IHSG Anjlok 2 Persen Siang Ini, Ternyata Ini Penyebab Utamanya: Mengejutkan!

IHSG Anjlok 2 Persen Siang Ini, Ternyata Ini Penyebab Utamanya: Mengejutkan!
Foto: IHSG Anjlok 2 Persen Siang Ini, Ternyata Ini Penyebab Utamanya: Mengejutkan!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kontraksi hebat hingga menyentuh angka 2 persen pada pengujung sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). Hingga pukul 11.11 WIB, indeks merosot tajam sebesar 136,33 poin ke posisi 6.462,91, bahkan sempat tertekan lebih dalam hingga level terendah di 6.428,63.

Kondisi pasar terpantau cukup volatil dengan 525 saham yang memerah, berbanding terbalik dengan 183 saham yang menguat dan 251 saham stagnan. Aktivitas transaksi di bursa tergolong tinggi dengan nilai mencapai Rp11,98 triliun dari hasil pertukaran 19,56 miliar lembar saham.

Kemerosotan yang terjadi siang ini memperpanjang tren negatif sejak hari sebelumnya. Pada Senin kemarin, IHSG sebenarnya sempat terperosok hingga lebih dari 4 persen sebelum akhirnya berhasil bangkit dan menutup perdagangan dengan pelemahan 1,85 persen.

Penyebab Utama Kejatuhan Sektor Bahan Baku

Berdasarkan data dari Refinitiv, hampir seluruh sektor saham berada di zona negatif, kecuali sektor kesehatan yang masih mampu bertahan. Sektor bahan baku menjadi beban terberat pasar dengan penurunan mencapai 7,4 persen akibat aksi jual pada saham-saham grup tertentu.

Emiten Chandra Asri (TPIA) tercatat sebagai penekan utama setelah harganya anjlok 15 persen dan berkontribusi menurunkan indeks sebesar 11,16 poin. Saham-saham besar lainnya seperti Amman Mineral (AMMN), Mora Telematika (MORA), dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) turut menyumbang pelemahan yang cukup signifikan.

Tiga dari empat emiten yang menjadi pemberat indeks tersebut diketahui baru saja keluar dari keanggotaan indeks MSCI. Sentimen negatif ini sebenarnya mulai terasa sejak akhir pekan lalu saat pengumuman perombakan indeks global tersebut dirilis ke publik.

Sentimen Negatif dari FTSE Russell

Beban IHSG semakin bertambah setelah FTSE Russell memberikan sinyal akan menghapus saham-saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC). Kebijakan ini sejalan dengan langkah otoritas pasar modal Indonesia yang mulai transparan merilis daftar emiten dengan kepemilikan saham terpusat pada segelintir pihak.

FTSE Russell menegaskan bahwa emiten yang masuk dalam radar peringatan otoritas bursa terkait masalah likuiditas dan kepemilikan akan didepak pada tinjauan mendatang. Keputusan tegas ini diambil untuk menjaga integritas indeks agar tetap mencerminkan kondisi pasar yang sehat.

Rangkuman poin penting dari kebijakan terbaru FTSE Russell:

  • Penghapusan saham akan dilakukan pada harga nol untuk menjaga replikabilitas indeks bagi pengelola dana.
  • Kebijakan ini efektif mulai pembukaan perdagangan pada Senin, 22 Juni 2026 mendatang.
  • Langkah ini diambil karena likuiditas saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dinilai sangat buruk dan berisiko bagi investor institusi.
  • Investor pengelola dana indeks dikhawatirkan sulit menemukan pembeli jika harus menjual saham tersebut secara tiba-tiba.

Kebijakan "harga nol" tersebut menjadi bentuk perlindungan bagi pengelola dana pasif yang sering kali kesulitan keluar dari posisi saham yang tidak likuid. Hal ini tentu menjadi tekanan psikologis tersendiri bagi para pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia.

Rupiah Tembus Level Psikologis Baru

Selain faktor teknis di bursa saham, tekanan pada IHSG juga dipicu oleh nilai tukar rupiah yang terus melemah. Mata uang Garuda kini berada di level psikologis baru dan belum menunjukkan tanda-tanda penguatan dalam waktu dekat.

Berikut adalah detail pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini:

Waktu Pemantauan Posisi Nilai Tukar Persentase Perubahan
Pembukaan Pasar Rp17.650/US$ Melemah 0,06%
Pukul 09.13 WIB Rp17.700/US$ Melemah 0,34%

Data di atas menunjukkan bahwa depresiasi rupiah tetap berlanjut meskipun indeks dolar AS (DXY) sebenarnya sedang dalam tren menurun ke posisi 99,094. Kondisi ekonomi makro dan kebijakan indeks global menjadi kombinasi yang menekan kepercayaan investor pada perdagangan hari ini.

Artikel terkait

Rekomendasi