Huawei kini tengah mengambil langkah agresif untuk mengembangkan teknologi semikonduktor masa depan. Upaya ini dilakukan guna mengurangi ketergantungan industri kecerdasan buatan (AI) di Tiongkok terhadap teknologi dari negara-negara Barat.
Perusahaan teknologi yang berbasis di Shenzhen tersebut memperkenalkan sebuah pendekatan baru yang diklaim mampu melampaui batasan Moore's Law. Prinsip ini selama berpuluh-puluh tahun telah menjadi fondasi utama bagi perkembangan industri chip di tingkat global.
Strategi Huawei Hadapi Dominasi Nvidia
Langkah strategis Huawei ini muncul di tengah persaingan pasar chip AI domestik Tiongkok yang semakin memanas. Pemerintah Beijing terus mendorong perusahaan lokal untuk menggunakan produk dalam negeri sebagai pengganti chip buatan Nvidia.
Persaingan ini tidak hanya melibatkan Huawei, tetapi juga raksasa teknologi lainnya seperti Alibaba Group. Dalam beberapa tahun terakhir, Alibaba terpantau mempercepat pengembangan chip AI milik mereka sendiri.
Melalui unit desain chip bernama T-Head, Alibaba baru saja merilis chip AI terbaru yang diberi nama Zhenwu M890. Selain meluncurkan produk, mereka juga memaparkan peta jalan pengembangan chip untuk beberapa tahun mendatang.
Langkah Alibaba tersebut dinilai sebagai upaya untuk mengejar kemajuan Huawei di sektor ini. Sebelumnya, Huawei telah lebih dulu merilis rencana pengembangan teknologi chip mereka hingga tahun 2028.
Peta Persaingan Pasar Chip AI di Tiongkok
Meskipun Huawei saat ini merupakan pemain terbesar di pasar chip AI domestik Tiongkok, posisi mereka belum sepenuhnya aman. Dominasi pasar masih dibayang-bayangi oleh kekuatan teknologi dari Amerika Serikat.
Berdasarkan data dari IDC, Nvidia tercatat masih mengirimkan sekitar 2,2 juta akselerator AI ke Tiongkok sepanjang tahun 2025. Jumlah tersebut setara dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 55 persen.
Angka ini membuktikan bahwa Nvidia tetap memiliki posisi yang sangat kuat di pasar Tiongkok. Padahal, perusahaan tersebut sedang menghadapi berbagai pembatasan ekspor yang ketat dari pemerintah Amerika Serikat.
Di sisi lain, produsen chip lokal Tiongkok secara total mengirimkan sekitar 1,65 juta unit chip AI pada tahun lalu. Dari total pengiriman vendor lokal tersebut, Huawei menyumbang sekitar 812 ribu unit.
Alibaba menempati posisi kedua di pasar lokal dengan pengiriman mencapai sekitar 265 ribu unit chip. Selain Alibaba, nama-nama besar seperti ByteDance dan Tencent Holdings juga patut diwaspadai.
Kedua perusahaan teknologi besar tersebut memiliki sumber daya finansial dan teknis yang cukup luas. Mereka berpotensi menjadi penantang serius bagi dominasi Huawei di pasar chip kecerdasan buatan domestik.
Mengenal Konsep Her's Law Milik Huawei
Demi menjaga keunggulan kompetitifnya, Huawei memperkenalkan sebuah konsep inovatif yang disebut Tau Scaling Law. Konsep ini juga populer dengan sebutan Her's Law di kalangan industri.
Nama tersebut merupakan bentuk penghormatan bagi He Tingbo, sosok penting di Huawei yang dijuluki sebagai "Ratu Chip". Her's Law dirancang khusus untuk menjadi alternatif dari Moore's Law yang selama ini digunakan.
Fokus perbedaan antara Moore's Law dan Her's Law dapat dilihat melalui poin-poin berikut:
- Moore's Law: Berfokus pada peningkatan performa komputer melalui pengecilan ukuran transistor secara terus-menerus.
- Her's Law: Berfokus pada optimalisasi integrasi dan kolaborasi antar-chip di dalam satu sistem yang terpadu.
- Tujuan Utama: Meningkatkan kepadatan transistor tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pengecilan ukuran fisik transistor.
- Potensi Masa Depan: Mencapai performa yang setara dengan teknologi 1,4 nanometer melalui efisiensi sistem yang lebih baik.
Pendekatan ini diambil karena pengecilan transistor kini mulai mendekati batas fisik skala atom. Hal tersebut membuat penerapan Moore's Law menjadi semakin sulit dan mahal untuk dilakukan di masa depan.
Ambisi Teknologi dan Tantangan Global
Huawei mengklaim bahwa melalui Her's Law, mereka bisa menghasilkan kepadatan transistor yang setara dengan teknologi 1,4 nanometer pada 2031. Klaim ini menjadi sangat menarik jika dibandingkan dengan kompetitor global.
Sebagai perbandingan, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) diperkirakan baru akan memulai produksi chip 1,4 nanometer pada 2028. Selisih waktu ini menunjukkan ambisi besar Huawei dalam mengejar ketertinggalan.
Strategi Huawei ini diprediksi akan menarik perhatian serius dari pemerintah di Washington. Pasalnya, Amerika Serikat selama ini berusaha membatasi kemampuan produksi chip canggih Tiongkok melalui berbagai kebijakan.
Salah satu hambatan utama adalah larangan akses terhadap mesin litografi canggih milik ASML Holding. Mesin tersebut sangat krusial untuk memproduksi chip dengan teknologi di bawah 7 nanometer secara efisien.
Berikut adalah ringkasan mengenai target dan realisasi teknologi baru Huawei tersebut:
| Aspek Teknologi | Target Implementasi | Tujuan Utama |
|---|---|---|
| Chip Ponsel Huawei | Waktu dekat (jangka pendek) | Penerapan awal teknologi integrasi chip terbaru. |
| Lini Chip AI Ascend | Selesai sekitar tahun 2030 | Integrasi penuh sistem kolaborasi antar-chip AI. |
| Kepadatan Transistor | Tahun 2031 | Mencapai efisiensi setara skala 1,4 nanometer. |
Meskipun ambisius, sejumlah analis menilai bahwa klaim besar dari Huawei ini masih perlu pembuktian lebih lanjut di lapangan. Kepadatan transistor yang tinggi tidak selalu menjamin performa yang lebih baik secara otomatis.
Huawei berharap pendekatan baru ini dapat meningkatkan efisiensi pusat data serta klaster AI secara signifikan. Mereka ingin mengurangi konsumsi energi sekaligus mempercepat proses perpindahan data antar-chip dalam sistem.
Namun, perusahaan masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah teknis yang cukup berat untuk diselesaikan. Masalah pengelolaan panas dan skalabilitas sistem menjadi tantangan utama yang harus segera dicarikan solusinya.
Sebenarnya, pengembangan teknologi pasca Moore's Law bukanlah hal yang benar-benar baru di industri semikonduktor. Perusahaan asal AS dan peneliti Tiongkok lainnya sudah lama mengeksplorasi metode alternatif seperti advanced packaging.
Langkah nyata Huawei ini menunjukkan fokus mereka untuk menemukan jalur inovasi yang mandiri. Mereka berupaya agar tidak lagi bergantung pada teknologi manufaktur chip yang saat ini didominasi oleh pihak Barat.
Keberhasilan strategi ini akan menjadi faktor kunci bagi Tiongkok dalam memperkuat kemandirian teknologi nasional mereka. Hal ini sekaligus menjadi tameng untuk mengurangi dampak pembatasan ekspor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.