Harga Minyak Turun ke US$110 Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran, Apa Dampaknya?

Harga Minyak Turun ke US$110 Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran, Apa Dampaknya?
Foto: Harga Minyak Turun ke US$110 Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran, Apa Dampaknya?. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Harga minyak mentah dunia terpantau bergerak turun pada sesi perdagangan Selasa pagi (19/5/2026). Penurunan ini terjadi setelah harga komoditas energi tersebut sempat menyentuh level tertingginya dalam beberapa pekan terakhir pada hari sebelumnya.

Kondisi pasar saat ini mulai melepaskan premi risiko geopolitik yang sempat melambungkan harga. Hal ini dipicu oleh keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menunda rencana serangan militer terhadap Iran guna memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi.

Berdasarkan data dari Refinitiv hingga pukul 09.50 WIB, harga minyak jenis Brent kini berada di level US$110,01 per barel. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan posisi penutupan pada hari Senin yang sempat mencapai US$112,1 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat diperdagangkan pada posisi US$107,71 per barel. Nilai tersebut mengalami koreksi dari posisi sebelumnya yang bertengger di angka US$108,66 per barel.

Tren Kenaikan Harga Sepanjang Mei

Walaupun mengalami penurunan pada pagi ini, harga minyak dunia sebenarnya masih bertahan di zona tertinggi sepanjang bulan Mei. Dalam kurun waktu dua pekan terakhir, harga minyak Brent telah melesat hampir 10 persen dari posisi awalnya.

Sebagai perbandingan, pada tanggal 7 Mei lalu, harga Brent masih berada di level US$100,06 per barel sebelum akhirnya menembus angka di atas US$110. Di sisi lain, harga WTI bahkan telah melonjak lebih dari US$13 per barel sejak awal bulan ini.

Lonjakan harga yang sangat tajam sebelumnya dipicu oleh eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah. Situasi tersebut memicu kekhawatiran global terhadap keberlangsungan pasokan energi ke pasar internasional.

Gangguan praktis terjadi di Selat Hormuz, sebuah jalur perairan vital yang menjadi lintasan bagi sekitar seperlima suplai minyak dunia. Kondisi tersebut memicu kepanikan pasar karena operasional kapal tanker dan distribusi energi global berada di bawah tekanan besar.

Respon Pasar terhadap Kebijakan Donald Trump

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa saat ini terdapat peluang yang sangat baik bagi Washington dan Teheran untuk mencapai kesepakatan baru. Fokus utama dari dialog tersebut adalah mengenai program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber ketegangan.

Pernyataan optimis ini muncul hanya beberapa jam setelah pihak Gedung Putih secara resmi mengumumkan penundaan aksi militer. Pelaku pasar pun langsung merespons pengumuman tersebut dengan melakukan aksi jual.

Berikut adalah ringkasan pergerakan harga minyak mentah di pasar Asia pada perdagangan pagi ini:

  • Minyak mentah Brent mengalami penurunan harga lebih dari 2 persen.
  • Minyak mentah WTI terkoreksi dengan penurunan nilai lebih dari 1 persen.
  • Posisi harga saat ini masih menjadi yang tertinggi dalam rentang waktu satu bulan terakhir.

Pelaku pasar kini menilai bahwa arah pergerakan harga minyak ke depan akan sangat bergantung pada hasil negosiasi antara AS dan Iran. Selain itu, situasi keamanan pengiriman tanker di Selat Hormuz tetap menjadi faktor penentu utama.

Tim Waterer, seorang analis dari KCM Trade, berpendapat bahwa para investor saat ini masih menunjukkan sikap yang sangat berhati-hati. Menurutnya, risiko utama di pasar energi belum sepenuhnya hilang meski ada kabar mengenai penundaan serangan.

Para investor terus memantau apakah langkah yang diambil Trump merupakan awal dari deeskalasi konflik yang bersifat permanen. Ada kekhawatiran di kalangan pelaku pasar bahwa ini mungkin hanya sekadar jeda taktis di tengah situasi yang masih panas.

Upaya Diplomasi dan Isu Pelonggaran Sanksi

Di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung, Iran dikabarkan telah mengirimkan proposal perdamaian baru melalui perantara Pakistan. Pemerintah Pakistan disebut-sebut berperan sebagai mediator komunikasi antara pihak Washington dan Teheran.

Meskipun saluran komunikasi telah terbuka, banyak pihak menilai bahwa proses negosiasi tersebut berjalan dengan sangat lambat. Media semi-resmi di Iran bahkan sempat melaporkan adanya kesediaan Amerika Serikat untuk melonggarkan sanksi ekspor minyak.

Klaim mengenai pelonggaran sanksi selama masa pembicaraan tersebut langsung mendapatkan bantahan keras dari pejabat Amerika Serikat. Ketidakpastian mengenai status sanksi ini turut memberikan warna pada fluktuasi harga di pasar global.

Kondisi Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat

Selain faktor geopolitik, harga minyak tetap terjaga di level tinggi akibat kondisi cadangan energi di Amerika Serikat. Departemen Energi AS melaporkan adanya penarikan besar-besaran dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) pada pekan lalu.

Data terbaru mengenai cadangan minyak strategis Amerika Serikat menunjukkan angka-angka sebagai berikut:

Kategori Data Keterangan Statistik
Jumlah Penarikan SPR 9,9 Juta Barel
Total Stok Cadangan Saat Ini 374 Juta Barel
Status Level Cadangan Terendah sejak Juli 2024
Penyebab Penarikan Gangguan distribusi dan konflik

Penarikan sebesar 9,9 juta barel tersebut tercatat sebagai angka penarikan terbesar dalam periode laporan terbaru. Hal ini menyebabkan stok cadangan minyak nasional Amerika Serikat merosot ke titik terendahnya dalam hampir dua tahun terakhir.

Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, juga memberikan peringatan serius mengenai menyusutnya persediaan minyak komersial dunia. Ia menyebut gangguan pada distribusi laut dan konflik berkepanjangan sebagai penyebab utama fenomena ini.

Dalam situasi pasar yang normal, stok minyak global biasanya berfungsi sebagai bantalan atau penyangga ketika terjadi gangguan pasokan. Namun, Birol menekankan bahwa saat ini ruang penyangga tersebut semakin menipis sehingga pasar menjadi lebih rentan terhadap gejolak harga.

Artikel terkait

Rekomendasi