IHSG dan Rupiah Terpuruk, Purbaya: Ini Sentimen Jangka Pendek dan Kita Perbaiki

IHSG dan Rupiah Terpuruk, Purbaya: Ini Sentimen Jangka Pendek dan Kita Perbaiki
Foto: Ilustrasi IHSG dan Rupiah Terpuruk, Purbaya: Ini Sentimen Jangka Pendek dan Kita Perbaiki.
Ukuran teks

Kondisi pasar keuangan dalam negeri tengah menghadapi tekanan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami koreksi mendalam.

Pada perdagangan kemarin, IHSG sempat merosot tajam hingga 4 persen dan menyentuh level 6.400-an. Meski sempat tertekan hebat, IHSG akhirnya menutup hari pada level 6.599.

Di saat yang sama, mata uang Garuda juga tidak luput dari gempuran Dolar AS hingga terperosok ke angka Rp17.600 per US$. Kondisi ini memicu perhatian serius dari berbagai kalangan pelaku pasar modal dan ekonomi.

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan respons yang tenang mengenai gejolak di pasar keuangan. Ia menegaskan bahwa anjloknya indeks saham bukan merupakan masalah permanen karena situasi tersebut masih bisa diperbaiki.

Purbaya menilai bahwa pelemahan IHSG saat ini hanyalah dampak dari sentimen negatif dalam jangka pendek. Menurutnya, fondasi ekonomi nasional masih berada dalam posisi yang sangat kuat hingga saat ini.

Pemerintah tetap merasa optimistis bahwa pergerakan IHSG akan kembali pulih dalam waktu dekat. Fokus utama saat ini adalah menjaga pilar ekonomi agar agenda pembangunan nasional tidak mengalami gangguan.

Purbaya memberikan pernyataan resmi mengenai strategi pemerintah dalam menghadapi situasi pasar saat ini:

  • Fondasi ekonomi Indonesia masih sangat bagus dan terjaga.
  • Gejolak pasar saham saat ini murni merupakan masalah sentimen jangka pendek.
  • Pemerintah berkomitmen memastikan pembangunan ekonomi berjalan tanpa kendala.
  • Masyarakat dan investor diimbau untuk tidak panik menghadapi fluktuasi harga.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Purbaya saat berada di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, pada Senin (18/5/2026). Ia menekankan bahwa perbaikan akan terus dilakukan demi stabilitas pasar modal tanah air.

Bukan Krisis 1998

Menteri Keuangan juga menepis kekhawatiran masyarakat yang membandingkan kondisi saat ini dengan krisis ekonomi hebat pada tahun 1998. Ia memahami adanya kekhawatiran tersebut akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.

Namun, Purbaya menegaskan bahwa konteks krisis 1998 sangat berbeda jauh dengan situasi ekonomi yang dihadapi Indonesia sekarang. Perbedaan mendasar terletak pada arah kebijakan dan kondisi fundamental negara.

Pada masa krisis 1998, terjadi kesalahan dalam pengambilan kebijakan yang akhirnya membuat perekonomian anjlok drastis. Selain itu, pada periode tersebut Indonesia sudah mulai masuk ke jurang resesi sejak setahun sebelumnya.

Kondisi saat ini justru menunjukkan hal sebaliknya karena ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh dengan kecepatan yang cukup baik. Purbaya menegaskan Indonesia belum masuk ke fase resesi, sehingga ruang untuk perbaikan masih terbuka lebar.

Berikut adalah ringkasan perbandingan antara kondisi saat ini dengan krisis tahun 1998:

Kategori Perbandingan Kondisi Tahun 1998 Kondisi Saat Ini
Arah Kebijakan Terjadi kesalahan kebijakan Kebijakan lebih terukur dan tepat
Status Pertumbuhan Mengalami resesi ekonomi Ekonomi masih tumbuh kencang
Fondasi Ekonomi Sangat rapuh Terjamin masih sangat kuat

Tabel di atas merangkum pandangan Menteri Keuangan yang menunjukkan bahwa struktur ekonomi saat ini jauh lebih tangguh. Dengan data tersebut, pemerintah berharap kecemasan akan terulangnya krisis masa lalu dapat diredam.

Bahkan, Purbaya secara terbuka mengajak para investor untuk tidak ragu menanamkan modalnya di bursa saham saat ini. Penurunan harga saham dinilai sebagai kesempatan emas untuk melakukan pembelian di harga yang relatif murah.

Ia menyarankan para pelaku pasar untuk memanfaatkan momentum "serok bawah" atau membeli saham saat harga sedang terkoreksi. Investor pasar modal diminta untuk tidak khawatir berlebihan dan tetap jeli melihat peluang investasi.

Intervensi Melalui Pasar Obligasi

Untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah, pemerintah tidak tinggal diam dan telah mengambil langkah nyata di pasar obligasi. Purbaya mengungkapkan adanya intervensi pasar sebesar Rp2 triliun setiap harinya.

Langkah strategis ini diprediksi akan membuat Rupiah kembali menguat dalam waktu dekat. Pemerintah akan terus masuk ke pasar surat utang negara atau bond market secara bertahap demi menjaga keseimbangan.

Investasi asing dilaporkan juga sudah mulai masuk kembali ke pasar keuangan domestik. Hal ini memberikan harapan bahwa stabilitas pasar akan semakin membaik dalam kurun waktu satu minggu ke depan.

Purbaya menjelaskan mekanisme intervensi pasar yang dilakukan oleh pemerintah sebagai berikut:

  • Pemerintah masuk ke pasar obligasi dengan dana Rp2 triliun setiap hari.
  • Dana tersebut bersumber dari pengelolaan kas negara dan Saldo Anggaran Lebih (SAL).
  • Tujuannya untuk menciptakan sentimen positif agar investor asing tetap bertahan.
  • Menjaga stabilitas harga obligasi agar yield atau imbal hasil cenderung menurun.

Penjelasan mengenai intervensi ini disampaikan Purbaya usai bertemu dengan Presiden Prabowo di Kompleks Istana Kepresidenan. Purbaya menegaskan bahwa penggunaan anggaran SAL yang mencapai Rp420 triliun ini merupakan bagian dari manajemen kas yang aman.

Ia memastikan bahwa dana tersebut tidak hilang, melainkan hanya diputar untuk menjaga kepercayaan pasar obligasi. Stabilitas di sektor obligasi dianggap sangat krusial agar arus modal keluar atau capital outflow bisa dicegah.

Jika harga obligasi stabil dan imbal hasilnya turun, maka nilai aset tersebut akan naik dan memberikan potensi keuntungan bagi pemegangnya. Hal inilah yang diharapkan mampu membuat pasar obligasi Indonesia tetap menarik di mata investor global.

Purbaya optimistis bahwa dengan terjaganya pasar obligasi, nilai tukar Rupiah akan cenderung lebih terkendali. Langkah ini menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam menavigasi gejolak pasar keuangan global yang sedang terjadi.

Artikel terkait

Rekomendasi