Komitmen ESG 2026: Strategi Terbaru Perusahaan Hadapi Tantangan Kompleks yang Banyak Dicari

Komitmen ESG 2026: Strategi Terbaru Perusahaan Hadapi Tantangan Kompleks yang Banyak Dicari
Foto: Komitmen ESG 2026: Strategi Terbaru Perusahaan Hadapi Tantangan Kompleks yang Banyak Dicari. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Komitmen perusahaan dalam menjalankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) kini sedang menghadapi ujian yang cukup berat. Meski isu keberlanjutan semakin populer, tantangan yang muncul pun menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kini perusahaan tidak cukup hanya menyusun program di atas kertas atau sekadar menerbitkan laporan tahunan. Mereka dituntut untuk benar-benar mengintegrasikan nilai-nilai ESG ke dalam setiap keputusan strategis dan operasional bisnis sehari-hari.

Beberapa tahun terakhir, banyak organisasi telah membentuk tim khusus ESG demi memenuhi ekspektasi investor, regulator, dan publik. Namun, belakangan ini muncul sebuah fenomena yang disebut sebagai ESG fatigue atau menurunnya antusiasme manajemen dalam menjalankan agenda keberlanjutan tersebut.

Mengenal Fenomena ESG Fatigue di Dunia Usaha

Angela Simatupang, selaku Chief Strategy Officer RSM Indonesia, memberikan pandangannya terkait situasi ini pada Jumat (29/5/2026). Ia menjelaskan bahwa perusahaan sebenarnya masih menaruh perhatian besar pada isu ESG, namun rintangan yang dihadapi memang kian nyata.

Menurutnya, dahulu banyak perusahaan hanya berfokus pada sisi laporan dan pencitraan demi terlihat baik di mata publik. Sekarang, tantangan utamanya adalah bagaimana memastikan prinsip keberlanjutan benar-benar menjadi dasar dalam menjalankan bisnis.

Berdasarkan hasil survei ESG 2025 yang dilakukan oleh RSM Indonesia, banyak perusahaan mulai memandang ESG sebagai fondasi ketahanan bisnis. Hal ini dianggap penting untuk membangun kepercayaan publik serta meningkatkan daya saing perusahaan dalam jangka panjang.

Beberapa faktor utama yang membuat penerapan ESG terasa semakin menantang bagi perusahaan :

  • Ketentuan regulasi yang semakin rumit dan sering berubah.
  • Kebutuhan data operasional yang harus sangat detail dan akurat.
  • Tuntutan transparansi publik yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
  • Adanya tekanan ekonomi global yang memengaruhi prioritas anggaran.

Poin-poin di atas menjadi hambatan nyata, di mana 64 persen responden survei sepakat bahwa rumitnya regulasi merupakan kendala terbesar saat ini. Hal ini memaksa perusahaan untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya guna mematuhinya.

Menjaga Momentum Keberlanjutan di Tengah Tekanan Bisnis

Di tengah transformasi digital dan target pertumbuhan ekonomi yang agresif, agenda ESG sering kali dianggap sebagai beban biaya yang besar. Perusahaan kini harus pintar menyeimbangkan antara prioritas bisnis utama dengan komitmen sosial serta lingkungan.

Angela menyebutkan bahwa tanda-tanda ESG fatigue mulai terlihat ketika topik keberlanjutan jarang dibahas dalam rapat pengambilan keputusan. Selain itu, pemangkasan anggaran untuk program sustainability juga menjadi sinyal yang kuat.

Ia juga menyoroti bahwa target ESG terkadang tidak lagi dimasukkan ke dalam penilaian kinerja karyawan atau manajemen. Bahkan, sering ditemukan program keberlanjutan yang berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya dukungan lintas divisi dalam organisasi.

Berikut adalah ringkasan tantangan yang dihadapi perusahaan dalam mempertahankan standar ESG :

Aspek Tantangan Deskripsi Permasalahan
Operasional Kesulitan memasukkan prinsip ESG ke dalam proses kerja harian.
Tata Kelola Kurangnya penguatan pengelolaan risiko dan tata kelola internal.
Anggaran Adanya kecenderungan pengurangan dana untuk program keberlanjutan.
Fokus Strategis Narasi di ruang publik seringkali lebih besar daripada aksi nyata di lapangan.

Tabel tersebut menunjukkan bahwa masalah utama bukan terletak pada pembuatan strategi, melainkan pada konsistensi pelaksanaannya. Perusahaan perlu memastikan bahwa setiap departemen terlibat aktif agar program ini tidak sekadar menjadi formalitas belaka.

Kondisi saat ini menegaskan bahwa tantangan industri tidak hanya soal menyusun rencana yang hebat. Hal yang paling krusial adalah memperkuat proses kerja dan tata kelola di seluruh bagian organisasi demi menjaga keberlangsungan jangka panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi