IHSG Anjlok 4,11 Persen, Terperosok ke Level Terendah dalam Setahun Terakhir pada 2026

IHSG Anjlok 4,11 Persen, Terperosok ke Level Terendah dalam Setahun Terakhir pada 2026
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok 4,11 Persen, Terperosok ke Level Terendah dalam Setahun Terakhir pada 2026.
Ukuran teks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa yang mengkhawatirkan pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Indeks saham kebanggaan Indonesia ini terpantau anjlok sangat dalam hingga menyentuh level terendahnya dalam setahun terakhir.

Berdasarkan data perdagangan pada awal sesi kedua, IHSG ambles sebesar 4,11% atau kehilangan 270,91 poin. Koreksi tajam ini membuat posisi indeks terjun bebas ke level 6.328,28.

Kondisi ini menyebabkan nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia ikut menyusut hingga Rp 415 triliun dibandingkan hari sebelumnya. Saat ini, total kapitalisasi pasar tercatat berada di angka Rp 11.137 triliun.

Data menunjukkan mayoritas emiten mengalami tekanan jual yang sangat masif sepanjang hari ini. Sebanyak 661 emiten terjerembab di zona merah, sementara hanya 74 emiten yang sanggup menguat dan 80 lainnya stagnan.

Aktivitas perdagangan berlangsung sangat sibuk dengan nilai transaksi mencapai Rp 17,72 triliun. Volume saham yang berpindah tangan tercatat sebanyak 33,36 miliar lembar melalui 2,04 juta kali transaksi.

Daftar emiten yang menjadi pemberat utama pergerakan IHSG pada hari ini:

  • Ekamas Mora Republik (MORA): Mengalami penurunan sebesar 11,41% dan menyumbang bobot koreksi -13,45 poin.
  • Chandra Asri (TPIA): Memberikan tekanan signifikan terhadap indeks dengan kontribusi pelemahan sebesar -11,16 poin.
  • Amman Mineral (AMMN): Turut menyeret indeks ke zona merah dengan dampak penurunan sebesar -10,63 poin.
  • Bank Central Asia (BBCA): Salah satu saham perbankan raksasa ini ikut melemah dengan kontribusi -9,37 poin.
  • Dian Swastatika Sentosa (DSSA): Mencatatkan pelemahan yang setara dengan kontribusi negatif sebesar -9,26 poin.

Hampir seluruh sektor industri berakhir di teritori negatif, dengan sektor bahan baku menjadi yang paling parah karena merosot hingga 8,4%. Satu-satunya sektor yang berhasil bertahan dari badai koreksi ini hanyalah sektor kesehatan.

Penyebab Utama Kejatuhan IHSG

Sentimen negatif bermula dari keputusan indeks global yang mengeluarkan beberapa saham emiten besar Indonesia. Tekanan semakin berat setelah FTSE Russell mengumumkan potensi penghapusan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC).

Langkah tegas FTSE ini diambil untuk menjaga integritas pasar menyusul kebijakan transparansi yang diperketat oleh otoritas bursa. Saham-saham yang masuk dalam daftar peringatan karena hanya dikuasai segelintir pihak terancam dikeluarkan pada Juni 2026.

Kebijakan penghapusan pada "harga nol" diterapkan karena likuiditas saham tersebut dinilai memburuk secara signifikan. Hal ini dikhawatirkan membuat pengelola dana indeks kesulitan menemukan pembeli saat ingin melakukan penjualan saham.

Ringkasan perbandingan dampak pasar yang dialami oleh para investor saat ini:

Indikator Pasar Kondisi Terbaru Dampak ke Investor
Kapitalisasi Pasar Turun Rp 415 Triliun Nilai portofolio secara keseluruhan menyusut tajam.
Jumlah Saham Turun 661 Emiten Pilihan aset aman di bursa menjadi sangat terbatas.
Posisi Rupiah Rp 17.730 per USD Beban impor meningkat dan memicu aliran modal keluar.

Data di atas menggambarkan betapa besarnya tekanan yang dihadapi pasar modal Indonesia akibat kombinasi sentimen global dan pelemahan mata uang. Ketidakpastian mengenai posisi saham RI di indeks internasional menjadi faktor utama kekhawatiran pelaku pasar.

Tekanan Eksternal dan Nilai Tukar

Selain sentimen dari penyedia indeks global, performa rupiah yang melemah turut memperkeruh kondisi pasar modal. Mata uang Garuda terpantau kembali menembus level psikologis baru terhadap dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan data Refinitiv pada siang hari ini, nilai tukar rupiah melemah 0,51% ke posisi Rp 17.730 per dolar AS. Tren pelemahan ini sebenarnya sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi hari tadi.

Pelemahan nilai tukar yang berkelanjutan seringkali diiringi dengan aksi jual investor asing di pasar saham. Situasi ini membuat IHSG sulit untuk mendapatkan tenaga guna berbalik arah ke zona hijau dalam waktu dekat.

Artikel terkait

Rekomendasi