IHSG Hari Ini Anjlok ke 6.130, Saham ASII dan AMRT Kompak Merah Paling Banyak Dicari

IHSG Hari Ini Anjlok ke 6.130, Saham ASII dan AMRT Kompak Merah Paling Banyak Dicari
Foto: IHSG Hari Ini Anjlok ke 6.130, Saham ASII dan AMRT Kompak Merah Paling Banyak Dicari. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa ditutup di zona merah pada sesi perdagangan hari Selasa, 26 Mei 2026. Pelemahan ini terlihat cukup signifikan setelah indeks terkoreksi lebih dari satu persen hingga akhir perdagangan.

Berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks kebanggaan nasional tersebut merosot 1,23 persen dan mendarat di posisi 6.130,19. Pergerakan pasar modal hari ini tercatat cukup fluktuatif dengan rentang harga di antara 6.124,79 hingga mencapai level tertinggi di 6.286,87.

Kondisi pasar didominasi oleh tekanan jual yang membuat mayoritas saham berakhir di zona negatif. Secara keseluruhan, terdapat 461 saham yang mengalami penurunan harga, sementara hanya 258 saham yang mampu menguat, dan 240 saham lainnya tidak bergerak atau stagnan.

Sejumlah saham blue chip yang tergabung dalam indeks LQ45 turut memberikan tekanan besar terhadap pergerakan indeks hari ini. Penurunan ini dipimpin oleh emiten pertambangan nikel dan raksasa otomotif yang mencatatkan koreksi cukup dalam.

Daftar Saham yang Mengalami Koreksi Tajam

Beberapa emiten ternama tercatat mengalami pelemahan harga yang cukup signifikan pada perdagangan sore ini:

  • PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang anjlok hingga 10,68 persen ke posisi Rp4.890 per lembar saham.
  • PT Astra International Tbk. (ASII) menyusul dengan pelemahan sebesar 8,48 persen menuju level Rp5.125.
  • PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) atau pengelola Alfamart terkoreksi 8,11 persen menjadi Rp1.190.
  • PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) turun 5,71 persen ke angka Rp330 per saham.
  • PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) melemah 4,56 persen ke harga Rp2.720.
  • PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) turun sebesar 4,03 persen menjadi Rp476.
  • PT XL Axiata Tbk. (EXCL) mengalami depresiasi harga 3,82 persen ke level Rp2.770.
  • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) merosot 3,60 persen ke posisi Rp1.340.

Pelemahan yang terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar ini menjadi beban utama yang menyeret IHSG jatuh lebih dalam. Para investor tampaknya cenderung melakukan aksi jual pada sektor-sektor strategis seperti perbankan, ritel, dan pertambangan.

Daftar Saham yang Mampu Bertahan dan Menguat

Di tengah lesunya pasar, masih terdapat beberapa emiten yang berhasil mencatatkan rapor hijau dan memberikan perlawanan terhadap tren penurunan. Sektor telekomunikasi dan energi terpantau mendominasi barisan saham yang menguat hari ini.

Berikut adalah daftar emiten yang sukses membukukan kenaikan harga di tengah tekanan pasar:

Kode Saham Nama Emiten Kenaikan (%) Harga Terakhir (Rp)
TLKM Telkom Indonesia (Persero) Tbk. 5,46% 3.090
BRPT Barito Pacific Tbk. 5,07% 1.555
CUAN Petrindo Jaya Kreasi Tbk. 3,91% 505
CPIN Charoen Pokphand Indonesia Tbk. 1,82% 4.480
PTBA Bukit Asam (Persero) Tbk. 1,43% 2.840
PGAS Perusahaan Gas Negara Tbk. 1,07% 1.895
AADI Adaro Andalan Indonesia Tbk. 0,91% 8.325
ITMG Indo Tambangraya Megah Tbk. 0,89% 22.725

Performa positif dari emiten seperti Telkom dan Barito Pacific memberikan sedikit bantalan bagi indeks agar tidak jatuh lebih terperosok. Kenaikan pada saham-saham energi seperti PTBA dan ITMG juga didorong oleh sentimen sektoral yang masih cukup kuat.

Analisis dan Prediksi Pergerakan Pasar ke Depan

Menanggapi situasi ini, Reza Diofanda selaku Analis Teknikal dari BRI Danareksa Sekuritas memberikan pandangannya mengenai posisi teknikal indeks saat ini. Ia menilai IHSG sebenarnya sudah menunjukkan kemampuan untuk bertahan di area support krusial.

Menurut pantauannya, indeks saat ini berada dalam rentang support 5.900 hingga 6.100 yang dianggap cukup kuat. Hal ini membuka peluang bagi IHSG untuk melakukan aksi rebound atau pembalikan arah meskipun masih dalam skala terbatas.

Reza memproyeksikan target penguatan terdekat berada di level resistansi antara 6.250 sampai dengan 6.300. Namun, ia mengingatkan pembaca bahwa pergerakan pasar ke depan diprediksi akan tetap berada dalam kondisi yang sangat dinamis.

Ada beberapa faktor global dan domestik yang menjadi perhatian utama para pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi. Salah satunya adalah perkembangan negosiasi diplomatik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran yang terus dipantau intensif.

Selain sentimen geopolitik, agenda rebalancing indeks MSCI juga turut mempengaruhi aliran dana di pasar modal. Para manajer investasi biasanya melakukan penyesuaian portofolio yang berdampak pada volume perdagangan saham-saham tertentu.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah potensi terjadinya aksi ambil untung atau profit taking oleh para investor. Hal ini lazim terjadi mengingat pasar akan segera menghadapi periode libur panjang bursa yang biasanya memicu sikap lebih berhati-hati.

Investor disarankan untuk tetap waspada dan memperhatikan manajemen risiko di tengah kondisi pasar yang fluktuatif ini. Perubahan arah pasar dapat terjadi sewaktu-waktu bergantung pada rilis data ekonomi terbaru maupun berita global lainnya.

Keputusan untuk melakukan transaksi jual maupun beli saham sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi masing-masing investor. Artikel ini disusun sebagai sarana informasi dan tidak dimaksudkan sebagai instruksi langsung untuk melakukan investasi tertentu. Segala bentuk keuntungan maupun risiko kerugian yang muncul dari keputusan investasi tersebut menjadi tanggung jawab penuh dari pihak pembaca.

Dengan berakhirnya perdagangan hari ini, perhatian pasar akan tertuju pada pembukaan sesi esok untuk melihat apakah level support 6.100 mampu bertahan. Dinamika pasar modal Indonesia tetap menjadi cerminan dari kondisi ekonomi yang sedang berkembang saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi