Harga Bitcoin Pulih, Investor Justru Ramai Jual Aset Secara Mengejutkan di 2026

Harga Bitcoin Pulih, Investor Justru Ramai Jual Aset Secara Mengejutkan di 2026
Foto: Harga Bitcoin Pulih, Investor Justru Ramai Jual Aset Secara Mengejutkan di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Tren pemulihan harga Bitcoin (BTC) kini sedang berada di persimpangan jalan yang cukup menantang. Alih-alih memicu optimisme, kenaikan harga menuju titik impas investasi justru dimanfaatkan sebagian pemegang aset untuk melakukan aksi jual.

Fenomena ini tercermin dari lonjakan arus dana keluar atau outflow pada produk Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat. Hal ini memberikan sinyal bahwa kepercayaan pasar belum sepenuhnya pulih meski harga sempat menunjukkan tren positif.

Arus Dana Keluar Capai Puluhan Triliun Rupiah

Laporan dari K33 Research mengungkapkan bahwa ETF Bitcoin spot di AS mengalami penarikan dana yang sangat masif dalam periode lima hari perdagangan hingga Senin (18/5/2026). Total dana yang keluar mencapai 1,7 miliar dollar AS, atau setara dengan Rp 29,9 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.600 per dollar AS.

Angka ini mencatatkan rekor sebagai arus keluar mingguan terbesar kesembilan sejak produk keuangan tersebut pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 2024. Gelombang pelepasan aset ini mulai terjadi ketika harga Bitcoin mulai merangkak naik mendekati level 83.000 dollar AS.

Berikut adalah ringkasan data pergerakan arus dana ETF Bitcoin spot:

Indikator Detail Data
Total Arus Keluar 1,7 Miliar Dollar AS (Rp 29,9 Triliun)
Periode Waktu 5 Hari Perdagangan (Hingga 18 Mei 2026)
Level Harga Kritis 83.000 Dollar AS
Peringkat Arus Keluar Terbesar ke-9 Sejak Peluncuran

Data di atas menunjukkan tingginya tekanan jual yang terjadi saat harga Bitcoin menyentuh titik psikologis tertentu. Investor cenderung mengambil langkah aman untuk menghindari potensi kerugian lebih lanjut di masa depan.

Titik Impas Menjadi Penghambat Kenaikan

Level 83.000 dollar AS menjadi perhatian khusus karena angka tersebut merupakan rata-rata harga pembelian para investor ETF Bitcoin. Analisis dari K33 menunjukkan bahwa probabilitas terjadinya arus keluar besar-besaran meningkat drastis hingga 10 persen saat harga mendekati titik impas tersebut.

Sebaliknya, jika harga Bitcoin berada jauh di atas harga rata-rata pembelian, kemungkinan terjadinya aksi jual besar hanya berkisar di angka 3 persen. Kepala Riset K33, Vetle Lunde, menjelaskan bahwa situasi ini menggambarkan perilaku investor yang sangat berhati-hati terhadap risiko.

Menurut Lunde, investor yang posisinya hampir kembali modal cenderung menjual kepemilikan mereka demi mengamankan dana. Sementara itu, mereka yang masih merugi memilih memanfaatkan kenaikan harga untuk memperkecil defisit pada portofolio mereka.

Kondisi ini menciptakan ironi di pasar kripto saat ini. Titik impas yang seharusnya menjadi landasan kuat untuk kenaikan harga justru berbalik menjadi area tekanan jual yang menghambat laju pemulihan Bitcoin.

Tantangan Teknis di Level 83.000 Dollar AS

Selain menjadi rata-rata harga beli investor, angka 83.000 dollar AS juga merupakan area teknikal yang sangat krusial. Level ini berada di posisi 200-day moving average, sebuah indikator yang sering digunakan pelaku pasar untuk memantau tren jangka panjang.

Analis dari CryptoQuant mencatat bahwa area ini telah berkali-kali menjadi tembok penghalang bagi kenaikan harga Bitcoin di masa lalu. Salah satu momen krusial terjadi pada Maret 2022, di mana pasar kripto juga mengalami tekanan hebat saat mencoba menembus level tersebut.

Beberapa faktor utama yang menahan laju harga Bitcoin saat ini antara lain:

  • Aksi ambil untung (profit taking) di titik impas investasi.
  • Ketidakpastian pasar global yang dipicu oleh konflik geopolitik seperti perang Iran.
  • Resistensi teknikal pada indikator rata-rata pergerakan harga 200 hari.
  • Penurunan momentum reli setelah lonjakan tajam di periode sebelumnya.

Kombinasi antara tekanan teknikal dan psikologi investor membuat jalur pemulihan Bitcoin menjadi semakin terjal. Pasar kini menantikan apakah aset kripto terbesar ini mampu menembus hambatan tersebut atau justru akan mengalami koreksi lebih dalam.

Artikel terkait

Rekomendasi