Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026), setelah Bank Indonesia mengumumkan kenaikan suku bunga. Kebijakan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur yang memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin ke 5,25%.
Peningkatan ini juga mencakup suku bunga Deposit Facility yang naik menjadi 4,25% dan Lending Facility yang mencapai 6,00%. Langkah tersebut bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah sebagai respons terhadap ketidakpastian global di Timur Tengah.
Pengumuman yang dilakukan di pertengahan sesi perdagangan langsung menggerus IHSG sebesar 0,80% ke level 6.319,06. Terutama, sektor bahan baku turun drastis 4,56%, diikuti transportasi yang merosot 3,90% dan energi 3,32%.
Sektor lain juga mengalami tekanan, seperti sektor siklikal turun 1,81%, industrial menyusut 1,43%, properti melemah 1,04%, teknologi turun 0,43%, dan kesehatan menurun 0,29%. Namun, sektor keuangan berhasil naik 0,38%, bersama sektor infrastruktur 0,27% dan non-siklikal 0,19%.
Dari sisi perdagangan, saham BUMI mencatat nilai transaksi tertinggi sebesar Rp1,67 triliun. Selanjutnya ada BMRI dengan Rp872,9 miliar, BBCA Rp822,9 miliar, BRPT Rp699 miliar, dan ANTM Rp670 miliar.
"Setelah melakukan asesmen menyeluruh terhadap ekonomi global dan risiko yang kami paparkan, Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk menaikkan BI rate 50 basis poin menjadi 5,25%," ungkap perwakilan BI.
Keputusan ini diambil untuk menguatkan stabilitas Rupiah atas dampak buruk konflik di Timur Tengah serta memastikan target inflasi 2026-2027 dalam kisaran 2,5±1%. Keputusan ini sesuai dengan survei CNBC Indonesia yang melibatkan 15 lembaga.
Dari lembaga yang berpartisipasi, sembilan di antaranya memprediksi kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%. Sedangkan enam lembaga lainnya memperkirakan BI akan menjaga suku bunga pada 4,75%.