Kurs Rupiah Hari Ini: Dolar AS Masih Tertahan di Level Rp17.650 pada 2026

Kurs Rupiah Hari Ini: Dolar AS Masih Tertahan di Level Rp17.650 pada 2026
Foto: Ilustrasi Kurs Rupiah Hari Ini: Dolar AS Masih Tertahan di Level Rp17.650 pada 2026.
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, 19 Mei 2026. Mata uang Garuda terpantau melemah tipis saat berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data dari Refinitiv, rupiah dibuka di zona merah dengan koreksi sebesar 0,06 persen. Hal ini membuat posisi rupiah tertahan di level Rp17.650 per dolar AS pada awal transaksi hari ini.

Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tekanan hebat yang terjadi pada hari sebelumnya, Senin, 18 Mei 2026. Kala itu, rupiah terkoreksi tajam hingga 1,03 persen dan ditutup pada angka Rp17.640 per dolar AS.

Angka tersebut mencatatkan sejarah kelam bagi mata uang Indonesia. Posisi ini tercatat sebagai salah satu level terlemah rupiah yang pernah terjadi sepanjang sejarah.

Kontradiksi Indeks Dolar AS

Menariknya, pelemahan rupiah kali ini terjadi saat indeks dolar AS (DXY) justru sedang mengalami penurunan. Indeks yang memantau kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia ini terpantau melemah 0,15 persen ke level 99,044.

Penurunan indeks dolar tersebut terjadi pada pukul 09.00 WIB. Kondisi ini sebenarnya memberikan sedikit celah bagi mata uang global lainnya untuk menguat.

Fokus pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia

Sentimen domestik kini menjadi perhatian utama para pelaku pasar dan investor di tanah air. Perhatian publik tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang mulai digelar hari ini.

Pertemuan penting ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni hingga Rabu, 20 Mei 2026. Keputusan hasil rapat ini sangat dinantikan karena menyangkut arah kebijakan moneter nasional.

Pasar menanti apakah akan ada perubahan pada suku bunga acuan di tengah fluktuasi pasar keuangan. Saat ini, kondisi pasar saham dan nilai tukar rupiah memang sedang berada dalam tekanan yang cukup berat.

Sebagai referensi, berikut adalah data suku bunga hasil RDG Bank Indonesia pada periode sebelumnya:

Instrumen Kebijakan Suku Bunga (April 2026)
BI Rate 4,75%
Deposit Facility 3,75%
Lending Facility 5,50%

Data di atas menunjukkan posisi suku bunga yang dipertahankan BI pada rapat tanggal 21-22 April 2026. Keputusan pada esok hari akan menjadi sinyal penting bagi pergerakan pasar ke depan.

Dinamika Global dan Harga Minyak

Dari kancah internasional, isu geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor krusial yang mempengaruhi pasar. Harapan akan berakhirnya konflik Iran terus dipantau oleh para pelaku ekonomi dunia.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah sebesar 2 persen pada Senin kemarin turut memicu kekhawatiran baru. Harga minyak dunia mencapai titik tertingginya dalam dua pekan terakhir akibat potensi gangguan pasokan.

Meskipun ada laporan bahwa Amerika Serikat memberikan keringanan sanksi minyak terhadap Iran, ketidakpastian tetap tinggi. Para pengamat khawatir kenaikan harga energi ini akan memicu inflasi konsumen global.

Kondisi inflasi yang tinggi berisiko membuat bank sentral AS, The Fed, kembali menaikkan suku bunga mereka. Hal inilah yang sebelumnya sempat mendorong kenaikan imbal hasil Treasury dan memperkuat dolar AS pekan lalu.

Namun, dengan melemahnya indeks dolar pagi ini, peluang bagi rupiah untuk memangkas kerugian tetap terbuka. Pelaku pasar akan terus memantau dinamika antara kebijakan domestik dan tekanan global sepanjang hari ini.

Artikel terkait

Rekomendasi