Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rapor merah sepanjang periode perdagangan pekan ini, tepatnya pada 11 hingga 13 Mei 2026. Indeks bursa domestik tersebut terpantau mengalami koreksi yang cukup dalam sebesar 3,53 persen.
Akibat penurunan performa ini, IHSG kini terparkir di posisi 6.723,32. Penurunan tersebut cukup kontras dibandingkan posisi penutupan pada pekan sebelumnya yang masih berada di level 6.936,39.
Kondisi pasar yang lesu ini berdampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai aset di bursa tercatat menyusut hingga Rp581 triliun dalam kurun waktu satu pekan saja.
Dengan demikian, total kapitalisasi pasar saat ini berada di angka Rp11.825 triliun. Padahal, pada akhir pekan lalu, nilai kapitalisasi pasar masih cukup tinggi di posisi Rp12.406 triliun atau turun sekitar 4,68 persen.
Statistik Transaksi Harian Bursa
Pelemahan ini juga terlihat dari volume transaksi harian di bursa yang ikut mengalami penurunan cukup tajam. Tercatat, rata-rata volume saham yang diperjualbelikan melandai sebesar 22,01 persen.
Sepanjang pekan ini, rata-rata volume harian hanya mencapai 35,76 miliar lembar saham. Angka ini turun drastis dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang mampu menyentuh 45,86 miliar lembar saham.
Sektor nilai transaksi harian juga tidak luput dari tren penurunan selama periode perdagangan yang sama. Kautsar Primadi Nurahmad selaku Sekretaris Perusahaan BEI mengungkapkan data terkait perubahan nilai transaksi ini.
Ia menyebutkan bahwa rata-rata nilai transaksi harian pekan ini merosot 18,78 persen menjadi Rp18,82 triliun. Sebelumnya, aktivitas perdagangan harian mampu mencatatkan nilai rata-rata sebesar Rp23,05 triliun.
Informasi mengenai perubahan data frekuensi transaksi dan pergerakan investor asing di bursa:
- Rata-rata frekuensi transaksi harian bursa terkoreksi tipis 0,56 persen menjadi 2,53 juta kali transaksi dari sebelumnya 2,55 juta kali.
- Investor asing membukukan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp1,53 triliun pada penutupan Rabu, 13 Mei 2026.
- Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan 2026, nilai jual bersih investor asing telah menyentuh angka Rp40,82 triliun.
- Pergerakan IHSG sepanjang hari terakhir perdagangan pekan ini bergerak di rentang 6.705,43 hingga 6.787,35.
Data di atas menunjukkan bahwa tekanan jual dari investor mancanegara masih cukup mendominasi pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini. Aktivitas transaksi secara keseluruhan juga cenderung lebih sepi dibandingkan periode sebelumnya.
Daftar Saham Paling Terdampak
Pada penutupan perdagangan hari Rabu, 13 Mei 2026, IHSG harus menyerah dengan pelemahan harian sebesar 1,98 persen. Dari seluruh emiten yang melantai, tercatat 428 saham mengalami penurunan harga.
Sementara itu, hanya 260 saham yang berhasil menguat dan 271 saham lainnya bergerak stagnan. Sejumlah emiten berkapitalisasi besar menjadi pemberat indeks pada perdagangan sore hari tersebut.
Daftar emiten dalam indeks LQ45 yang mencatatkan penurunan terdalam pada pekan ini:
| Nama Emiten | Kode Saham | Harga Terakhir (Rp) | Persentase Penurunan |
|---|---|---|---|
| Petrindo Jaya Kreasi Tbk. | CUAN | 850 | -10,05% |
| Amman Mineral Internasional Tbk. | AMMN | 3.700 | -9,09% |
| Barito Pacific Tbk. | BRPT | 2.080 | -8,77% |
| Merdeka Copper Gold Tbk. | MDKA | 2.730 | -4,88% |
| ESSA Industries Indonesia Tbk. | ESSA | 800 | -3,61% |
| Vale Indonesia Tbk. | INCO | 5.875 | -3,29% |
Tabel di atas memperlihatkan deretan saham yang terkena aksi jual masif, di mana sektor tambang dan energi cukup mendominasi jajaran top losers. Pelemahan ini berbanding terbalik dengan beberapa saham di sektor konsumsi dan penunjang tambang.
Misalnya, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) justru melonjak 4,52 persen ke posisi Rp4.160. Selain itu, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) juga naik 4,10 persen dan PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) menguat 2,11 persen.
Sentimen Rebalancing MSCI Jadi Pemicu
Analis Senior dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan pandangannya terkait kondisi pasar saham saat ini. Menurutnya, IHSG secara teknikal akan berupaya menguji level dukungan atau support di rentang 6.715 hingga 6.763.
Ia menambahkan bahwa fokus utama para pelaku pasar saat ini tertuju pada pengumuman tinjauan kuartalan dari indeks MSCI. Hal ini memicu volatilitas tinggi, terutama pada saham-saham yang memiliki bobot besar di bursa.
Berdasarkan rilis terbaru MSCI May 2026 Index Review, tidak ada emiten asal Indonesia yang ditambahkan ke dalam MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, terdapat enam emiten besar yang didepak dari indeks bergengsi tersebut.
Daftar saham yang mengalami perubahan status dalam tinjauan indeks MSCI:
- Dihapus dari MSCI Global Standard Index: AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.
- Pindah kategori: AMRT dimasukkan ke dalam MSCI Small Cap Index setelah keluar dari indeks global.
- Keluar dari MSCI Small Cap Index: ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA.
- Dihapus sepenuhnya: MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG juga resmi dicoret dari indeks kapitalisasi kecil tersebut.
Perubahan komposisi indeks ini sering kali diikuti oleh aksi penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global. Akibatnya, saham-saham yang dicoret cenderung mengalami tekanan jual yang cukup signifikan dalam waktu singkat.
Pasar kini menantikan kinerja keuangan emiten untuk kuartal II/2026 sebagai faktor penentu arah pergerakan pasar selanjutnya. Investor disarankan untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan sentimen global serta fundamental perusahaan secara mendalam.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada pada tanggung jawab pembaca, dan redaksi tidak bertanggung jawab atas potensi kerugian atau keuntungan yang muncul.