Indeks Bisnis-27 Dibuka Merah 2026, Saham BUMI dan DEWA Terperosok Paling Dalam

Indeks Bisnis-27 Dibuka Merah 2026, Saham BUMI dan DEWA Terperosok Paling Dalam
Foto: Indeks Bisnis-27 Dibuka Merah 2026, Saham BUMI dan DEWA Terperosok Paling Dalam. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Indeks Bisnis-27 mengawali perdagangan di awal pekan ini dengan mencatatkan penurunan. Berdasarkan data bursa pada Senin (25/5/2026), indeks terpantau melemah ke posisi 438,43.

Koreksi ini mayoritas didorong oleh rontoknya harga saham di sektor komoditas dan energi. Beberapa emiten yang menjadi penekan utama indeks kali ini adalah BUMI, TAPG, serta DEWA.

Mengacu pada data dari IDX Mobile hingga pukul 09.05 WIB, indeks yang merupakan hasil kolaborasi Bursa Efek Indonesia dengan Harian Bisnis Indonesia ini menyusut 0,35 poin. Penurunan tipis sebesar 0,08% tersebut membawa indeks bergerak di level 440,74.

Dalam dinamika pasar pagi ini, tercatat ada 16 saham konstituen yang terjebak di zona merah. Sementara itu, sembilan saham lainnya berhasil menguat dan dua saham terpantau bergerak stagnan.

Daftar Emiten Penekan dan Penopang Indeks

Tekanan paling berat terhadap indeks berasal dari saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI). Emiten tambang ini tercatat merosot 5,41% sehingga harganya turun ke level Rp175 per lembar saham.

Penurunan serupa juga diikuti oleh PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) yang melemah 4,94% ke angka Rp1.540. Begitu pula dengan saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang terkoreksi 4,76% ke posisi Rp360.

Selain ketiga saham tersebut, beberapa emiten energi lainnya juga tidak mampu bertahan dari tekanan pasar. Berikut adalah daftar saham yang mengalami koreksi pada pembukaan perdagangan pagi ini:

Daftar saham yang mengalami penurunan harga cukup signifikan pagi ini:
  • PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang melemah sebesar 5,41%.
  • PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) yang turun sebanyak 4,94%.
  • PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) dengan koreksi sebesar 4,76%.
  • PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang terkikis 4,10% ke Rp1.285.
  • PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) yang turun 2,55% ke level Rp2.290.

Koreksi pada saham-saham berbasis energi dan komoditas di atas menjadi faktor utama yang menyeret Indeks Bisnis-27 ke zona negatif pada awal sesi pertama.

Meski indeks secara keseluruhan melemah, sektor perbankan justru menunjukkan taji sebagai penopang utama. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berhasil menguat 1,97% ke posisi Rp3.110.

Langkah positif ini diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang naik 1,69% hingga menyentuh Rp6.000. Penguatan di sektor keuangan ini setidaknya mampu meredam koreksi indeks agar tidak merosot lebih dalam.

Emiten lain yang turut menghijau pagi ini mencakup PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) yang naik 1,25% ke level Rp810. Kemudian, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menguat 0,97% ke Rp4.160, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik 0,79% ke posisi Rp3.810.

Salah satu kejutan datang dari saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS). Emiten ini menjadi salah satu peraih penguatan tertinggi dengan kenaikan mencapai 4,76% ke level Rp600.

Analisis Sentimen Global dan Domestik

Tim riset dari Phintraco Sekuritas memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan pasar saat ini. Menurut mereka, sentimen global masih sangat dipengaruhi oleh dinamika hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Ketegangan tersebut fokus pada isu penutupan dan pembukaan Selat Hormuz yang berdampak langsung pada fluktuasi harga minyak mentah dunia. Presiden AS sebelumnya mengklaim adanya kesepakatan pembukaan selat, namun hal itu dibantah oleh pihak Iran.

Laporan dari media pemerintah Iran menunjukkan bahwa puluhan kapal tetap melintasi Selat Hormuz di bawah pengawasan ketat militer mereka. Kondisi simpang siur ini memicu ketidakpastian bagi para pelaku pasar komoditas.

Poin-poin penting terkait perkembangan pasar global dan dampaknya:

  • Ketidakpastian kesepakatan AS-Iran terkait akses navigasi di Selat Hormuz.
  • Fluktuasi harga minyak dunia yang mengikuti tensi geopolitik di Timur Tengah.
  • Pengawasan ketat Iran terhadap lalu lintas kapal yang melintasi jalur logistik energi global tersebut.

Perkembangan seputar isu Timur Tengah ini diyakini akan terus membayangi pergerakan harga komoditas dalam beberapa waktu ke depan. Para investor disarankan untuk tetap memantau rilis berita terbaru dari kawasan tersebut.

Selain isu geopolitik, investor di pasar AS juga tengah menanti sejumlah rilis data ekonomi krusial pada pekan ini. Data yang dimaksud mencakup indeks harga PCE, pesanan barang tahan lama (durable goods), serta estimasi kedua PDB kuartal I/2026.

Dari dalam negeri, situasi pasar modal Indonesia cenderung lebih konservatif. Pelaku pasar diperkirakan akan bersikap lebih waspada menjelang agenda rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada akhir Mei.

Waktu perdagangan yang lebih singkat pada periode ini juga menjadi pertimbangan investor dalam mengambil keputusan. Di sisi lain, ketidakjelasan mengenai teknis implementasi beberapa kebijakan baru pemerintah turut menciptakan suasana "wait and see".

Berdasarkan analisis teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak secara variatif atau mixed. Phintraco Sekuritas memproyeksikan rentang pergerakan IHSG berada di level 6.000 hingga 6.250 sepanjang pekan ini.

Berikut adalah ringkasan mengenai pergerakan beberapa saham utama dalam Indeks Bisnis-27 pada pagi ini:

Ringkasan harga saham pilihan di Indeks Bisnis-27:
Kode Saham Harga Terakhir Perubahan (%)
BUMI Rp175 -5,41%
TAPG Rp1.540 -4,94%
DEWA Rp360 -4,76%
BBRI Rp3.110 +1,97%
BBCA Rp6.000 +1,69%
BRMS Rp600 +4,76%

Tabel di atas menunjukkan kontras antara saham sektor energi yang tertekan dan saham perbankan serta mineral yang mencoba menguat. Data ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sepanjang sesi perdagangan berlangsung.

Informasi ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan untuk melakukan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi pembaca. Segala bentuk keuntungan maupun risiko kerugian yang muncul akibat keputusan investasi tersebut berada di luar tanggung jawab redaksi.

Para investor diharapkan tetap melakukan analisis mendalam sebelum menempatkan dana mereka di pasar modal. Diversifikasi portofolio tetap menjadi strategi yang disarankan di tengah kondisi pasar yang fluktuatif seperti saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi