Ketegangan Trump dan Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak

Ketegangan Trump dan Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak
Foto: Ilustrasi Ketegangan Trump dan Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak.
Ukuran teks

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar global. Situasi ini memanas setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan rasa frustrasinya terhadap sikap Iran.

Kondisi pasar energi dunia saat ini kian tertekan oleh ancaman gangguan keamanan di Selat Hormuz. Selain serangan fisik, penetapan tarif sepihak di jalur pelayaran vital tersebut menambah kekhawatiran para pelaku pasar.

Harga Minyak Brent dan WTI Melambung

Berdasarkan data perdagangan terakhir, harga minyak acuan global Brent mengalami kenaikan signifikan lebih dari 2 persen. Harga komoditas ini kini bertengger di level US$ 108,25 per barel.

Senada dengan Brent, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni juga ikut terkerek naik. Kontrak WTI terpantau menguat hingga menembus angka US$ 103,76 per barel.

Berikut adalah rincian kenaikan harga minyak mentah dunia:

Jenis Minyak Mentah Harga Per Barel Persentase Kenaikan
Minyak Mentah Brent US$ 108,25 Diatas 2%
West Texas Intermediate (WTI) US$ 103,76 Diatas 2%

Data di atas menunjukkan respons cepat pasar energi terhadap memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak mentah global jika konflik terus berlanjut.

Ketegasan Trump Terkait Negosiasi dengan Iran

Sentimen negatif pasar energi ini bermula dari pernyataan tegas Donald Trump dalam wawancaranya bersama Fox News. Ia menegaskan bahwa kesabarannya mulai habis karena kesepakatan damai dengan Iran tidak kunjung tercapai.

Trump menekankan bahwa Iran tidak memiliki pilihan lain selain segera menyetujui kesepakatan baru. "Saya tidak akan lebih sabar lagi. Mereka harus membuat kesepakatan," ungkapnya dengan nada mengancam.

Diplomasi dengan China Terkait Jalur Selat Hormuz

Di tengah konflik ini, Trump mengklaim telah menjalin kesepahaman dengan Presiden China Xi Jinping. Keduanya disebut sepakat mengenai urgensi pembukaan kembali akses Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.

Trump juga menyebutkan bahwa China berjanji akan menghentikan pengiriman peralatan militer ke Teheran. Langkah ini diambil karena Beijing merasa dirugikan oleh biaya tambahan atau "tol" yang diberlakukan Iran di Selat Hormuz.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memperkuat pernyataan tersebut dengan menyebut China akan bergerak secara tertutup. Menurutnya, pembukaan kembali akses selat merupakan kepentingan ekonomi utama bagi Negeri Tirai Bambu tersebut.

Respons Diplomatik dari Pihak China

Meski diklaim mendukung AS, pemerintah China sendiri belum memberikan pernyataan dukungan secara terang-terangan. Namun, Kementerian Luar Negeri China memberikan isyarat kuat agar semua pihak menghindari jalan kekerasan.

Juru bicara Kemenlu China menyatakan bahwa konflik yang terjadi saat ini sebenarnya tidak perlu terjadi. Mereka mengimbau adanya negosiasi cepat karena stabilitas kawasan sangat krusial bagi kepentingan ekonomi seluruh dunia.

Pemerintah China meyakini bahwa penggunaan kekuatan militer hanya akan berujung pada jalan buntu yang merugikan. Negosiasi dianggap sebagai satu-satunya cara terbaik untuk mengakhiri krisis energi dan keamanan yang sedang berlangsung.

Artikel terkait

Rekomendasi