Kemenkes: Hasil Tes Kontak Erat Hantavirus MV Hondius di Jakarta Negatif

Kemenkes: Hasil Tes Kontak Erat Hantavirus MV Hondius di Jakarta Negatif
Foto: Ilustrasi Kemenkes: Hasil Tes Kontak Erat Hantavirus MV Hondius di Jakarta Negatif.
Ukuran teks

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi bahwa seorang warga negara asing (WNA) yang tinggal di Jakarta dinyatakan negatif hantavirus. WNA tersebut sebelumnya diidentifikasi sebagai kontak erat dari kasus yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius.

Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa pria berusia 60 tahun tersebut berdomisili di wilayah Jakarta Pusat. Pasien diketahui bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia.

Meskipun tidak menunjukkan gejala sakit, pasien memiliki riwayat kondisi kesehatan tertentu yang perlu diperhatikan. Andi menyebutkan bahwa pria tersebut mengidap hipertensi selama sepuluh tahun yang tidak terkontrol serta memiliki kebiasaan menggunakan rokok elektrik atau vaping.

Status kontak erat ini muncul karena ia sempat berada dalam satu penginapan dan satu jadwal penerbangan dengan pasien kasus kedua. Pasien kedua tersebut adalah seorang wanita berusia 69 tahun yang dilaporkan telah meninggal dunia akibat virus ini.

Pemerintah Indonesia pertama kali mendapatkan informasi ini melalui notifikasi dari International Health Regulations National Focal Point (IHR NFP) Inggris. Pemberitahuan tersebut diterima pada Kamis malam, 7 Mei 2026, yang mengonfirmasi adanya kontak erat di Jakarta.

Rincian riwayat perjalanan kontak erat tersebut :

  • Melakukan perjalanan di wilayah Argentina pada tanggal 18 hingga 30 Maret 2026.
  • Menuju Ushuaia, Argentina, sebelum akhirnya memulai pelayaran dengan kapal pesiar MV Hondius.
  • Turun dari kapal pesiar di St Helena pada 24 April dan melanjutkan perjalanan menuju Johannesburg, Afrika Selatan.
  • Berkunjung ke Zimbabwe pada periode 26 hingga 29 April 2026.
  • Kembali ke Indonesia melalui transit di Qatar pada tanggal 30 April 2026.

Data perjalanan ini menunjukkan bahwa pasien memiliki mobilitas internasional yang cukup tinggi sebelum kembali ke Indonesia. Seluruh informasi rute perjalanan ini menjadi dasar bagi Kemenkes untuk melakukan pelacakan secara mendalam.

Proses Pemeriksaan dan Hasil Laboratorium

Segera setelah menerima laporan, Kemenkes langsung bergerak cepat dengan melakukan penyelidikan epidemiologi pada Jumat, 8 Mei 2026. Keesokan harinya, pasien dijemput untuk menjalani observasi dan pengambilan sampel di RSPI Sulianti Saroso.

Tim medis mengambil lima jenis spesimen berbeda untuk memastikan keakuratan hasil diagnosis bagi pria tersebut. Sampel yang diperiksa meliputi cairan serum, urine, saliva atau air liur, usap tenggorokan, hingga pemeriksaan darah lengkap.

Hasil pemeriksaan laboratorium adalah sebagai berikut :

Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan
PCR Hantavirus Negatif
Kondisi Fisik Sehat dan Tanpa Gejala
Status Pemantauan Aktif di RSPI Sulianti Saroso

Andi Saguni menegaskan bahwa hasil tes PCR menunjukkan pria asing tersebut tidak terinfeksi oleh hantavirus. Kabar ini menjadi angin segar mengingat kekhawatiran masyarakat terhadap potensi penyebaran virus tersebut di wilayah ibu kota.

Hingga saat ini, kondisi pasien dilaporkan sangat stabil dan tidak menunjukkan tanda-tanda klinis yang mengkhawatirkan. "Beliau terpantau masih beraktivitas normal seperti bermain ponsel di ruang perawatan," ungkap Andi dalam konferensi pers daring.

Langkah Pemantauan Lanjutan

Walaupun hasil tes menunjukkan negatif, Kemenkes tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat sesuai dengan standar World Health Organization (WHO). Pasien akan tetap berada di bawah pengawasan medis secara aktif untuk memantau perkembangan kesehatannya.

Koordinasi lintas sektor telah dilakukan dengan melibatkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta hingga unit layanan kesehatan tingkat pertama. Pengawasan harian nantinya akan diserahkan kepada pihak Puskesmas Senen sesuai dengan lokasi domisili pasien.

Andi memastikan bahwa komunikasi dengan otoritas kesehatan setempat sudah berjalan dengan sangat baik. Hal ini dilakukan agar deteksi dini bisa segera dilakukan jika muncul perubahan kondisi kesehatan pada pasien tersebut di kemudian hari.

Pihak laboratorium juga dijadwalkan akan melakukan pemeriksaan ulang terhadap spesimen pasien secara berkala. Prosedur tes laboratorium ini rencananya bakal diulangi setiap dua minggu sekali guna menjamin akurasi status kesehatannya.

Langkah preventif ini diambil untuk memberikan rasa aman kepada publik sekaligus memastikan tidak ada risiko penularan yang terlewat. Pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak perlu panik secara berlebihan terhadap situasi ini.

Artikel terkait

Rekomendasi