IHSG Hari Ini Tembus 6.179, Saham BBRI hingga ISAT Jadi Buruan Paling Cuan 2026

IHSG Hari Ini Tembus 6.179, Saham BBRI hingga ISAT Jadi Buruan Paling Cuan 2026
Foto: IHSG Hari Ini Tembus 6.179, Saham BBRI hingga ISAT Jadi Buruan Paling Cuan 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan awal pekan ini dengan hasil yang positif di zona hijau. Pada pembukaan sesi pertama Senin (25/5/2026), indeks terpantau naik signifikan didorong oleh performa kuat beberapa saham unggulan.

Kenaikan IHSG mencapai 0,29 persen yang membawa indeks ke posisi 6.179,67 pada pukul 09.02 WIB. Pergerakan pasar menunjukkan dominasi sentimen beli di tengah upaya pelaku pasar mencari peluang investasi yang menguntungkan.

Rincian Pergerakan Saham di Awal Perdagangan

Berdasarkan data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), kondisi pasar pagi ini diwarnai oleh dominasi saham-saham yang menguat. Tercatat ada 384 saham yang harganya melonjak, sementara 152 saham mengalami penurunan harga.

Sebanyak 423 saham lainnya terpantau bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan posisi dari penutupan sebelumnya. Dinamika ini memberikan harapan bagi investor di tengah fluktuasi pasar global yang masih terjadi.

Daftar saham dari indeks LQ45 yang mencatatkan kenaikan tertinggi pada pembukaan pagi ini:

  • PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA): Memimpin penguatan dengan kenaikan 2,73 persen ke harga Rp226 per lembar saham.
  • PT Indosat Tbk. (ISAT): Menempati posisi kedua dengan kenaikan 2,44 persen yang membawanya ke level Rp2.100.
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI): Menguat 2,30 persen dan diperdagangkan pada posisi Rp3.120.
  • PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK): Mengalami apresiasi sebesar 2,27 persen menuju level harga Rp675.

Selain deretan saham papan atas tersebut, beberapa emiten lain juga menunjukkan kinerja yang cukup solid di zona hijau. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) mencatat kenaikan sebesar 1,56 persen ke posisi Rp1.305.

Sektor mineral dan farmasi juga ikut memberikan kontribusi positif pada pergerakan indeks pagi ini. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) naik 1,35 persen ke Rp1.500, diikuti oleh PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) yang meningkat 1,25 persen ke level Rp810.

Sektor infrastruktur dan industri semen turut menyokong penguatan IHSG melalui pergerakan saham tertentu. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) terpantau naik 1,13 persen sehingga mencapai posisi Rp1.785.

Daftar Saham yang Mengalami Koreksi

Meskipun indeks secara keseluruhan menguat, tidak sedikit saham yang justru tergelincir ke zona merah. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) tercatat sebagai salah satu yang melemah paling dalam dengan penurunan 5,63 persen ke Rp486.

Pelemahan ini diikuti oleh PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang terkoreksi 4,23 persen menjadi Rp362. Sementara itu, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) juga turun 4,10 persen ke posisi Rp1.285.

Berikut adalah ringkasan beberapa saham yang mengalami tekanan jual pada perdagangan awal pekan:

Kode Saham Nama Perusahaan Penurunan (%) Harga Terakhir
BUMI PT Bumi Resources Tbk. 3,78% Rp178
ADRO PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. 2,13% Rp2.300
AMMN PT Amman Mineral Internasional Tbk. 2,07% Rp2.840
ITMG PT Indo Tambangraya Megah Tbk. 2,05% Rp22.700
AMRT PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. 1,75% Rp1.400

Tabel di atas merangkum pergerakan beberapa emiten besar yang mengalami koreksi harga di awal sesi perdagangan hari ini. Investor perlu memperhatikan volatilitas pada sektor energi dan ritel tersebut sebagai bagian dari strategi manajemen risiko.

Analisis Teknikal dan Prediksi Pasar Pekan Ini

Brigita Kinari, seorang Equity Analyst dari Indo Premier Sekuritas, memberikan pandangannya mengenai arah pergerakan pasar. Menurutnya, dalam periode perdagangan singkat antara 25 hingga 29 Mei 2026, IHSG berpotensi melakukan technical rebound meskipun masih terbatas.

Ia menekankan bahwa aktivitas perdagangan pekan ini akan terasa lebih sensitif dengan fluktuasi yang cukup tajam. Hal ini disebabkan oleh jumlah hari perdagangan yang hanya tersedia selama tiga hari saja dalam satu minggu.

Dari sisi domestik, pasar mendapatkan sedikit angin segar dari hasil tinjauan FTSE Russell yang dianggap cukup konstruktif. Kabar ini setidaknya mampu meredam ketakutan investor mengenai potensi aliran modal keluar atau outflow dalam skala besar.

Kebijakan Bank Indonesia dalam menyesuaikan suku bunga acuan juga dinilai mulai menunjukkan hasil yang positif bagi pasar keuangan. Upaya tersebut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah, walaupun penguatannya masih tertahan oleh keperkasaan dolar AS atau Greenback.

Fokus investor saat ini juga tertuju pada kebijakan baru pemerintah mengenai tata kelola ekspor komoditas strategis. Implementasi ekspor satu pintu melalui Danantara yang dijadwalkan mulai 1 Juni 2026 menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar.

Kepastian mengenai aturan tersebut menimbulkan gejolak pada saham-saham di sektor energi dan bahan baku. Investor masih terus menimbang bagaimana kebijakan ini akan mempengaruhi struktur distribusi ekspor nasional di masa mendatang.

Dilihat dari sudut pandang teknikal, posisi IHSG saat ini berada cukup jauh di bawah rata-rata bergerak 50 hari (SMA-50) di level 7.166. Kondisi ini menjadi indikator bahwa tren pelemahan dalam jangka menengah masih memegang kendali atas pergerakan pasar.

Meskipun pada Jumat (22/5) lalu indeks sempat naik 1,10 persen, tantangan besar masih membayangi upaya pemulihan ini. Volatilitas diprediksi tetap tinggi mengingat jadwal penyesuaian bobot indeks atau rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026 semakin dekat.

Untuk jangka pendek, IHSG diproyeksikan akan bergerak mendatar atau sideways dengan rentang harga yang cukup lebar. Level pendukung atau support berada di kisaran 5.996 hingga 5.899, sedangkan batas atas atau resistance di angka 6.318 sampai 6.459.

Level 5.899 merupakan titik krusial yang harus dijaga agar peluang pemulihan jangka pendek tetap terbuka lebar bagi investor. Sebaliknya, jika indeks mampu menembus angka 6.318, maka ruang untuk penguatan lebih lanjut akan terbuka semakin luas.

Tekanan jual di pasar diperkirakan akan mulai menyusut setelah periode penataan ulang portofolio indeks atau rebalancing tersebut selesai dilakukan. Hal ini dapat memberikan kesempatan bagi IHSG untuk bergerak ke arah yang lebih stabil secara perlahan.

Stabilitas pasar ini juga akan sangat bergantung pada terjaganya nilai tukar rupiah serta perkembangan situasi geopolitik global. Salah satunya adalah hasil negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat memengaruhi harga energi dunia serta imbal hasil obligasi AS.

Disclaimer: Artikel ini disusun hanya sebagai sumber informasi dan tidak dimaksudkan sebagai perintah atau ajakan untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi beserta risiko yang menyertainya merupakan tanggung jawab pribadi masing-masing pembaca.

Artikel terkait

Rekomendasi