Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan perhatian khusus terhadap risiko infeksi hantavirus pada kelompok usia anak. Meskipun penyakit ini tengah menjadi sorotan, data menunjukkan bahwa angka kasus pada anak cenderung lebih rendah dibandingkan pasien dewasa.
Dominicus Husada, anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, mengungkapkan bahwa prevalensi kasus anak hanya berkisar antara 3 hingga 10 persen dari total kasus dewasa. Informasi ini beliau sampaikan dalam sesi pengarahan media yang diadakan pada Jumat (8/5) lalu.
Karakteristik dan Gejala Hantavirus pada Anak
Kasus infeksi ini lebih sering ditemukan pada kelompok usia remaja dibandingkan anak-anak yang lebih muda. Gejala yang muncul pada remaja umumnya memiliki kemiripan dengan gejala yang dialami oleh orang dewasa.
Beberapa tanda klinis yang perlu diwaspadai meliputi demam, sakit kepala, nyeri pada otot, serta tubuh yang terasa sangat lemas. Selain itu, penderita sering kali mengalami penurunan kadar trombosit di dalam darahnya.
Dominicus, yang juga merupakan Guru Besar Kedokteran di Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa gejala hantavirus sangat mirip dengan penyakit lain seperti demam berdarah. Karena kemiripan tersebut, prosedur pemeriksaan laboratorium menjadi sangat krusial untuk memastikan diagnosis yang akurat.
Dampak serangan virus ini pada organ tubuh bisa berbeda-beda, tergantung pada jenis atau varian virus yang menginfeksi. Perbedaan geografis tempat virus berkembang sangat memengaruhi jenis gangguan kesehatan yang muncul pada pasien.
Berikut adalah perbedaan dampak kesehatan berdasarkan varian wilayahnya:
- Varian Amerika (Termasuk Virus Andes): Jenis ini cenderung menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan sesak napas akut yang mirip dengan gejala berat pada pasien COVID-19.
- Varian Eropa dan Asia: Varian ini lebih fokus menyerang organ ginjal, di mana penurunan fungsi ginjal menjadi dampak yang paling nyata bagi penderitanya.
Pada kasus yang menyerang ginjal, kondisi pasien bisa memburuk hingga memerlukan tindakan medis intensif. Dalam beberapa situasi, penurunan fungsi organ yang drastis mengharuskan pasien menjalani prosedur cuci darah.
Kewaspadaan Ekstra untuk Anak dengan Komorbid
Anak-anak yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid memerlukan perhatian dan pengawasan yang jauh lebih ketat. Gangguan pada sistem imun atau masalah kesehatan organ bawaan dapat memperparah kondisi saat terinfeksi.
Anak yang sejak awal memiliki masalah fungsi ginjal akan mengalami penurunan kondisi yang lebih cepat jika terpapar hantavirus. Tingkat keparahan penyakitnya pun diprediksi akan jauh lebih tinggi dibandingkan anak yang sehat.
Meskipun demikian, Dominicus mengingatkan bahwa orang tanpa penyakit penyerta tetap memiliki risiko yang sama besarnya. Hal ini merujuk pada kasus pasangan asal Belanda di kapal MV Hondius yang tetap mengalami kondisi fatal meski terlihat sehat sebelumnya.
Langkah pencegahan utama yang disarankan oleh IDAI bagi orang tua:
- Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal secara menyeluruh agar tetap higienis.
- Memastikan rumah terbebas dari keberadaan tikus yang merupakan pembawa utama virus tersebut.
- Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam aktivitas sehari-hari di rumah.
Pihak IDAI menghimbau agar para orang tua tetap waspada namun tidak perlu terjebak dalam kepanikan yang berlebihan. Pencegahan yang konsisten melalui pola hidup bersih tetap menjadi tameng utama dalam menghadapi ancaman virus ini.