Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan di zona merah dengan koreksi yang cukup dalam. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (26/5/2026), indeks domestik ini merosot 76,15 poin atau sekitar 1,23 persen ke posisi 6.130,190.
Sentimen negatif ini dipicu oleh kecemasan pasar terhadap ketidakpastian perdamaian di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia serta bayang-bayang tekanan inflasi yang signifikan.
Sektor Industri Pimpin Pelemahan Indeks
Sepanjang perdagangan hari ini, sebanyak delapan indeks sektoral terjerembap di zona negatif. Sektor industri mencatat penurunan paling tajam hingga 3,38 persen, diikuti sektor konsumer siklikal dan properti yang masing-masing melemah lebih dari 2 persen.
Tekanan jual ini menghapus penguatan tipis yang sempat terjadi saat pembukaan pasar di pagi hari. Kondisi ini membuat IHSG tidak berdaya menghadapi aksi jual massal dari para investor.
Daftar pergerakan saham unggulan di indeks LQ45 pada perdagangan hari ini:
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Menguat 5,46 persen ke harga Rp 3.090.
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Naik 5,07 persen menjadi Rp 1.555.
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): Meningkat 3,91 persen ke level Rp 505.
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO): Anjlok 10,68 persen ke harga Rp 4.890.
- PT Astra Internasional Tbk (ASII): Melemah 8,48 persen ke level Rp 5.125.
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT): Terkoreksi 8,11 persen ke Rp 1.190.
Data di atas merangkum saham-saham yang mencatatkan keuntungan tertinggi (top gainers) dan penurunan terdalam (top losers). Pergerakan ini mencerminkan fluktuasi tajam di pasar modal domestik.
Nilai Tukar Rupiah Terkapar di Hadapan Dolar AS
Nasib serupa juga dialami mata uang Garuda yang melemah pada penutupan perdagangan hari ini. Rupiah turun 53 poin atau 0,29 persen, sehingga kini berada di posisi Rp 17.796 per dollar Amerika Serikat (AS).
Konflik geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah menjadi beban utama bagi mata uang domestik dan pasar saham. Ketegangan global tersebut berdampak langsung pada biaya operasional di berbagai sektor industri.
Ibrahim Assuaibi, seorang analis mata uang dan komoditas, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah memperberat beban industri. Biaya produksi melonjak karena harga bahan bakar minyak nonsubsidi ikut terkerek naik akibat krisis global.
Dampak Nyata Pelemahan Ekonomi Terhadap Tenaga Kerja
Gejolak ekonomi ini mulai berdampak nyata pada kelangsungan usaha dan nasib para pekerja. Risiko Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kini membayangi banyak perusahaan karena meningkatnya biaya impor dan merosotnya pasar ekspor.
Beberapa perusahaan mulai mengambil kebijakan drastis untuk menghadapi tekanan ekonomi:
- PT Xacti Indonesia: Menghentikan operasional pabrik di Depok yang berdampak pada PHK terhadap 350 karyawan.
- CV Asri: Perusahaan komponen otomotif di Sidoarjo ini merumahkan 200 pekerjanya akibat penurunan drastis pada angka penjualan kendaraan.
Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya dampak pelemahan kurs dan ketidakpastian global terhadap sektor riil. Penurunan daya beli dan tingginya biaya logistik menjadi faktor utama di balik keputusan berat perusahaan-perusahaan tersebut.
| Indikator Ekonomi | Posisi Terakhir | Perubahan |
|---|---|---|
| IHSG | 6.130,190 | Turun 1,23% |
| Kurs Rupiah | Rp 17.796 / USD | Melemah 0,29% |
Tabel ini memberikan gambaran ringkas mengenai performa pasar keuangan domestik pada penutupan sesi perdagangan terakhir. Data menunjukkan adanya tekanan yang sejalan antara indeks saham dan nilai tukar mata uang.