Minat terhadap bidang ilmu saraf atau neuroscience kini semakin meningkat di kalangan pelajar Indonesia. Namun, bagi Anda yang berencana mengambil program studi (prodi) ini, tampaknya harus sedikit bersabar karena jurusan tersebut belum tersedia di perguruan tinggi dalam negeri.
Kenyataan ini disampaikan langsung oleh Trisa Triandesa, seorang komunikator sains bidang neurosains lulusan MSc Cognitive Neuroscience and Neuropsychology dari Birkbeck, University of London. Ia menjelaskan bahwa ketiadaan jurusan spesifik ini di Indonesia membuatnya harus menempuh pendidikan hingga ke London, Inggris.
Trisa mengungkapkan harapannya agar kedepannya Indonesia memiliki prodi neuroscience sendiri untuk memudahkan para pelajar. Dengan adanya jurusan ini di tanah air, peminat ilmu saraf tidak perlu lagi pergi jauh ke luar negeri demi menimba ilmu.
Selain akses pendidikan, Trisa juga menyoroti pentingnya pembukaan lapangan kerja yang relevan di bidang ini. Menurutnya, potensi riset neuroscience di Indonesia sangat besar untuk dikembangkan secara lebih luas dan mendalam.
Pentingnya Pengembangan Riset Lokal
Trisa berpendapat bahwa riset neuroscience yang ada di luar negeri perlu direplikasi di dalam negeri. Hal ini penting untuk melihat apakah hasil penelitian tersebut akan memberikan dampak yang sama pada masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman budaya.
Perbedaan latar belakang budaya atau cultural bias sering kali memengaruhi hasil penelitian terhadap manusia. Penulis buku "Moving Forward Not Moving On" ini menekankan bahwa karakteristik unik masyarakat Indonesia memerlukan pendekatan riset yang spesifik.
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, saat ini memang belum ada universitas negeri maupun swasta yang membuka prodi Neuroscience secara mandiri. Meski begitu, ilmu saraf ini sebenarnya sudah mulai diintegrasikan ke dalam mata kuliah atau pusat penelitian di beberapa kampus besar.
Beberapa perguruan tinggi yang telah memiliki fokus pada bidang neurosains antara lain:
- Universitas Indonesia (UI): Memiliki pusat riset bertajuk Neuroscience and Brain Development Research Center di bawah naungan IMERI FKUI.
- UPN Veteran Jakarta: Menyediakan peminatan Neuroscience dalam program studi S1 Biologi yang mengkaji sistem saraf dari sisi biologi modern dan medis.
- Universitas Gadjah Mada (UGM): Melalui Fakultas Psikologi, kampus ini aktif memperkenalkan pendekatan neuroscience kepada para mahasiswanya.
- Institut Teknologi Bandung (ITB): Menyajikan mata kuliah Neurosains Lanjut atau Advanced Neuroscience bagi mahasiswa pascasarjana bidang biologi sel.
- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS): Mengaplikasikan neuroscience dalam mata kuliah pendidikan anak usia dini untuk mempelajari perkembangan otak dan memori anak.
Meskipun belum menjadi jurusan mandiri, kehadiran mata kuliah dan pusat riset ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan di Indonesia mulai menyadari pentingnya ilmu saraf. Mahasiswa dapat mempelajari bagaimana lingkungan memengaruhi perkembangan otak hingga regulasi emosi manusia.
Kampus Dunia dan Prospek Kerja
Bagi Anda yang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan di luar negeri, terdapat beberapa universitas terbaik di dunia yang memiliki reputasi tinggi dalam bidang ini. Kampus-kampus tersebut menjadi rujukan utama dalam pengembangan ilmu perilaku dan saraf.
Berikut adalah daftar 10 kampus terbaik di dunia untuk bidang neuroscience dan perilaku menurut data US News:
| Peringkat | Nama Universitas | Lokasi |
|---|---|---|
| 1 | Harvard University | Amerika Serikat |
| 2 | Stanford University | Amerika Serikat |
| 3 | Massachusetts Institute of Technology (MIT) | Amerika Serikat |
| 4 | University College London | Inggris |
| 5 | Oxford University | Inggris |
| 6 | Columbia University | Amerika Serikat |
| 7 | Yale University | Amerika Serikat |
| 8 | University of Pennsylvania | Amerika Serikat |
Data di atas menunjukkan bahwa institusi pendidikan di Amerika Serikat dan Inggris masih mendominasi kualitas pendidikan ilmu saraf di kancah global. Daftar ini dapat menjadi referensi bagi calon mahasiswa yang ingin mengejar karier di level internasional.
Mengenai prospek lulusan, Trisa menjelaskan bahwa neuroscience adalah ilmu multidisiplin yang akan sangat dibutuhkan di masa depan. Peluang karier yang tersedia sangat bergantung pada spesialisasi atau cabang neurosains yang diambil oleh mahasiswa.
Lulusan clinical neuroscience, misalnya, dapat bekerja di lingkungan medis seperti rumah sakit. Sementara itu, mereka yang fokus pada educational neuroscience memiliki peluang besar untuk berkarier di dunia pendidikan dan pengembangan metode belajar.
Namun, Trisa mengakui bahwa tantangan di Indonesia saat ini adalah kurangnya pemahaman pemberi kerja terhadap bidang ini karena jurusannya yang belum populer. "Mungkin akan sedikit sulit karena pemberi kerja masih awam dengan bidang ini," jelas Trisa saat berbincang di Gedung Transmedia.
Meski demikian, banyak jalur lain yang bisa ditempuh, seperti menjadi peneliti atau bekerja di sektor korporat. Trisa sendiri memilih jalur komunikasi sains untuk mengedukasi masyarakat luas mengenai temuan-temuan ilmiah dengan cara yang lebih mudah dipahami.
Saran untuk Pelajar yang Berminat
Bagi siswa SMP atau SMA yang sudah mulai tertarik mendalami ilmu saraf, Trisa menyarankan untuk mulai mencari referensi dari sumber-sumber gratis. Ia menekankan bahwa belajar neuroscience bisa dimulai kapan saja tanpa harus menunggu kuliah.
Salah satu platform yang sangat direkomendasikan adalah situs brainfacts.org. Situs tersebut menyediakan informasi lengkap mengenai anatomi otak, struktur saraf, hingga fungsi-fungsinya secara detail dan mudah diakses.
Selain sumber daring, Trisa juga menyarankan untuk membaca buku karyanya yang berjudul "Moving Forward, Not Moving On". Buku ini mengulas topik kesehatan mental dan regulasi emosi namun tetap menggunakan sudut pandang neurosains yang logis.
Dengan memanfaatkan berbagai literatur yang ada, calon mahasiswa diharapkan memiliki bekal dasar yang kuat sebelum nantinya memutuskan untuk mendalami ilmu ini secara profesional. Pemahaman awal mengenai cara kerja otak akan sangat membantu dalam memahami isu-isu psikologis yang kompleks.