Pergeseran harga minyak diprediksi sulit kembali ke level US$60, kata PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. Direktur Utama, Arief Wana, mengungkapkan hal ini dalam diskusi mengenai ketidakstabilan pasar yang disebabkan oleh situasi geopolitik global yang tidak menentu. Oleh karenanya, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada sekaligus mengeksplorasi peluang di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Menurut Arief, kehati-hatian adalah kunci saat ini mengingat banyak ketidakpastian, terutama terkait harga minyak. "Saya tidak bisa dengan yakin mengatakan sangat optimis karena kondisi sekarang ini penuh ketidakpastian," ujarnya dalam Seminar SMBC Indonesia Economic Forum 2026.
Harga minyak telah melonjak sejak Februari, dipicu oleh konflik antara Iran, Israel, dan Amerika. Kenaikan ini dirasakan berdampak negatif bagi Indonesia. Arief menilai terdapat banyak negara besar yang mulai mengabaikan kedaulatan, membuat harga minyak sulit untuk kembali normal. Maka, pelaku pasar dihimbau lebih jeli melihat peluang dari kenaikan harga minyak ini.
"Harga yang tinggi ini memberikan dampak yang kurang baik bagi negara seperti Indonesia, dan memerlukan waktu lama untuk perubahan. Oleh karena itu, kita harus mencari peluang investasi terkait kenaikan harga minyak ini," kata Arief.
Sementara itu, Ashmore Asset Management Indonesia telah melakukan simulasi terkait guncangan harga minyak selama 45 tahun terakhir. Didapati, dibutuhkan 6 hingga 7 bulan hingga harga kembali normal. Arief menjelaskan bahwa harga minyak sulit kembali ke angka US$50 atau US$60.
Seiring kenaikan harga minyak, salah satu peluang investasi yang direkomendasikan adalah obligasi dalam bentuk US dollar bond. Arief berpendapat bahwa saat risiko geopolitik tinggi, emas bukan lagi pilihan safe haven utama. "Banyak orang kini lebih tertarik pada aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, seperti US dollar bond atau 10 yield bond yang cenderung naik," tutupnya.
```