IHSG Sesi I Terbang 1,49%, Deretan Saham Konglomerat Terbaru Banyak Dicari 2026

IHSG Sesi I Terbang 1,49%, Deretan Saham Konglomerat Terbaru Banyak Dicari 2026
Foto: IHSG Sesi I Terbang 1,49%, Deretan Saham Konglomerat Terbaru Banyak Dicari 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menunjukkan performa impresif dengan menutup perdagangan sesi pertama di zona hijau pada Selasa (2/6/2026). Indeks saham domestik terpantau menguat sebesar 91,48 poin atau sekitar 1,49 persen, sehingga kini bertengger di posisi 6.218,86.

Pergerakan pasar kali ini didominasi oleh optimisme investor, di mana sebanyak 347 saham mengalami kenaikan harga. Sementara itu, terdapat 338 saham yang bergerak melemah dan 274 saham lainnya cenderung stagnan atau tidak mengalami perubahan harga sama sekali.

Aktivitas perdagangan di bursa saham berlangsung cukup masif dengan nilai transaksi yang menyentuh angka Rp 14,81 triliun. Secara volume, tercatat ada sekitar 16,03 miliar lembar saham yang berpindah tangan melalui 1,53 juta kali frekuensi transaksi jual beli.

Lonjakan IHSG pada siang ini juga berdampak positif pada total nilai pasar modal di Indonesia. Kapitalisasi pasar secara keseluruhan kini merangkak naik dan tercatat telah mencapai angka Rp 10.938 triliun.

Dominasi Saham Konglomerat di Sesi Pertama

Deretan saham milik konglomerat ternama, terutama dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, kembali menjadi pusat perhatian pelaku pasar. Dua emiten andalan, yakni Chandra Asri Pacific (TPIA) dan Barito Pacific (BRPT), mencatatkan nilai transaksi paling tinggi di bursa.

Transaksi pada saham TPIA diketahui mencapai Rp 4,84 triliun, sementara saham BRPT membukukan nilai transaksi sebesar Rp 2,89 triliun. Kehadiran emiten-emiten besar ini menjadi pendorong utama yang mengangkat posisi indeks ke level yang lebih tinggi.

Beberapa saham dari kelompok usaha Barito bahkan menunjukkan penguatan yang sangat signifikan pada perdagangan tengah hari ini. Berikut adalah rincian performa saham-saham unggulan tersebut:

Performa Saham Konglomerasi Utama Sesi 1:
  • Saham CUAN dan BREN: Berhasil melonjak tajam hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) yang ditetapkan bursa.
  • Saham PTRO dan BRPT: Menunjukkan tren penguatan yang kuat dengan kenaikan harga lebih dari 5 persen.
  • Saham TPIA: Mencatatkan pertumbuhan harga yang fantastis dengan kenaikan mencapai 12,04 persen.
  • Saham DSSA: Emiten batubara milik Grup Sinar Mas ini terbang hingga menyentuh level ARA setelah sebelumnya sempat terkoreksi dalam sepanjang tahun.
  • Saham AMMN: Saham tambang milik Grup Salim ini juga tidak mau kalah dengan mencatatkan lonjakan harga sebesar 14,85 persen.

Selain grup-grup besar di atas, saham-saham dari kelompok usaha lain seperti Grup Bakrie hingga emiten yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro juga ikut menghijau. Sentimen positif ini tersebar merata di berbagai lini saham milik para taipan besar di Indonesia.

Analisis Sektoral dan Penggerak Indeks

Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, mayoritas sektor usaha di bursa saham mencatatkan kenaikan performa. Sektor utilitas serta sektor bahan baku menjadi dua sektor yang memimpin penguatan paling tinggi pada perdagangan hari ini.

Namun, tidak semua sektor bergerak searah karena terdapat beberapa bidang yang justru mengalami tekanan atau koreksi. Sektor kesehatan, teknologi, industri, serta konsumer primer terpantau berada di zona merah dan sedikit menghambat laju IHSG.

Jika dilihat dari kontribusinya terhadap indeks, saham BREN menjadi motor penggerak utama dengan sumbangan sebesar 27,67 poin. Posisi berikutnya ditempati oleh saham AMMN dengan kontribusi 16,71 poin dan saham perbankan BBRI sebesar 10,98 poin.

Memasuki pekan pembuka bulan Juni 2026, para pelaku pasar kini mulai memfokuskan perhatian pada berbagai rilis data ekonomi. Data makroekonomi baik dari dalam negeri maupun dari kancah internasional diprediksi akan menjadi penentu arah pasar ke depan.

Kebijakan Baru Devisa dan Ekspor Satu Pintu

Selain dinamika harga saham, pasar juga sedang mencermati sejumlah langkah strategis yang diambil pemerintah Indonesia. Salah satu fokus utamanya adalah mengenai pengelolaan ekspor dan stabilitas pasar valuta asing yang mulai berlaku efektif.

Pemerintah secara resmi telah meluncurkan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) per tanggal 1 Juni 2026 kemarin. Lembaga ini memiliki mandat khusus sebagai pengelola mekanisme ekspor satu pintu untuk komoditas-komoditas strategis nasional.

Terdapat tiga jenis komoditas utama yang transaksinya kini dikelola melalui mekanisme satu pintu tersebut. Tabel di bawah ini merinci data penting terkait komoditas strategis yang berada di bawah pengawasan PT DSI:

Data Komoditas Strategis Ekspor Satu Pintu:
Komoditas Strategis Nilai Ekspor (Tahun 2025) Kontribusi Ekspor Nasional
Batu Bara, Kelapa Sawit, Ferro Alloy US$ 66,13 Miliar Sekitar 23,4%

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menyempurnakan tata kelola kekayaan alam. Dengan pengawasan satu pintu, diharapkan setiap transaksi ekspor bisa dipantau dengan lebih ketat dan transparan.

Airlangga Hartarto menegaskan bahwa langkah ini diambil agar nilai ekspor yang dilaporkan benar-benar mencerminkan transaksi rill di lapangan. Pemerintah juga berencana melakukan evaluasi rutin setiap tiga bulan sebelum kebijakan ini diterapkan secara penuh pada awal tahun 2027.

Aturan Baru Devisa Hasil Ekspor (DHE)

Sejalan dengan pengawasan ekspor, pemerintah juga memperketat aturan mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Aturan baru ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 yang menyasar para pelaku usaha di sektor sumber daya alam.

Bagi eksportir yang bergerak di sektor nonmigas, kini diwajibkan untuk memarkirkan 100 persen devisa mereka di rekening dalam negeri. Dana tersebut harus mengendap di sistem perbankan domestik untuk jangka waktu minimal selama 12 bulan.

Sementara itu, regulasi untuk sektor migas sedikit berbeda dengan kewajiban penempatan dana sebesar 30 persen. Devisa hasil ekspor migas tersebut wajib disimpan di rekening khusus minimal selama tiga bulan sebelum dapat digunakan kembali.

Pemerintah juga menerapkan batasan konversi devisa ke mata uang Rupiah maksimal hanya sebesar 50 persen dari total devisa yang ada. Sebagai bentuk apresiasi, pemerintah menyiapkan insentif berupa pemotongan tarif Pajak Penghasilan (PPh) bagi para eksportir yang patuh.

Rentetan kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat cadangan devisa negara agar lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Selain itu, langkah ini bertujuan agar hasil kekayaan alam Indonesia dapat memberikan manfaat yang lebih nyata bagi sistem keuangan nasional.

Sentimen Global dan Pelemahan Bursa Asia

Berbanding terbalik dengan penguatan IHSG, sebagian besar bursa saham di wilayah Asia-Pasifik justru dibuka dengan tren melemah. Ketidakpastian politik internasional menjadi alasan utama investor di kawasan Asia cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar.

Salah satu faktor pemicunya adalah perkembangan negosiasi perdamaian antara pihak Amerika Serikat dan Iran yang masih diliputi kabut ketidakpastian. Situasi ini memicu sikap hati-hati di kalangan pemodal meski bursa Wall Street sempat menyentuh rekor tertinggi.

Kondisi pasar di beberapa negara tetangga pada pembukaan perdagangan menunjukkan tekanan yang cukup bervariasi. Berikut adalah ringkasan pergerakan indeks saham utama di kawasan Asia-Pasifik pada Selasa pagi:

Ringkasan Pergerakan Bursa Saham Asia:
  • Jepang: Indeks Nikkei 225 terperosok 0,52 persen, sementara indeks Topix mengalami pelemahan yang lebih dalam mencapai 0,98 persen.
  • Korea Selatan: Indeks Kospi turun tipis 0,32 persen, namun indeks Kosdaq yang diisi saham kapitalisasi kecil anjlok hingga 2,5 persen.
  • Australia: Indeks S&P/ASX 200 juga tergerus dan bergerak di zona merah dengan koreksi sebesar 0,67 persen.
  • Hong Kong: Kontrak berjangka Hang Seng berada di level 25.207, menunjukkan penurunan dibandingkan posisi penutupan di 25.398,18.

Fokus investor saat ini tertuju pada komentar terbaru Presiden AS, Donald Trump, mengenai kelanjutan dialog dengan Teheran. Dalam sebuah wawancara, Trump memberikan pernyataan yang meremehkan prospek keberhasilan dari pembicaraan damai tersebut.

Trump menyatakan bahwa dirinya tidak terlalu khawatir atau peduli apabila proses negosiasi tersebut harus berakhir tanpa kesepakatan. Komentar ini langsung direspons oleh pasar sebagai sinyal meningkatnya risiko geopolitik yang perlu diantisipasi dalam jangka pendek.

Artikel terkait

Rekomendasi