Industri keramik nasional saat ini tengah menghadapi masa sulit yang disebut sebagai kondisi darurat atau "SOS". Masalah utama yang memicu situasi ini adalah lonjakan harga gas bumi yang sangat tajam dalam waktu singkat.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI), Edy Suyanto, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kebijakan harga dari Perusahaan Gas Negara (PGN). Menurutnya, harga gas telah meroket lebih dari 60 persen hanya dalam kurun waktu enam bulan terakhir.
Kenaikan Harga Gas yang Signifikan
Pada awal tahun 2026, para pelaku industri keramik yang mendapatkan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBTU) membayar sekitar 9 dollar AS per MMBTU. Namun, memasuki bulan April, tarif tersebut merangkak naik menjadi 11 dollar AS per MMBTU.
Kondisi ini diprediksi akan semakin parah setelah PGN berencana menaikkan harga regasifikasi gas alam cair (LNG) pada Juni mendatang. Kebijakan tersebut diperkirakan bakal membuat harga beli rata-rata gas industri melonjak hingga menyentuh angka 15 dollar AS per MMBTU.
Berikut adalah rincian perjalanan kenaikan harga gas industri keramik selama tahun 2026:
- Januari 2026: Harga rata-rata berada di angka 9 dollar AS per MMBTU melalui skema subsidi HGBTU.
- April 2026: Tarif gas mengalami kenaikan menjadi 11 dollar AS per MMBTU.
- Juni 2026 (Estimasi): Harga diprediksi melambung ke angka 15 dollar AS per MMBTU akibat kenaikan biaya regasifikasi LNG.
Data di atas menunjukkan tren kenaikan beban operasional yang harus ditanggung oleh produsen keramik dalam waktu yang sangat singkat. Lonjakan harga ini dianggap sangat membebani daya saing produk lokal di pasar domestik maupun internasional.
Ketergantungan Industri pada Pasokan Gas
Edy menekankan bahwa gas merupakan komponen vital yang tidak bisa digantikan dengan sumber energi lain dalam proses produksi keramik. Kelangsungan hidup industri ini sepenuhnya bergantung pada stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga gas bumi.
Sebagai negara dengan kapasitas produksi keramik terbesar kelima di dunia, Indonesia dinilai perlu memberikan dukungan penuh bagi sektor ini. Tanpa harga gas yang kompetitif, posisi industri keramik nasional terancam goyah di tengah persaingan global.
Perbandingan Harga dengan Negara Tetangga
Pihak ASAKI juga menyoroti perbedaan harga gas alam Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Ironisnya, harga gas di Indonesia justru lebih mahal meskipun statusnya adalah negara produsen gas.
Berikut perbandingan harga gas bumi antar negara di kawasan Asia Tenggara:
| Negara | Status Produksi | Estimasi Harga (per MMBTU) |
|---|---|---|
| Indonesia | Produsen | 11 - 15 dollar AS |
| Malaysia | Produsen | 9,5 dollar AS |
| Thailand | Importir | 9,9 dollar AS |
Tabel ini menunjukkan bahwa beban energi di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan Thailand yang harus mengimpor gas. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai daya saing energi yang diberikan pemerintah kepada industri dalam negeri.
Ancaman Terhadap Sektor Manufaktur Nasional
Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Yustinus Gunawan, menilai rencana kenaikan harga pada Juni mendatang sebagai "gong" dimulainya fase kritis. Dampak negatif ini tidak hanya akan dirasakan oleh industri keramik, tetapi juga seluruh sektor manufaktur.
Kenaikan biaya produksi yang masif berpotensi menekan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia. Jika tren ini berlanjut, sektor manufaktur nasional dikhawatirkan akan kalah bersaing dan mengalami penurunan performa yang cukup signifikan.