Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk cukup dalam pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026). Indeks berakhir di zona merah setelah pasar merespons sejumlah sentimen domestik terkait kebijakan fiskal dan tata niaga ekspor.
Berdasarkan data dari IDX Mobile, IHSG mengalami pelemahan signifikan sebesar 223,56 poin atau turun 3,54 persen. Hal ini membuat posisi indeks parkir pada level 6.094,94 di penghujung sesi perdagangan.
Sepanjang hari perdagangan tersebut, pergerakan indeks terpantau sangat fluktuatif. Indeks sempat menyentuh titik tertinggi pada level 6.378,81, sebelum akhirnya merosot ke area terendah di posisi 6.080,95.
Aktivitas perdagangan tetap terlihat dinamis dengan mencatatkan total nilai transaksi mencapai Rp18,27 triliun. Adapun volume saham yang berpindah tangan tercatat sebanyak 33,63 miliar lembar saham.
Frekuensi perdagangan saham di pasar modal sepanjang hari itu tercatat mencapai 2,121 juta kali transaksi. Dari sisi pergerakan harga, mayoritas saham penghuni bursa berakhir di zona negatif.
Tercatat hanya 91 saham yang berhasil menguat atau menghijau di tengah gempuran aksi jual. Sementara itu, sebanyak 700 saham terpantau mengalami koreksi harga dan 168 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Saham-Saham yang Menjadi Penekan Indeks
Pelemahan tajam IHSG kali ini didorong oleh koreksi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor energi dan material dasar. Beberapa anggota indeks elit LQ-45 terlihat memimpin penurunan harga sore ini.
Daftar emiten yang mengalami penurunan signifikan antara lain adalah sebagai berikut:
- PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) mengalami penurunan tajam 14,84 persen dan ditutup pada harga Rp1.320 per saham.
- PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang terkoreksi hingga 11,64 persen hingga menyentuh level harga Rp334.
- PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) milik konglomerat Prajogo Pangestu menyusut 11,05 persen ke posisi Rp1.530.
- PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) mencatatkan penurunan sebesar 11,85 persen dan parkir di level Rp476.
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) ikut melemah sebesar 9,32 persen ke level harga Rp535 per saham.
- PT XL Axiata Tbk. (EXCL) turut masuk dalam barisan pelemahan dengan turun 8,59 persen ke harga Rp2.660.
Penurunan harga pada emiten-emiten di atas memberikan tekanan beban yang cukup berat bagi pergerakan indeks secara keseluruhan. Sentimen negatif di sektor sumber daya alam menjadi pemicu utama aksi lepas saham oleh investor.
Saham yang Masih Bertahan di Zona Hijau
Meskipun kondisi pasar sedang dalam tekanan hebat, masih terdapat beberapa emiten yang mampu menunjukkan performa positif. Kenaikan harga pada saham-saham ini setidaknya mampu sedikit menahan indeks agar tidak jatuh lebih dalam lagi.
Berikut adalah jajaran saham yang berhasil mencatatkan penguatan di akhir perdagangan:
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) memimpin penguatan dengan kenaikan 2,49 persen ke level Rp1.440.
- PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) menyusul dengan kenaikan harga sebesar 2,40 persen ke posisi Rp4.170.
- PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) terpantau menguat 2,36 persen menuju level harga Rp3.040.
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) naik 2,27 persen sehingga berakhir pada level harga Rp6.750.
- PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) turut menghijau 1,39 persen ke harga Rp1.825 per saham.
Dukungan dari sektor konsumer dan gas bumi ini memberikan bantalan bagi pasar di tengah volatilitas yang tinggi. Namun, kekuatan beli pada saham-saham tersebut belum cukup untuk membalikkan arah indeks ke zona positif.
Dampak Asumsi RAPBN 2027 dan Kebijakan Ekspor
Tim riset dari Phintraco Sekuritas mengungkapkan bahwa sentimen dari dalam negeri menjadi faktor dominan yang memengaruhi psikologi pasar. Investor tengah mencermati pidato Presiden RI di Gedung DPR yang membahas rencana keuangan negara.
Salah satu poin utama yang disoroti adalah target defisit anggaran untuk tahun 2027. Pemerintah memproyeksikan angka defisit berada di kisaran 1,8 persen hingga 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah juga telah merancang asumsi dasar ekonomi makro untuk penyusunan RAPBN 2027 mendatang. Kerangka ekonomi ini mencakup berbagai indikator penting yang akan memengaruhi iklim investasi nasional.
Beberapa asumsi makro ekonomi dalam RAPBN 2027 yang disampaikan adalah sebagai berikut:
- Target pertumbuhan ekonomi nasional dipatok pada rentang 5,8 persen hingga 6,5 persen.
- Tingkat inflasi dijaga agar tetap terkendali pada kisaran 1,5 persen sampai 3,5 persen.
- Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS diproyeksikan berada di angka Rp16.800 hingga Rp17.500 per US$.
- Suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di kisaran 6,5 persen sampai 7,3 persen.
Proyeksi nilai tukar rupiah dan suku bunga SBN menjadi perhatian khusus bagi para pelaku pasar modal. Hal ini dikarenakan variabel tersebut berkaitan langsung dengan beban biaya perusahaan dan daya tarik aset keuangan Indonesia.
Kebijakan Baru Ekspor Satu Pintu
Sentimen lain yang memicu kekhawatiran pelaku pasar adalah pengumuman kebijakan ekspor sumber daya alam (SDA). Pemerintah berencana menerapkan sistem satu pintu melalui badan usaha milik negara (BUMN).
Presiden menyatakan bahwa perusahaan negara akan ditunjuk sebagai pengekspor tunggal untuk komoditas tertentu. Langkah ini diambil guna memperkuat kedaulatan sumber daya serta tata kelola niaga yang lebih terintegrasi.
Implementasi kebijakan ekspor satu pintu ini rencananya akan menyasar komoditas utama Indonesia. Sebagai tahap awal, aturan baru ini bakal berlaku untuk komoditas batu bara, CPO (minyak sawit mentah), dan paduan besi.
Akibat kebijakan yang cukup mendadak ini, banyak investor yang memilih untuk bersikap hati-hati (wait and see). Mereka sedang menghitung dampak jangka panjang dari model ekspor terpusat tersebut terhadap profitabilitas emiten SDA.
Pasar diperkirakan masih akan terus mencermati detail pelaksanaan dari asumsi RAPBN 2027 dan mekanisme ekspor BUMN. Volatilitas di bursa kemungkinan masih akan bertahan selama proses transisi kebijakan ini berlangsung.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini hanya bersifat berita dan tidak dimaksudkan sebagai arahan untuk melakukan jual atau beli saham tertentu. Keputusan untuk berinvestasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan hak pribadi setiap pembaca.