Indeks Bisnis-27 Melemah, Saham AMRT dan MIKA Justru Melaju Paling Dicari 2026

Indeks Bisnis-27 Melemah, Saham AMRT dan MIKA Justru Melaju Paling Dicari 2026
Foto: Indeks Bisnis-27 Melemah, Saham AMRT dan MIKA Justru Melaju Paling Dicari 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Indeks Bisnis-27 mengakhiri perdagangan pada hari Kamis (21/5/2026) dengan hasil yang kurang menggembirakan bagi sebagian besar investor. Meskipun indeks secara keseluruhan mengalami pelemahan, beberapa saham unggulan seperti AMRT, CPIN, dan MIKA justru menunjukkan performa yang cukup solid.

Berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks yang merupakan hasil kolaborasi dengan Harian Bisnis Indonesia ini melemah sebesar 2,46 persen. Penurunan tersebut membawa Indeks Bisnis-27 mendarat di posisi 436,06 pada akhir sesi perdagangan sore.

Daftar Saham yang Bertahan di Zona Hijau

Dari total 27 emiten yang masuk dalam konstituen indeks ini, hanya ada 6 saham yang berhasil mencatatkan penguatan harga. Sementara itu, 20 saham lainnya harus rela terkoreksi dan 1 saham sisanya berada di posisi stagnan atau tidak berubah.

Saham-saham yang berhasil membukukan kenaikan harga pada perdagangan hari ini adalah:

  • PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang memimpin dengan kenaikan 2,49 persen ke posisi harga Rp1.440.
  • PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) menyusul dengan penguatan sebesar 2,40 persen ke level Rp4.270.
  • PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) mencatatkan kenaikan harga 1,54 persen menjadi Rp1.650.
  • PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) tumbuh 1,39 persen dan berakhir di posisi Rp1.825 per lembar saham.
  • PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) mencatat kenaikan 1,35 persen hingga mencapai level Rp1.505.
  • PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) yang mengalami penguatan tipis sebesar 0,34 persen ke angka Rp1.485.

Daftar di atas memperlihatkan bahwa sektor konsumer dan kesehatan masih menjadi tumpuan bagi investor di tengah tekanan pasar yang cukup besar. Pergerakan positif ini menjadi kontras di tengah mayoritas saham konstituen yang ditutup pada zona merah.

Daftar Saham yang Mengalami Koreksi Tajam

Di sisi lain, terdapat sejumlah emiten yang justru mengalami penurunan harga cukup signifikan pada perdagangan kali ini. Sektor energi dan pertambangan terlihat menjadi yang paling terdampak oleh sentimen negatif pasar.

Rincian saham-saham yang mengalami pelemahan cukup dalam pada penutupan perdagangan:

Nama Emiten Kode Saham Persentase Penurunan Harga Terakhir
Medco Energi Internasional Tbk. MEDC -14,84% Rp1.320
Bumi Resources Minerals Tbk. BRMS -14,39% Rp565
Darma Henwa Tbk. DEWA -11,64% Rp334
Astra International Tbk. ASII -6,28% Rp5.600
Bumi Resources Tbk. BUMI -5,20% Rp164
Merdeka Battery Materials Tbk. MBMA -4,35% Rp440
Aneka Tambang Tbk. ANTM -4,19% Rp2.970

Data tabel di atas menunjukkan besarnya tekanan jual yang terjadi pada sektor komoditas dan energi. Penurunan drastis pada saham seperti MEDC dan BRMS menjadi faktor utama yang menyeret performa indeks secara kolektif.

Analisis Pergerakan IHSG dan Faktor Teknis

Tim riset dari Phintraco Sekuritas memberikan analisis bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini berada dalam rentang pergerakan yang dinamis. IHSG diperkirakan bergerak di antara level support 6.200 dan resistance 6.450.

Pada hari sebelumnya, yakni Rabu (20/5), IHSG juga telah mengalami koreksi tipis sebesar 0,82 persen ke level 6.318. Para analis mencatat adanya indikator teknikal yang menunjukkan kondisi pasar yang sebenarnya sudah mulai jenuh jual.

Melihat kondisi teknikal terkini, indikator Stochastic RSI sedang berada di area oversold dan berpotensi memicu terjadinya Golden Cross. Namun, adanya pelebaran histogram negatif pada MACD membuat IHSG diprediksi akan bergerak variatif di kisaran support 6.200-6.250.

Kemarin, indeks komposit sempat menunjukkan fluktuasi yang cukup kuat dan bahkan sempat mencoba merangkak naik ke zona hijau. Namun, aksi jual yang masif pada akhir sesi akhirnya membuat IHSG harus berakhir di zona merah.

Dampak Pidato Presiden dan RAPBN 2027

Reaksi pasar saham saat ini sangat dipengaruhi oleh pidato Presiden Prabowo Subianto di depan DPR terkait asumsi dasar makro ekonomi RAPBN 2027. Presiden memaparkan sejumlah target penting yang menjadi acuan bagi kebijakan ekonomi di masa mendatang.

Beberapa poin krusial yang disampaikan mencakup target defisit anggaran tahun 2027 yang dipatok pada angka 1,8 persen hingga 2,4 persen dari PDB. Pertumbuhan ekonomi nasional sendiri ditargetkan berada pada kisaran yang optimis, yakni 5,8 persen sampai 6,5 persen.

Pemerintah juga menetapkan asumsi inflasi pada level 1,5 persen hingga 3,5 persen serta nilai tukar rupiah di angka Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS. Sementara itu, suku bunga SBN tenor 10 tahun diperkirakan berkisar antara 6,5 persen hingga 7,3 persen.

Selain indikator makro tersebut, ada kebijakan baru yang cukup mengejutkan pasar terkait aturan ekspor komoditas sumber daya alam (SDA). Presiden mengumumkan bahwa ekspor SDA wajib dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk khusus sebagai pengekspor tunggal.

Kebijakan satu pintu ini rencananya akan diterapkan mulai dari komoditas CPO, batu bara, hingga paduan besi dalam waktu dekat. Hal inilah yang menjadi sentimen utama dan membuat para pelaku pasar cenderung bersikap waspada terhadap prospek emiten sektor terkait.

Analis menekankan bahwa para investor kemungkinan besar akan memilih posisi wait and see untuk sementara waktu. Mereka masih mencerna bagaimana kebijakan ekspor satu pintu ini akan memengaruhi profitabilitas perusahaan tambang dan perkebunan swasta.

Respons Terhadap Kebijakan Bank Indonesia

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kebijakan moneter yang baru saja dirilis oleh Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026. BI secara mengejutkan menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.

Angka kenaikan ini ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan kenaikan hanya di angka 5 persen. Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menilai langkah agresif ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Keputusan menaikkan suku bunga tersebut juga bertujuan untuk menahan tekanan aliran modal keluar atau capital outflow dalam jangka pendek. Analis memperkirakan IHSG masih akan bergerak terbatas dengan support kuat di level 6.220 dan resistance di 6.635.

Perhatian pasar di hari-hari mendatang akan terfokus pada pengumuman FOMC Minutes dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Selain itu, rilis data domestik seperti neraca arus kas berjalan (Current Account) dan jumlah uang beredar (M2) akan menjadi katalis tambahan.

Penting bagi investor untuk memahami bahwa fluktuasi pasar modal dipengaruhi oleh banyak variabel makro dan mikro. Keputusan untuk melakukan transaksi jual atau beli saham sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi setiap investor dengan mempertimbangkan risiko yang ada.

Artikel terkait

Rekomendasi