Harga minyak mentah di pasar global dilaporkan mengalami penurunan signifikan hingga menyentuh angka di bawah US$100 per barel. Pelemahan ini terjadi sesaat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan laporan positif mengenai progres negosiasi dengan pihak Iran.
Fokus pembicaraan antara kedua negara tersebut berkaitan erat dengan upaya pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat mengalami hambatan. Kabar ini memberikan angin segar bagi pasar energi yang sebelumnya tertekan oleh ketidakpastian geopolitik di wilayah Timur Tengah.
Data Penurunan Harga Minyak Mentah Global
Melansir data dari Tradingview pada Senin, 25 Mei 2026, terjadi koreksi tajam pada harga komoditas minyak mentah dunia. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat merosot sebesar 4,66 persen, sehingga kini berada pada level US$92,10 per barel.
Tren penurunan yang serupa juga terlihat pada minyak jenis Brent yang menjadi acuan global lainnya. Harga Brent melemah sekitar 4,38 persen dan saat ini terparkir di posisi US$99 per barel, menjauhi level tertingginya dalam beberapa waktu terakhir.
Pelemahan nilai komoditas ini secara langsung dipicu oleh prospek perdamaian yang mulai terlihat antara Teheran dan Washington. Harapan akan stabilitas pasokan energi kembali muncul setelah serangkaian dialog diplomatik yang intens dilakukan oleh kedua belah pihak.
Donald Trump melalui unggahan di akun media sosialnya pada Minggu, 24 Mei 2026, menyatakan bahwa proses negosiasi berjalan dengan sangat tertib. Trump juga mengeklaim bahwa pembicaraan tersebut bersifat konstruktif bagi hubungan kedua negara di masa depan.
Pernyataan resmi Presiden Amerika Serikat mengenai progres kesepakatan dengan Iran :
- Negosiasi saat ini berlangsung sesuai rencana dan memberikan hasil yang cukup membangun bagi kedua belah pihak.
- Presiden Trump telah memberikan instruksi khusus kepada para delegasi AS agar tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan akhir.
- Pemerintah Amerika Serikat merasa memiliki keunggulan waktu, sehingga kualitas kesepakatan lebih diutamakan daripada kecepatan pencapaian.
- Kesepakatan mengenai pembukaan Selat Hormuz dan isu strategis lainnya sebenarnya sudah mulai terarah dan siap untuk diumumkan dalam waktu dekat.
Informasi yang dikutip dari CNBC International tersebut menunjukkan sikap tenang dari Gedung Putih dalam menghadapi krisis di Selat Hormuz. Meskipun sudah ada tanda-tanda positif, Trump tetap menegaskan bahwa Washington tidak akan gegabah dalam menandatangani perjanjian apa pun.
Dinamika Ketegangan dan Pengaruhnya terhadap Pasar
Pasar minyak memang sangat sensitif terhadap komentar yang dilontarkan oleh pemimpin negara besar seperti Donald Trump. Sebelumnya, Trump beberapa kali menyebutkan bahwa konflik dengan Iran sudah mendekati titik penyelesaian yang damai.
Namun, dalam beberapa kesempatan sebelumnya, ketegangan justru kembali memuncak secara tiba-tiba dan memicu lonjakan harga minyak yang tidak terduga. Fluktuasi ini membuat pelaku pasar tetap waspada meskipun saat ini harga sedang mengalami tren penurunan.
Sepanjang pekan lalu saja, harga minyak mentah Amerika Serikat tercatat sudah anjlok lebih dari 8 persen. Sementara itu, komoditas jenis Brent juga terkoreksi lebih dari 5 persen dalam periode waktu yang sama.
Penurunan ini terjadi setelah Trump mengambil langkah taktis dengan membatalkan rencana serangan udara yang hampir diluncurkan terhadap Iran. Langkah pembatalan tersebut sengaja dilakukan untuk memberikan ruang diplomasi yang lebih luas bagi para negosiator.
Statistik pergerakan harga dan latar belakang konflik yang memengaruhi pasar energi :
| Kategori Informasi | Detail Fakta dan Data |
|---|---|
| Kenaikan Sejak Februari | Harga melonjak lebih dari 30% sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026. |
| Kondisi Selat Hormuz | Iran memberlakukan blokade de facto terhadap pelayaran sejak awal Maret. |
| Aturan Pelayaran Iran | Kapal wajib mengantongi izin dari Teheran atau menghadapi risiko serangan bersenjata. |
| Penyebab Eskalasi | Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dan petinggi lainnya akibat serangan udara. |
| Dampak Ekspor | Blokade memangkas drastis pengiriman minyak dari Timur Tengah ke pasar global. |
Tabel di atas merangkum bagaimana eskalasi militer dan politik sebelumnya telah mengacaukan rantai pasok energi dunia. Kejadian tersebut dianggap sebagai salah satu gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah pasar energi internasional.
Signifikansi Selat Hormuz bagi Ketahanan Energi
Selat Hormuz memegang peranan vital sebagai salah satu urat nadi pengiriman minyak yang paling strategis di seluruh dunia. Sebelum pecahnya konflik bersenjata, wilayah ini menjadi jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap harinya.
Blokade yang dilakukan oleh Iran telah memaksa Amerika Serikat untuk melakukan tindakan balasan yang setara. Sebagai respons atas penutupan jalur tersebut, AS turut memberlakukan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan serta kapal milik Iran.
Donald Trump kembali menegaskan pada hari Minggu bahwa tekanan ekonomi dan blokade dari pihak AS tidak akan dikendurkan. Tindakan tegas ini akan tetap diberlakukan hingga ada kesepakatan resmi yang benar-benar tercapai antara kedua negara.
Kesepakatan yang dimaksud harus melalui proses sertifikasi yang ketat dan ditandatangani secara sah oleh otoritas terkait. Hal ini dilakukan demi memastikan bahwa Iran tidak akan melanggar poin-poin perdamaian yang telah disepakati nantinya.
Dengan adanya kemajuan dalam dialog ini, pelaku industri berharap stabilitas ekonomi global dapat segera pulih. Penurunan harga minyak ke bawah US$100 per barel menjadi indikator awal bahwa kekhawatiran pasar terhadap krisis energi mulai mereda secara perlahan.