Pemerintah baru saja menuntaskan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 2 Juni 2026 melalui sistem Bank Indonesia. Dalam proses tersebut, tercatat ada delapan seri sukuk negara yang ditawarkan kepada para investor.
Adapun seri yang dilelang meliputi SPNS13072026, SPNS23112026, SPNS01032027, PBS030, PBS040, PBS034, PBS005, serta PBS038. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), total penawaran yang masuk menyentuh angka Rp26,04 triliun.
Dari keseluruhan minat yang masuk, pemerintah memutuskan untuk menyerap dana sebesar Rp8,85 triliun. Hasil ini membuktikan bahwa daya tarik sukuk negara, terutama seri Project Based Sukuk (PBS), masih sangat kuat di mata investor.
Dominasi Seri PBS005 dan Persaingan Ketat Investor
Seri PBS005 yang akan jatuh tempo pada tahun 2043 menjadi primadona utama dalam lelang kali ini. Instrumen ini mencatatkan Bid-to-Cover Ratio (BCR) yang sangat fantastis, yakni mencapai 24,77 kali.
Angka ini menunjukkan tingkat persaingan yang luar biasa di mana setiap Rp1 yang dimenangkan pemerintah diperebutkan oleh hampir Rp25 penawaran investor. Selain PBS005, beberapa seri lain juga mencatatkan tingkat kompetisi yang cukup tinggi.
Berikut adalah daftar seri SBSN dengan tingkat persaingan atau BCR tertinggi dalam lelang tersebut:
- PBS005: Mencatatkan rasio penawaran hingga 24,77 kali dari total yang dimenangkan.
- PBS030: Membukukan tingkat persaingan atau BCR sebesar 17,18 kali.
- PBS038: Mencatat rasio penawaran masuk mencapai 17,04 kali.
Data di atas memperlihatkan bahwa investor cenderung berebut untuk mendapatkan seri SBSN dengan tenor panjang. Kondisi ini berbanding terbalik dengan seri jangka pendek yang cenderung memiliki persaingan lebih rendah.
Sebagai contoh, seri SPNS23112026 hanya mencatatkan BCR sebesar 1,06 kali saja. Hal tersebut menandakan bahwa hampir seluruh penawaran yang diajukan investor untuk seri ini diserap oleh pemerintah.
Pergerakan Yield dan Biaya Pendanaan Pemerintah
Meski terjadi kenaikan tipis, pemerintah dinilai masih mampu menjaga level yield atau imbal hasil pada titik yang terkendali. Biaya pendanaan dari hasil lelang ini berada pada rentang yield rata-rata tertimbang antara 6,20% hingga 6,91%.
Untuk instrumen jangka pendek, seri SPNS13072026 dimenangkan dengan yield 6,20%. Sementara itu, seri SPNS01032027 berada pada level 6,68% seiring dengan profil risikonya yang sedikit lebih tinggi.
Rincian yield yang dimenangkan pemerintah untuk kategori Project Based Sukuk (PBS) adalah sebagai berikut:
| Seri SBSN | Yield Rata-Rata Tertimbang | Keterangan |
|---|---|---|
| PBS030 | 6,68857% | Tenor Menengah |
| PBS040 | 6,69714% | Tenor Menengah |
| PBS005 | 6,79546% | Jatuh Tempo 2043 |
| PBS038 | 6,90830% | Jatuh Tempo 2049 |
Tabel tersebut menunjukkan adanya kenaikan yield yang bertahap seiring dengan semakin panjangnya tenor atau masa jatuh tempo instrumen. Yield tertinggi ditemukan pada seri PBS038 yang mencatatkan angka 6,90830%.
Secara garis besar, lelang ini mengonfirmasi bahwa permintaan pasar terhadap SBSN tetap solid di tengah dinamika ekonomi yang ada. Keberhasilan menyerap Rp8,85 triliun menunjukkan kepercayaan investor terhadap stabilitas instrumen syariah negara tetap terjaga.