Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, melakukan inspeksi mendadak ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa pagi. Agenda ini dilakukan untuk meninjau kondisi pasar modal di tengah tren pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Dalam kunjungan tertutup tersebut, Dasco didampingi oleh CEO Danantara Rosan Roeslani serta COO Danantara Dony Oskaria. Hadir pula Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, untuk memantau langsung stabilitas domestik.
Respons Otoritas Bursa Terhadap Koreksi IHSG
Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memberikan penjelasan terkait kondisi indeks yang saat ini tengah mengalami tekanan cukup berat. Menurutnya, penurunan yang terjadi saat ini merupakan dampak akumulasi dari pergerakan pasar global di Asia.
Jeffrey menyebut bahwa koreksi ini masih sejalan dengan tren internasional, terutama karena adanya akumulasi penurunan selama pasar domestik libur. Ia menegaskan bahwa situasi ini merupakan fenomena pasar yang wajar dan masih dalam batas yang terukur.
Oleh karena itu, otoritas bursa mengimbau agar para investor tidak terjebak dalam aksi jual panik atau panic selling. Para pelaku pasar diminta tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh gejolak psikologis pasar yang bersifat sementara.
Beberapa saran penting bagi investor dalam menghadapi kondisi pasar saat ini adalah:
- Menganalisis strategi investasi kembali sesuai dengan profil risiko masing-masing individu.
- Mengutamakan pengamatan terhadap fundamental emiten dibandingkan terpengaruh isu sesaat.
- Tetap jernih dalam mengambil keputusan dan tidak terburu-buru melakukan transaksi besar.
- Memantau perkembangan pasar global sebagai referensi pergerakan indeks domestik.
Himbauan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasar modal Indonesia agar tetap kondusif bagi pertumbuhan investasi jangka panjang. Dengan tetap berpegang pada data fundamental, investor dapat terhindar dari kerugian akibat keputusan yang emosional.
Struktur Pasar Modal Indonesia Saat Ini Lebih Tangguh
Pihak BEI juga menepis kekhawatiran masyarakat yang membandingkan kondisi pasar saat ini dengan keterpurukan saat pandemi Covid-19. Jeffrey menegaskan bahwa struktur pasar modal tanah air kini jauh lebih matang dan memiliki daya tahan yang lebih kuat.
Salah satu bukti kekuatan tersebut adalah melonjaknya basis investor domestik yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, jumlah investor di Indonesia tercatat telah menembus angka 27 juta orang, sebuah pencapaian yang memperkuat pondasi pasar.
Berikut adalah ringkasan data pergerakan pasar saat peninjauan berlangsung:
| Indikator Pasar | Keterangan Statistik |
|---|---|
| Level IHSG (09.25 WIB) | 6.576,07 |
| Persentase Penurunan | 0,35 Persen |
| Jumlah Saham Menguat | 261 Saham |
| Jumlah Saham Melemah | 197 Saham |
| Jumlah Saham Stagnan | 501 Saham |
Data tersebut menunjukkan dinamika pasar yang masih aktif meski berada di zona merah sejak pembukaan perdagangan. Meskipun banyak saham yang stagnan, partisipasi investor lokal tetap menjadi kunci penopang stabilitas indeks di tengah tekanan eksternal.
Kunjungan para pejabat tinggi negara ini menegaskan komitmen pemerintah dan otoritas terkait dalam menjaga kepercayaan publik terhadap pasar modal. Pengawasan ketat terus dilakukan guna memastikan iklim investasi tetap aman dan terkendali bagi seluruh elemen masyarakat.