IHSG Melemah ke 6.127, Saham BBCA dan ASII Jadi Pemberat Paling Dicari Pekan Ini

IHSG Melemah ke 6.127, Saham BBCA dan ASII Jadi Pemberat Paling Dicari Pekan Ini
Foto: IHSG Melemah ke 6.127, Saham BBCA dan ASII Jadi Pemberat Paling Dicari Pekan Ini. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pada pekan terakhir Mei 2026 dengan catatan merah. Indeks kebanggaan pasar modal Indonesia ini mengalami pelemahan sebesar 0,56 persen sehingga berada di posisi 6.127,38.

Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), sektor energi dan infrastruktur menjadi penyelamat yang menahan indeks tidak merosot lebih dalam. Sejumlah emiten besar menunjukkan performa yang cukup impresif di tengah tekanan pasar.

Saham Penopang IHSG di Pekan Terakhir Mei

Emiten di bawah naungan Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), memimpin penguatan dengan lonjakan harga hingga 34,69 persen. Pergerakan positif ini berhasil menyumbangkan tambahan 31,36 basis poin bagi pergerakan indeks.

Selain BREN, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga mencatatkan kenaikan yang signifikan. Berikut adalah daftar saham-saham yang menjadi motor penggerak indeks pekan ini:

  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Melonjak 34,69% dan menyumbang 31,36 basis poin bagi indeks.
  • PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Menguat 20,87% dengan kontribusi tambahan sebesar 18,85 poin.
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Harga saham naik 13,79% dan berkontribusi sebanyak 12,15 poin.
  • PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Memperkuat posisi indeks dengan tambahan 11,48 poin.
  • PT Petrosea Tbk (PTRO): Memberikan kontribusi positif terhadap pergerakan indeks sebesar 6,07 poin.

Performa apik dari sektor komoditas dan infrastruktur tersebut memberikan nafas bagi pasar di tengah aksi jual yang masif. Kenaikan harga saham-saham ini menjadi penyeimbang utama dari penurunan sektor lainnya.

Sektor Perbankan dan Otomotif Jadi Pemberat

Di sisi lain, tekanan jual yang cukup tinggi terjadi pada sektor perbankan raksasa, otomotif, hingga ritel konsumsi. Kondisi ini diperparah dengan adanya aksi jual bersih oleh investor asing (net foreign sell) yang menembus angka Rp12,34 triliun dalam sepekan.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penekan utama setelah harga sahamnya menyusut sebesar 3,39 persen. Selain perbankan, emiten otomotif kawakan seperti PT Astra International Tbk (ASII) juga tercatat mengalami koreksi cukup dalam.

Daftar emiten yang memberikan tekanan negatif terhadap IHSG pada penutupan pekan ini:

Nama Emiten (Kode) Penurunan Harga Kontribusi Negatif (Poin)
Bank Central Asia (BBCA) 3,39% 18,74
Astra International (ASII) 7,41% 15,96
Bank Rakyat Indonesia (BBRI) - 15,68
Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) - 10,53
Pacific Strategic Invesco (APIC) - 6,04

Data tabel di atas menunjukkan bahwa sektor perbankan dan ritel memiliki andil besar dalam menarik IHSG ke zona merah. Meskipun begitu, performa pasar modal Indonesia masih tergolong stabil dibandingkan negara tetangga.

Perbandingan dengan Pasar Saham Kawasan ASEAN

Meski mengalami pelemahan, kinerja IHSG pekan ini secara mengejutkan masih jauh lebih tangguh daripada bursa saham lainnya di Asia Tenggara. Penurunan 0,56 persen di Indonesia tergolong moderat jika dibandingkan dengan anjloknya pasar modal negara sahabat.

Sebagai perbandingan, bursa saham Filipina mengalami kejatuhan paling dalam dengan koreksi mencapai 3,23 persen. Sementara itu, Malaysia melemah 1,73 persen, diikuti Vietnam dengan penurunan 0,72 persen, dan Singapura yang terkoreksi tipis 0,60 persen.

Ketangguhan IHSG di level 6.127 ini menunjukkan bahwa daya tahan pasar domestik tetap terjaga meski dihantam gelombang aksi jual asing. Pergerakan saham energi tetap menjadi kunci penggerak utama di akhir bulan Mei ini.

Artikel terkait

Rekomendasi