Harga Minyak Dunia Melonjak, Pasar Ragukan Kesepakatan AS-Iran Terbaru 2026

Harga Minyak Dunia Melonjak, Pasar Ragukan Kesepakatan AS-Iran Terbaru 2026
Foto: Harga Minyak Dunia Melonjak, Pasar Ragukan Kesepakatan AS-Iran Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Harga minyak mentah di pasar Asia terpantau kembali bergerak naik pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Penguatan ini dipicu oleh keraguan para pelaku pasar terhadap prospek kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemui titik temu.

Negosiasi antara kedua negara tersebut dianggap belum menghasilkan terobosan yang signifikan untuk menyelesaikan isu-isu utama. Ketidakpastian ini pun memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas pasokan minyak global di masa mendatang.

Fokus utama pasar saat ini tertuju pada situasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi energi paling strategis di dunia. Adanya potensi gangguan di wilayah tersebut menjadi alasan kuat bagi investor untuk mendorong harga minyak lebih tinggi.

Pergerakan Harga Minyak Brent dan WTI

Berdasarkan data terbaru, harga minyak mentah jenis Brent kini berada di posisi 104,80 dollar AS atau setara Rp 1,85 juta per barel. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 2,13 persen dibandingkan dengan sesi perdagangan sebelumnya.

Kenaikan serupa juga dialami oleh minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat. Harga WTI merangkak naik 1,70 persen hingga menyentuh level 97,99 dollar AS atau sekitar Rp 1,73 juta per barel.

Padahal, sehari sebelumnya kedua jenis minyak acuan ini sempat merosot hingga 2 persen ke titik terendah dalam dua pekan terakhir. Penurunan tersebut awalnya didorong oleh rasa optimistis pasar bahwa diplomasi AS-Iran akan segera berakhir damai.

Sinyal Kontradiktif dari Meja Perundingan

Sentimen positif pasar ternyata berubah dengan cepat setelah muncul pernyataan yang saling bertentangan dari pihak-pihak terkait. Sumber senior dari Iran menyebutkan bahwa hingga kini belum ada kesepakatan formal yang berhasil ditandatangani.

Meskipun terdapat upaya untuk memperkecil perbedaan pandangan, hasil konkret yang diharapkan pasar belum juga muncul. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan penilaian bahwa terdapat beberapa indikasi positif dalam proses diskusi tersebut.

Namun, Rubio juga memberikan peringatan keras bahwa AS tidak akan menoleransi segala bentuk hambatan akses di Selat Hormuz. Ketegasan ini menambah tensi ketidakpastian di tengah masa gencatan senjata yang sudah berjalan selama enam minggu.

Berikut adalah rincian harga minyak mentah pada perdagangan terbaru :

Jenis Minyak Harga (USD) Persentase Kenaikan Estimasi Rupiah
Brent 104,80 2,13% Rp 1,85 Juta
WTI (US) 97,99 1,70% Rp 1,73 Juta

Data tabel di atas menunjukkan perbandingan harga dua acuan minyak dunia yang mengalami penguatan secara bersamaan. Kenaikan ini merespons dinamika geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran.

Dampak Pengetatan Pasokan Fisik

Kondisi pasar fisik yang semakin ketat juga menjadi faktor pendorong utama yang memperburuk kekhawatiran para pelaku ekonomi. Kurangnya ketersediaan stok di lapangan membuat harga energi terus merangkak naik dan sulit untuk diredam.

Lonjakan harga ini mulai memberikan tekanan inflasi yang nyata di berbagai negara di seluruh dunia. Sektor transportasi dan industri manufaktur menjadi pihak yang paling terdampak akibat membengkaknya biaya bahan bakar.

Beberapa poin penting terkait dampak kenaikan harga minyak saat ini :

  • Tekanan Inflasi Global: Meningkatnya biaya operasional di berbagai sektor ekonomi akibat harga energi yang mahal.
  • Kekhawatiran Logistik: Risiko gangguan pada jalur pelayaran strategis yang dapat menghambat distribusi barang.
  • Fluktuasi Harga: Pasar tetap bergerak tidak stabil selama belum ada hitam di atas putih terkait kesepakatan diplomatik.
  • Beban Sektor Manufaktur: Kenaikan biaya produksi yang berpotensi diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga barang yang lebih tinggi.

Informasi di atas merangkum bagaimana kondisi pasar energi saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen politik, tetapi juga kondisi ekonomi riil. Pasar minyak diprediksi akan terus bergejolak mengikuti perkembangan berita dari meja negosiasi internasional.

Artikel terkait

Rekomendasi