal untuk menghindari kendala logistik akibat penutupan jalan.
“Pihak dapur akan mengirimkan paket ke setiap hotel yang ditempati jemaah Indonesia. Kami berharap proses ini berjalan lancar sehingga jemaah bisa lebih tenang beribadah,” kata Jaenal optimis.
Pemerintah masih memiliki waktu hingga tanggal 6 Dzulhijjah untuk mematangkan segala persiapan logistik. Hal ini mencakup pengecekan jumlah paket hingga kesiapan sarana distribusi di tiap sektor hotel.
Terkait penyediaan makanan saat jemaah berada di lokasi Armuzna, tanggung jawab berada di tangan pihak syarikah. Syarikah adalah perusahaan penyelenggara layanan haji resmi di Arab Saudi yang ditunjuk pemerintah.
Untuk tahun ini, layanan tersebut dikelola oleh Rakeen Mashariq dan Albait Guest. Kedua syarikah ini yang akan mengatur konsumsi jemaah selama prosesi wukuf dan bermalam di Mina.
Rangkaian puncak haji sendiri akan dimulai pada Senin, 25 Mei 2026 atau bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 H. Pada momen tersebut, jemaah mulai meninggalkan hotel di Makkah menuju Arafah untuk wukuf.
Selama periode dari 8 Dzulhijjah siang hingga 13 Dzulhijjah pagi, seluruh konsumsi disediakan oleh pihak syarikah. Setelah periode tersebut berakhir, layanan konsumsi kembali beralih ke perusahaan penyedia di hotel.
Jaenal memastikan bahwa skema transisi layanan konsumsi ini sudah dipersiapkan dengan matang. Ia mengonfirmasi bahwa stok makanan dari syarikah saat ini sudah dalam posisi siap untuk didistribusikan.
Dengan persiapan yang komprehensif ini, diharapkan tidak ada kendala kekurangan makanan selama puncak haji. Kepraktisan menu siap santap diharapkan mampu menjaga energi jemaah dalam menjalankan rukun haji.