Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Serangan Israel ke Lebanon, Ini Dampak Terbarunya 2026

Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Serangan Israel ke Lebanon, Ini Dampak Terbarunya 2026
Foto: Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Serangan Israel ke Lebanon, Ini Dampak Terbarunya 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Harga minyak mentah dunia kembali mengalami lonjakan signifikan setelah Israel melancarkan serangan terbaru ke wilayah Lebanon pada Minggu lalu. Aksi militer ini memicu kekhawatiran pasar global karena terjadi di tengah periode gencatan senjata yang seharusnya berlangsung antara kedua negara.

Kondisi ini seketika memupus harapan para pelaku pasar akan terciptanya perdamaian luas di kawasan Timur Tengah. Selain itu, eskalasi tersebut mengancam rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.

Lonjakan Harga Minyak Brent dan WTI

Ketegangan geopolitik yang meningkat langsung berdampak pada pergerakan harga di pasar bursa minyak dunia pada perdagangan Senin pagi. Kenaikan harga ini tercatat menghapus hampir seluruh tren penurunan yang sempat terjadi pada akhir pekan sebelumnya.

Berikut adalah rincian kenaikan harga minyak mentah berdasarkan data perdagangan terbaru:

Jenis Minyak Harga Terbaru (per Barel) Persentase Kenaikan
Minyak Mentah AS (WTI) US$92,64 2,32%
Minyak Brent US$95,42 2,5%

Data di atas menunjukkan respons cepat pasar terhadap ketidakpastian keamanan di Lebanon. Nilai kontrak berjangka minyak AS naik sebesar US$2,10, sementara minyak Brent melonjak hingga US$2,33 per barel.

Dampak Eskalasi terhadap Jalur Pasokan Global

Serangan terbaru ini dianggap sebagai penghambat besar bagi upaya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya, Teheran menetapkan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat mutlak untuk bernegosiasi dengan Washington.

Iran bahkan telah membalas serangan di Beirut yang menyasar sekutu mereka, Hizbullah, dengan meluncurkan rudal langsung ke wilayah Israel. Presiden AS Donald Trump kabarnya tengah berupaya meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menahan diri agar tidak melakukan aksi balasan lebih lanjut.

Konflik yang meluas ini menyebabkan Selat Hormuz tetap tertutup bagi sebagian besar pengiriman energi global. Padahal, jalur ini merupakan nadi utama bagi kelancaran arus keluar masuk minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar internasional.

Respons OPEC+ dan Kendala Produksi

Menghadapi krisis pasokan yang menghantui pasar, aliansi OPEC+ sebenarnya telah sepakat untuk meningkatkan kuota produksi minyak mereka. Keputusan yang diambil pada pertemuan hari Minggu tersebut merupakan kenaikan produksi keempat yang dilakukan dalam empat bulan terakhir.

Meski demikian, banyak pihak meragukan efektivitas kebijakan tersebut dalam menekan harga di pasar. Para analis menilai keputusan OPEC+ tidak akan memberikan dampak fisik yang nyata karena berbagai kendala teknis dan keamanan.

Beberapa faktor utama yang menghambat pemenuhan target produksi minyak global meliputi:

  • Penutupan Selat Hormuz yang memutus jalur distribusi logistik utama bagi negara-negara produsen.
  • Kerusakan infrastruktur di Rusia akibat serangkaian serangan yang menyebabkan penurunan kapasitas produksi secara drastis.
  • Ketidakmampuan sebagian besar anggota OPEC+ untuk mencapai target produksi karena keterbatasan fasilitas.

Jorge Leon, Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, menegaskan bahwa dalam situasi pasar saat ini, dampak dari kebijakan OPEC+ hampir tidak terasa. Selama jalur distribusi fisik masih terganggu oleh konflik bersenjata, harga minyak diprediksi akan tetap berada pada level yang tinggi.

Sejarah konflik ini mencatat bahwa Lebanon dan Israel sempat menyetujui gencatan senjata pada 3 Juni setelah melalui negosiasi panjang di Washington. Namun, pelanggaran kesepakatan yang berulang menunjukkan betapa rapuhnya kondisi keamanan di perbatasan kedua negara tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi