Harga Aluminium Melonjak ke Level Tertinggi sejak 2022 akibat Konflik Timur Tengah Terbaru

Harga Aluminium Melonjak ke Level Tertinggi sejak 2022 akibat Konflik Timur Tengah Terbaru
Foto: Harga Aluminium Melonjak ke Level Tertinggi sejak 2022 akibat Konflik Timur Tengah Terbaru. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Ketegangan geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah berdampak langsung pada pasar komoditas global. Harga aluminium dilaporkan melonjak hingga menyentuh level tertingginya dalam empat tahun terakhir pada perdagangan Senin (1/6).

Kenaikan signifikan ini dipicu oleh kekhawatiran serius mengenai potensi gangguan rantai pasok logam dari kawasan tersebut. Kondisi ini menyusul keputusan Iran untuk menyetop dialog tidak langsung dengan Amerika Serikat di tengah meluasnya operasi militer Israel di Lebanon.

Dampak Konflik Terhadap Pasokan Global

Harga aluminium di London Metal Exchange (LME) tercatat meroket 1,5 persen ke angka US$3.721 per ton metrik. Angka tersebut sempat menyentuh posisi US$3.724 per ton, yang merupakan rekor tertinggi sejak Maret 2022 silam.

Wilayah Timur Tengah memegang peran krusial karena menyumbang sekitar 9 persen dari total kapasitas peleburan aluminium di seluruh dunia. Berikut adalah beberapa sektor utama yang sangat bergantung pada ketersediaan aluminium dalam produksinya:

Sektor industri yang terdampak oleh fluktuasi harga aluminium:

  • Industri otomotif untuk pembuatan komponen kendaraan.
  • Sektor penerbangan dan dirgantara.
  • Industri kemasan makanan dan minuman.
  • Sektor konstruksi dan infrastruktur bangunan.

Gangguan pada jalur perdagangan melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menghambat arus ekspor logam tersebut. Selain itu, hambatan logistik ini juga mempersulit proses impor bahan baku yang diperlukan oleh para produsen lokal.

Kondisi Pasar dan Prediksi Defisit

Sejumlah analis memberikan peringatan bahwa pasar aluminium secara global berisiko mengalami defisit pasokan yang cukup masif. Proyeksi terbaru bahkan menunjukkan adanya potensi kekurangan hingga lebih dari 2 juta ton pada tahun ini.

Britannia Global Markets menyoroti fenomena backwardation ekstrem yang sedang terjadi sebagai sinyal kuat adanya tekanan pasokan. Kondisi ini membuat harga kontrak jangka pendek menjadi jauh lebih mahal dibandingkan dengan kontrak berjangka untuk jangka panjang.

Berikut adalah ringkasan pergerakan harga berbagai jenis logam industri pada periode perdagangan terbaru:

Jenis Logam Harga Per Ton (US$) Persentase Perubahan
Tembaga 13.816 Naik 1,3%
Aluminium 3.721 Naik 1,5%
Seng 3.573 Naik 0,9%
Timah 56.740 Naik 2,4%
Nikel 19.235 Naik 0,9%
Timbal 2.010 Turun 0,3%

Data di atas memperlihatkan tren penguatan mayoritas logam industri akibat spekulasi pengetatan pasokan global. Hanya timbal yang tercatat mengalami sedikit penurunan harga di tengah tren positif logam lainnya.

Prospek Tembaga dan Manufaktur China

Selain aluminium, harga tembaga juga terus menunjukkan tren penguatan akibat ekspektasi penerapan tarif impor oleh pemerintah Amerika Serikat. Persediaan tembaga di gudang Comex bahkan telah melonjak drastis hingga lebih dari 550 persen sejak tahun lalu.

Pemerintah AS dijadwalkan akan memberikan keputusan final terkait kebijakan tarif impor logam ini pada akhir Juni mendatang. Hal tersebut membuat para pelaku pasar bersiap mengantisipasi kemungkinan pengetatan volume pasokan di pasar internasional.

Di sisi lain, sentimen positif datang dari geliat ekonomi China yang menunjukkan pertumbuhan manufaktur selama enam bulan berturut-turut. Sebagai konsumen logam terbesar di dunia, aktivitas industri China memberikan dukungan fundamental bagi stabilitas harga logam global.

Meskipun pasokan dari tambang diperkirakan tumbuh melambat, permintaan yang stabil dari sektor manufaktur tetap menjaga harga di level yang kompetitif. Para investor kini terus memantau perkembangan geopolitik Timur Tengah sebagai indikator utama pergerakan harga ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi