Menjaga asupan nutrisi memang sangat penting, namun anak-anak juga memerlukan perhatian pada sisi emosional demi perkembangan yang optimal. Salah satu langkah krusial yang bisa diambil orang tua adalah memahami konsep bahasa cinta atau love language demi kebahagiaan buah hati.
Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Irma Gustiana Andriani, SPsi, MPsi, menekankan bahwa kebutuhan emosional yang terabaikan bisa berdampak serius. Hal ini memengaruhi kesehatan mental, pola perilaku, hingga cara anak berinteraksi dengan lingkungan sosial di sekitarnya.
Irma menjelaskan bahwa saat tangki emosional anak tidak terpenuhi, dampaknya akan terlihat jelas pada perubahan sikap sehari-hari. Anak cenderung mudah merasa cemas, tidak percaya diri, merasa kurang berharga, kehilangan semangat belajar, hingga prestasi akademiknya menurun.
Paparan tersebut disampaikan dalam sesi talkshow bertajuk "Kebersamaan di Tiap Momen untuk Tumbuh Kembang Si Kecil". Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan "Frisian Flag, Temani Langkahmu, Kini dan Nanti" yang digelar PT Frisian Flag Indonesia (FFI) di Tangerang Selatan.
Menurut Irma, mengenali bahasa cinta adalah strategi yang efektif untuk mengisi kebutuhan batin anak secara tepat sasaran. Ia percaya bahwa setiap orang, termasuk anak-anak, memiliki cara unik untuk merasa dicintai dan dihargai oleh orang lain.
Irma mengilustrasikan bahasa cinta ini layaknya bahan bakar atau bensin yang berfungsi mengisi "tangki cinta" di dalam diri seseorang. Setelah anak menjalani rutinitas yang melelahkan di sekolah atau tempat bermain, tangki cinta mereka bisa saja mulai menipis dan perlu diisi ulang.
Kasih sayang yang diberikan dengan cara yang tepat akan membuat anak kembali memiliki energi emosional yang stabil. Sebaliknya, jika tangki tersebut dibiarkan kosong, anak akan lebih rentan mengalami berbagai gangguan emosi yang mengganggu kesehariannya.
Beberapa bentuk bahasa cinta yang umumnya dimiliki oleh anak-anak antara lain:
- Kata-kata Afirmasi (Words of Affirmation): Anak merasa sangat dicintai saat mendapatkan pujian, apresiasi, atau kalimat penyemangat dari orang tua mereka.
- Sentuhan Fisik (Physical Touch): Bentuk kasih sayang yang ditunjukkan melalui pelukan hangat, usapan di kepala, atau sekadar menggandeng tangan anak.
- Waktu Berkualitas (Quality Time): Anak merasa berharga ketika orang tua meluangkan waktu khusus untuk bermain atau mengobrol tanpa gangguan gawai.
- Tindakan Melayani (Acts of Service): Rasa sayang yang dirasakan anak saat orang tua membantu mereka melakukan sesuatu atau menyiapkan kebutuhan mereka.
- Pemberian Hadiah (Receiving Gifts): Anak merasa dipedulikan melalui pemberian benda fisik atau kejutan kecil sebagai bentuk perhatian tulus.
Irma menambahkan bahwa pemahaman terhadap bahasa cinta pasangan dan anak akan menciptakan keharmonisan dalam dinamika keluarga. Hal ini menjadi fondasi yang kuat untuk membangun kesehatan mental dan perilaku yang positif bagi seluruh anggota keluarga di rumah.
Namun, orang tua perlu waspada karena setiap anggota keluarga bisa memiliki preferensi bahasa cinta yang berbeda satu sama lain. Penting untuk tidak memberikan kasih sayang hanya berdasarkan apa yang kita sukai, melainkan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak.
Irma menyarankan agar setiap orang tua meluangkan waktu untuk mengenali bahasa cinta diri sendiri, pasangan, maupun masing-masing anak. Dengan begitu, pemberian kasih sayang tidak akan salah sasaran dan benar-benar mampu menyentuh hati mereka yang menerimanya.
Pendekatan Humanis dalam Mendampingi Keluarga
Kanya Ramyacitta selaku Head of Masterbrand & Future Innovation Frisian Flag Indonesia turut memberikan pandangannya mengenai keseimbangan nutrisi dan emosi. Ia menyatakan bahwa dukungan perasaan dan asupan makanan bergizi adalah dua pilar yang sama pentingnya bagi keluarga.
Melalui semangat "Nourishing Indonesia", FFI berkomitmen hadir lebih dekat dengan keluarga melalui berbagai kampanye yang relevan. Fokus utamanya adalah membangun kebersamaan, memberikan semangat, serta menyediakan dukungan emosional yang kuat antar anggota keluarga setiap harinya.
Kanya memberikan ilustrasi sederhana mengenai bagaimana momen berbagi segelas susu bisa menjadi simbol perhatian yang sangat bermakna. Kegiatan kecil ini dapat menjadi bentuk apresiasi nyata agar setiap anggota keluarga tidak merasa berjuang sendirian dalam menjalani hari.
Interaksi saling menyiapkan susu antara ibu dan anak dianggap mampu menciptakan rasa semangat di tengah berbagai tantangan hidup. Ketika tubuh mendapatkan nutrisi yang cukup dan hati merasa diperhatikan, langkah kaki dalam menghadapi hari yang berat pun terasa lebih ringan.
Menurut Kanya, segala hambatan akan lebih mudah diatasi jika keluarga saling memberikan dukungan yang tulus dan berkualitas. Hubungan yang hangat di dalam rumah akan menjadi modal utama bagi anak dan orang tua untuk tumbuh bersama dengan bahagia.
Pentingnya Kehadiran Orang Tua dalam Mendukung Minat Anak
Ochi Febriana, ibu dari influencer cilik Shabira Alula atau yang akrab disapa Lala, turut berbagi pengalamannya dalam mendidik anak. Ia berpendapat bahwa kunci memahami kebutuhan anak adalah dengan mengamati minat serta ketertarikan mereka sejak mereka masih sangat dini.
Dalam pola asuhnya, Ochi berusaha memberikan perlakuan yang dahulu ia dambakan saat dirinya masih berada di posisi sebagai seorang anak. Dengan melakukan pengamatan mendalam pada keseharian Lala, ia bisa memetakan apa saja hal yang sebenarnya disukai dan dibutuhkan putrinya.
Sebagai contoh nyata, Ochi aktif mendukung minat besar Lala di bidang musik dengan memberikan fasilitas untuk mencoba berbagai instrumen. Ia selalu mendampingi Lala saat mencoba bermain piano atau bernyanyi untuk memastikan sang anak merasa didukung sepenuhnya.
Bahkan ketika Lala menunjukkan ketertarikan pada teknologi atau permainan, Ochi mengarahkannya untuk mencoba belajar coding yang lebih edukatif. Langkah ini diambil untuk memberikan jalan dan membimbing anak agar potensinya dapat terpetakan dengan lebih jelas dan terarah.
Ochi menegaskan bahwa peran orang tua jauh melampaui sekadar memberikan fasilitas materi atau uang kepada anak-anak mereka. Kehadiran secara fisik dan kesediaan secara emosional untuk mendengarkan merupakan bentuk dukungan yang paling berharga bagi proses tumbuh kembang anak.
Ia mengakui bahwa menjalankan peran sebagai orang tua bukanlah perkara mudah, sehingga keberadaan sistem pendukung atau support system sangat diperlukan. Perasaan ditemani dan didukung membuat beban yang berat terasa jauh lebih mudah untuk dipikul bersama-sama.
Melalui kombinasi pemahaman bahasa cinta dan kehadiran yang nyata, orang tua dapat membangun ikatan batin yang lebih erat dengan sang buah hati. Lingkungan keluarga yang sehat secara emosional akan menjadi tempat terbaik bagi anak untuk berkembang menjadi pribadi yang hebat.
Acara talkshow edukatif ini menjadi bagian dari perayaan Hari Susu Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Juni di seluruh dunia. Berlangsung di Atrium BXC 2, kegiatan ini dimeriahkan oleh berbagai penampilan seni yang melibatkan ibu dan anak dari berbagai komunitas.
Berikut adalah rangkuman beberapa kegiatan menarik yang memeriahkan rangkaian acara tersebut:
- Sesi Edukasi: Diskusi mendalam bersama psikolog serta pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengenai nutrisi dan pola asuh.
- Pertunjukan Budaya: Penampilan bakat anak-anak dalam membawakan Tari Bajul Ijo dan Tari Janger Bali yang sangat memukau penonton.
- Ajang Ekspresi Ibu: Kompetisi tari khusus untuk para ibu sebagai wadah untuk mengekspresikan diri dan melepas penat.
- Hiburan Musik: Penampilan spesial dari penyanyi cilik Quinn Salman serta aksi panggung dari Mydoremi Musical Studio.
Kegiatan yang penuh inspirasi ini tidak hanya berhenti di Tangerang Selatan saja, tetapi juga akan menyapa warga Surabaya dalam waktu dekat. Rencananya, acara serupa akan digelar di Tunjungan Plaza pada tanggal 19 hingga 21 Juni 2026 mendatang untuk menjangkau lebih banyak keluarga.
Program "Frisian Flag, Temani Langkahmu, Kini dan Nanti" diharapkan mampu menginspirasi lebih banyak orang tua di Indonesia untuk mulai memperhatikan bahasa cinta. Dengan tangki cinta yang selalu penuh, masa depan anak-anak Indonesia tentu akan menjadi lebih cerah dan bahagia.