IHSG Hari Ini Melesat ke Level 6.210, Simak Prediksi Saham Terbaru 2026

IHSG Hari Ini Melesat ke Level 6.210, Simak Prediksi Saham Terbaru 2026
Foto: IHSG Hari Ini Melesat ke Level 6.210, Simak Prediksi Saham Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan di bulan Juni 2026 dengan performa yang cukup impresif. Pergerakan indeks menunjukkan pembalikan arah yang positif setelah terus mengalami tekanan pada bulan sebelumnya.

Pada pembukaan sesi Selasa (2/6/2026), IHSG tercatat melesat sebesar 82,62 poin atau menguat 1,35 persen. Kenaikan ini membawa indeks mendarat ke level 6.210 pada awal perdagangan pagi hari.

IHSG sempat bergerak pada rentang harga antara 6.111,97 hingga 6.153,71. Aktivitas pasar terpantau cukup ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp653,25 miliar dan volume saham sebanyak 494,58 juta lembar.

Frekuensi transaksi yang tercatat pada awal sesi tersebut mencapai 48 ribu kali. Berdasarkan data pergerakan saham, terdapat 245 saham yang menguat, 119 saham melemah, dan 329 saham lainnya bergerak stagnan.

Fokus Pasar pada Data Makro dan Kebijakan Baru

Para pelaku pasar saat ini tengah menyoroti berbagai rilis data makroekonomi penting dari dalam maupun luar negeri. Selain data ekonomi, perhatian juga tertuju pada implementasi kebijakan domestik strategis dan dinamika geopolitik global.

Salah satu poin krusial adalah langkah pemerintah yang mulai menjalankan kebijakan baru per 1 Juni 2026 terkait pengelolaan devisa ekspor. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing di tanah air.

Pemerintah resmi membentuk PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai pengelola ekspor satu pintu. Entitas ini khusus menangani tiga komoditas utama, yaitu batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy.

Ketiga komoditas strategis tersebut memberikan kontribusi ekspor yang sangat signifikan bagi Indonesia. Pada tahun 2025, nilainya mencapai US$66,13 miliar atau setara dengan 23,4 persen dari total ekspor nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut kebijakan ini merupakan langkah memperbaiki tata kelola sumber daya alam. Ia menegaskan pentingnya pengawasan agar nilai ekspor yang tercatat sesuai dengan transaksi yang sebenarnya.

Proses evaluasi akan dilakukan pemerintah setiap tiga bulan sekali selama masa transisi. Rencananya, implementasi penuh dari mekanisme ekspor satu pintu ini akan berlaku pada 1 Januari 2027 mendatang.

Aturan Baru Devisa Hasil Ekspor (DHE)

Pemerintah juga mulai memberlakukan PP Nomor 21 Tahun 2026 mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Aturan ini mewajibkan eksportir untuk menempatkan dana mereka di sistem perbankan dalam negeri.

Berikut adalah detail kewajiban penempatan devisa berdasarkan sektornya:
  • Eksportir sektor non-migas wajib menempatkan 100 persen DHE di rekening khusus domestik dengan jangka waktu minimal 12 bulan.
  • Eksportir sektor migas diwajibkan menempatkan 30 persen dari total devisa mereka selama minimal tiga bulan.
  • Konversi devisa ke mata uang rupiah dibatasi maksimal sebesar 50 persen dari total dana yang ditempatkan.

Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat cadangan devisa nasional secara signifikan. Selain itu, langkah ini juga diproyeksikan dapat meningkatkan dampak positif ekspor terhadap stabilitas sistem keuangan di Indonesia.

Sebagai bentuk dukungan, pemerintah telah menyiapkan insentif perpajakan bagi para eksportir yang patuh. Insentif tersebut berupa pemberian tarif Pajak Penghasilan (PPh) yang lebih rendah dibandingkan tarif normal.

Kondisi Pasar Saham Asia-Pasifik

Berbanding terbalik dengan IHSG, bursa saham di kawasan Asia-Pasifik justru cenderung dibuka pada zona merah. Pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Meskipun indeks utama di Wall Street sempat mencetak rekor tertinggi, investor di Asia tetap memilih untuk bersikap waspada. Hal ini terlihat dari koreksi yang terjadi pada beberapa indeks utama di kawasan tersebut.

Rincian pergerakan bursa saham di kawasan Asia-Pasifik pada pembukaan perdagangan:

Indeks Saham Negara Persentase Perubahan
Nikkei 225 Jepang Turun 0,52%
Topix Jepang Turun 0,98%
Kospi Korea Selatan Turun 0,32%
Kosdaq Korea Selatan Turun 2,50%
S&P/ASX 200 Australia Turun 0,67%

Data di atas menunjukkan tekanan jual yang cukup merata di pasar saham utama Asia pagi ini. Koreksi terdalam dialami oleh indeks Kosdaq di Korea Selatan yang merosot hingga 2,5 persen.

Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng di Hong Kong juga berada di posisi yang lebih rendah yakni pada level 25.207. Angka ini menyusut jika dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di 25.398,18.

Ketidakpastian geopolitik semakin terasa setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan yang meremehkan pembicaraan damai dengan Iran. Dalam wawancara dengan CNBC, ia menyatakan tidak terlalu khawatir jika negosiasi tersebut harus berakhir tanpa hasil.

Artikel terkait

Rekomendasi