Harga Minyak Naik 2% Usai AS Lancarkan Serangan Terbaru ke Iran

Harga Minyak Naik 2% Usai AS Lancarkan Serangan Terbaru ke Iran
Foto: Harga Minyak Naik 2% Usai AS Lancarkan Serangan Terbaru ke Iran. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu gejolak pada sektor energi global. Harga minyak dunia tercatat melonjak sekitar 2% pada pembukaan perdagangan Kamis pagi waktu setempat.

Kenaikan signifikan ini dipicu oleh laporan serangan militer terbaru Amerika Serikat terhadap sejumlah situs strategis di Iran. Kondisi tersebut seketika memicu kekhawatiran pelaku pasar akan terganggunya rantai pasok minyak mentah dunia.

Rincian Kenaikan Harga Minyak Dunia

Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga minyak mentah dari berbagai acuan internasional menunjukkan tren penguatan yang cukup tajam.

Berikut adalah ringkasan pergerakan harga minyak mentah global :

Jenis Minyak Harga Per Barel Persentase Kenaikan
Brent (Kontrak Utama) $96,19 2,02%
Brent (Kontrak Agustus) $93,89 1,78%
WTI (Amerika Serikat) $90,41 1,95%

Lonjakan ini berbanding terbalik dengan kondisi pada sesi sebelumnya, di mana harga minyak sempat merosot hingga lebih dari 5%. Penurunan sempat terjadi karena adanya ekspektasi kesepakatan damai antara AS dan Iran yang diharapkan bisa membuka kembali akses Selat Hormuz.

Dampak Serangan Militer dan Kondisi Pasokan

Militer Amerika Serikat dilaporkan kembali meluncurkan serangan ke fasilitas militer milik Iran. Langkah ini diambil setelah fasilitas tersebut dinilai mengancam keamanan pasukan AS serta keselamatan pelayaran komersial di kawasan Selat Hormuz.

Analyst komoditas dari ANZ, Daniel Hynes, menjelaskan bahwa situasi pasar saat ini sebenarnya masih dalam kondisi pasokan yang ketat. Ia menilai sejumlah persoalan fundamental dalam konflik tersebut memang belum menemui titik temu yang permanen.

Faktor utama yang memengaruhi ketatnya pasokan minyak saat ini :

  • Serangan militer terbaru yang meningkatkan risiko keamanan di jalur distribusi utama Timur Tengah.
  • Penurunan cadangan minyak mentah Amerika Serikat selama enam minggu berturut-turut.
  • Belum adanya kepastian mengenai kesepakatan jangka panjang untuk mengakhiri konflik bersenjata.
  • Kekhawatiran penutupan akses Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi kapal tangker minyak dunia.

Data dari American Petroleum Institute turut memperkuat sentimen kenaikan harga ini. Laporan terbaru menunjukkan stok minyak mentah AS kembali menyusut sebesar 2,8 juta barel pada pekan lalu.

Kombinasi antara meningkatnya risiko perang dan menipisnya stok cadangan di Amerika Serikat membuat harga minyak diprediksi tetap fluktuatif. Investor kini terus memantau perkembangan di Timur Tengah untuk menentukan arah kebijakan investasi mereka ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi