Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan pergerakan yang cenderung tertekan pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Pada Jumat (29/5), indeks domestik berakhir dengan pelemahan tipis sebesar 0,05 persen yang membawanya ke posisi 6.127,38.
Kinerja indeks saat itu tertahan oleh lonjakan signifikan dari beberapa saham seperti BREN, BRPT, dan PTRO yang menjadi penopang utama. Di sisi lain, saham-saham perbankan besar seperti BBCA dan BBRI serta emiten telekomunikasi TLKM justru memberikan tekanan negatif yang cukup besar.
Aksi lepas saham oleh investor mancanegara masih terus berlanjut di pasar modal Indonesia. Tercatat investor asing melakukan aksi jual bersih atau net sell mencapai Rp8,36 triliun di pasar reguler, sementara di seluruh pasar nilainya menembus Rp8,52 triliun.
Kondisi sektoral juga menunjukkan dinamika yang beragam dengan lima dari sebelas sektor terpaksa parkir di zona merah. Sektor kesehatan mencatatkan koreksi paling dalam hingga 1,49 persen, sedangkan sektor industri dasar justru terbang dengan kenaikan 2,65 persen.
Sentimen Global dan Domestik yang Memengaruhi Pasar
Pergerakan bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street terpantau memberikan kabar positif dengan penguatan pada indeks-indeks utamanya. Dow Jones naik tipis 0,09 persen, S&P 500 menguat 0,26 persen, dan Nasdaq memimpin dengan kenaikan 0,42 persen pada penutupan perdagangan.
Meskipun sentimen global menghijau, pasar saham dalam negeri tetap dibayangi oleh tekanan akibat efektivitas rebalancing indeks MSCI. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu berlanjutnya fenomena arus modal keluar atau capital outflow dari pasar finansial Indonesia.
Selain itu, para pelaku pasar juga tengah menaruh perhatian besar pada implementasi kebijakan sentralisasi ekspor. Aturan mengenai wajib lapor dan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) diprediksi akan memberikan dampak langsung terhadap ketersediaan likuiditas di pasar.
Data menunjukkan indeks MSCI Indonesia mengalami penurunan sebesar 1,26 persen dalam periode tersebut. Namun, instrumen ETF Indonesia (EIDO) justru menunjukkan performa sebaliknya dengan mencatatkan penguatan sebesar 1,02 persen.
Aksi Korporasi Strategis Bakrie & Brothers
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tengah menjadi pusat perhatian pasar setelah mendapatkan lampu hijau untuk menggelar aksi korporasi besar. Perseroan berencana melakukan penambahan modal melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.
Sebanyak 89,92 miliar lembar saham baru akan diterbitkan dengan harga pelaksanaan sebesar Rp53 per saham. Melalui langkah strategis ini, perusahaan menargetkan pengumpulan dana segar yang diperkirakan mencapai Rp4,76 triliun.
Rincian alokasi dana dari hasil rights issue BNBR adalah sebagai berikut:
- Pemberian pinjaman kepada PT Bakrie Toll Indonesia (BTI) untuk melunasi utang kepada Hartman International Pte. Ltd. dan Bank Nobu.
- Alokasi dana untuk modal kerja operasional PT Bakrie Construction.
- Penyertaan modal pada PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) guna membiayai pembangunan fasilitas area istirahat di ruas jalan tol terkait.
- Kebutuhan umum untuk mendukung kegiatan operasional internal perseroan.
Aksi rights issue ini ditetapkan dengan rasio 14 HMETD untuk setiap kepemilikan 27 saham lama bagi para pemegang saham. Periode perdagangan hak tersebut rencananya akan berlangsung mulai tanggal 30 Juni sampai dengan 13 Juli 2026 mendatang.
Menariknya, dua pemegang saham utama yakni Port Fraser International Ltd dan Fountain City Investment Ltd memilih untuk tidak mengambil hak mereka. Keduanya telah sepakat untuk mengalihkan hak tersebut kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI).
Sebagai pembeli siaga, PT Bakrie Capital Indonesia berkomitmen penuh untuk menyerap seluruh saham yang tidak diambil oleh investor lain. Perlu diperhatikan bahwa pemegang saham yang tidak berpartisipasi akan menghadapi risiko dilusi kepemilikan hingga 34,15 persen.
Kinerja Keuangan DOID dan Dividen MERK
Dari laporan kinerja keuangan, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) mencatatkan pendapatan sebesar US$318,18 juta pada kuartal pertama tahun 2026. Angka pendapatan ini mengalami penurunan sebesar 9,57 persen jika dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Walaupun pendapatan turun, manajemen perusahaan berhasil melakukan langkah efisiensi dengan memangkas beban pokok pendapatan hingga 15,45 persen. Hal ini berdampak positif pada penyusutan rugi bersih dari US$70,40 juta menjadi tinggal US$24,28 juta.
Pencapaian operasional DOID juga terlihat dari nilai EBITDA yang melonjak hampir dua kali lipat menjadi US$28 juta. Margin EBITDA perseroan menunjukkan perbaikan kualitas bisnis yang signifikan dari hanya 5 persen pada awal 2025 menjadi 11 persen.
Sementara itu, PT Merck Tbk (MERK) membawa kabar gembira bagi investor dengan rencana pembagian dividen tunai sebesar Rp275 per saham. Total dana yang dialokasikan untuk pemegang saham ini mencapai Rp123,2 miliar atau setara dengan 51,51 persen dari total laba bersih.
Berikut adalah ringkasan performa keuangan dan jadwal dividen PT Merck Tbk (MERK):
| Indikator Keuangan | Nilai/Keterangan |
|---|---|
| Pertumbuhan Pendapatan 2025 | 15,82% (Rp1,20 triliun) |
| Kenaikan Laba Bersih 2025 | 58,95% (Rp243,90 miliar) |
| Estimasi Dividend Yield | 7,05% (Harga Rp3.900) |
| Tanggal Cum Dividen | 5 Juni 2026 |
| Tanggal Pembayaran Dividen | 24 Juni 2026 |
Kinerja MERK sepanjang tahun 2025 memang cukup impresif dengan pertumbuhan laba bersih yang melampaui angka 50 persen. Dengan imbal hasil dividen yang mencapai 7 persen lebih, saham ini menjadi salah satu yang menarik bagi pemburu dividen di pasar farmasi.
Daftar Saham Pilihan untuk Perdagangan Hari Ini
Berdasarkan analisis pasar terkini, terdapat beberapa saham yang layak masuk dalam radar pantauan investor untuk hari ini. Rekomendasi ini mencakup area beli, target harga, serta batas risiko untuk menjaga modal investasi tetap aman.
Beberapa saham pilihan yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:
- AADI: Rekomendasi beli di area 8300-8350 dengan target harga (TP) 8500-8600 dan batas rugi (SL) di 7825.
- BRPT: Rekomendasi beli di area 1915-1925 dengan target harga (TP) 1960-1980 dan batas rugi (SL) di 1810.
- CUAN: Rekomendasi beli di area 620-630 dengan target harga (TP) 650-670 dan batas rugi (SL) di 590.
- KPIG: Rekomendasi beli di area 92-94 dengan target harga (TP) 96-98 dan batas rugi (SL) di 87.
- MBMA: Rekomendasi beli di area 470-474 dengan target harga (TP) 490-498 dan batas rugi (SL) di 444.
Perlu ditekankan kembali bahwa seluruh ulasan mengenai analisis dan rekomendasi saham di atas hanya bersifat sebagai informasi tambahan bagi pembaca. Keputusan akhir dalam melakukan transaksi beli atau jual sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi setiap investor.
Sangat penting bagi Anda untuk selalu menyesuaikan setiap langkah investasi dengan profil risiko masing-masing serta tujuan keuangan jangka panjang. Pastikan Anda melakukan riset mendalam sebelum menempatkan dana pada instrumen pasar modal.