Grup Djarum Pacu Utilisasi Menara IBST dan Jaringan Fiber Optik Terbaru 2026

Grup Djarum Pacu Utilisasi Menara IBST dan Jaringan Fiber Optik Terbaru 2026
Foto: Grup Djarum Pacu Utilisasi Menara IBST dan Jaringan Fiber Optik Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

PT Inti Bangun Sejahtera Tbk. (IBST), yang merupakan bagian dari emiten menara telekomunikasi Grup Djarum, kini memusatkan strategi bisnisnya pada optimalisasi aset. Perusahaan berkomitmen untuk memaksimalkan potensi dari 3.200 menara telekomunikasi dan jaringan serat optik sepanjang hampir 19.500 kilometer yang telah mereka miliki.

Direktur IBST, Doni Wilaga Kusuma, menjelaskan bahwa langkah perseroan saat ini tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada pembangunan aset baru. Sebaliknya, manajemen lebih memilih untuk memacu produktivitas dari seluruh infrastruktur digital yang sudah beroperasi saat ini.

"Fokus utama perseroan saat ini adalah meningkatkan utilisasi dan produktivitas aset yang telah dimiliki," tutur Doni dalam kegiatan paparan publik yang berlangsung pada Kamis, 4 Juni 2026. Strategi ini diharapkan mampu memberikan dampak positif pada efisiensi biaya operasional perusahaan ke depannya.

Strategi Optimalisasi Menara dan Serat Optik

Dalam menjalankan bisnis menara telekomunikasi, IBST secara konsisten berupaya meningkatkan rasio kolokasi. Hal ini dilakukan dengan cara menambah jumlah penyewa atau tenant pada titik lokasi menara yang sudah berdiri di berbagai daerah.

Melalui metode tersebut, pendapatan perusahaan dapat terkerek naik tanpa harus menggelontorkan belanja modal atau capital expenditure (capex) dalam jumlah besar. Langkah ini dinilai sangat efektif untuk menjaga kesehatan arus kas perusahaan di tengah dinamika industri.

Sementara itu, pada segmen bisnis serat optik, IBST fokus meningkatkan monetisasi jaringan melalui beragam layanan konektivitas. Layanan yang ditawarkan mencakup connectivity, backhaul, Metro-E, leased line, hingga solusi teknologi lain yang berbasis pada kabel serat optik.

Doni juga menambahkan bahwa peluang untuk mengoptimalkan aset-aset tersebut kini terbuka semakin lebar. Hal ini terjadi setelah IBST resmi bergabung ke dalam ekosistem besar Protelindo Group dan iForte yang merupakan pilar bisnis telekomunikasi Grup Djarum lainnya.

Sinergi di dalam grup tersebut memungkinkan penggunaan infrastruktur secara lebih terintegrasi dan memperluas jangkauan ke basis pelanggan yang lebih besar. Selain itu, kolaborasi ini membantu perusahaan dalam menerapkan sistem pengelolaan infrastruktur telekomunikasi yang jauh lebih efisien.

Lonjakan Profitabilitas dan Sinergi Grup

Dari sisi keuangan, IBST menunjukkan tren pertumbuhan profitabilitas yang sangat impresif sepanjang periode tahun 2025. Direktur IBST, Suciratin, mengungkapkan bahwa margin EBITDA perseroan mengalami kenaikan yang sangat signifikan.

Margin EBITDA IBST melonjak ke angka 90,7% pada tahun 2025, naik tajam dibandingkan perolehan pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 67,2%. Peningkatan performa ini tidak lepas dari peran strategis masuknya IBST ke dalam naungan Protelindo Group.

"Bergabungnya perseroan ke dalam Protelindo Group memberikan banyak manfaat strategis, baik dari sisi operasional, keuangan, maupun pengembangan bisnis," kata Suciratin menjelaskan dampak positif dari aksi korporasi tersebut.

Selain mendapatkan akses ke skala usaha yang jauh lebih luas, IBST kini bisa mengadopsi berbagai praktik terbaik atau best practice dalam industri. Sinergi ini secara langsung meningkatkan daya saing perusahaan serta memperkuat struktur keuangan internal mereka secara berkelanjutan.

Kondisi keuangan yang semakin solid tersebut menjadi modal penting bagi perseroan untuk menghadapi kebutuhan investasi infrastruktur digital. Mengingat permintaan pasar terhadap layanan data berkualitas tinggi di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.

Kontribusi Bisnis Non-Menara

Manajemen IBST juga melihat adanya peluang besar pada sektor bisnis berbasis serat optik yang pertumbuhannya cukup stabil. Saat ini, segmen tersebut telah menyumbang kontribusi sekitar 26% terhadap total pendapatan konsolidasi perusahaan.

Berikut adalah rincian kontribusi dari berbagai lini layanan infrastruktur yang dikelola oleh IBST:

  • Layanan Fiber to the Tower (FTTT): Menjadi kontributor terbesar di segmen ini dengan porsi mencapai 24%.
  • Layanan Connectivity: Memberikan kontribusi pendapatan sebesar 1% terhadap total performa keuangan perusahaan.
  • Layanan Fiber to the Home (FTTH): Menyumbang porsi sebesar 1% dan diproyeksikan masih akan terus berkembang.

Data di atas menunjukkan bahwa fokus perusahaan pada infrastruktur pendukung jaringan seluler (FTTT) masih mendominasi pendapatan di luar penyewaan menara fisik. Manajemen tetap optimis porsi ini akan terus meningkat seiring dengan perluasan jaringan operator seluler.

Proyeksi dan Target Masa Depan

Ke depannya, manajemen IBST berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas aset menara maupun jaringan serat optik. Fokus utama tetap pada penguatan tingkat utilisasi, seperti tenancy ratio pada menara dan utilization ratio pada jaringan kabel.

Direktur IBST, Catherine Sembiring Pelawi, menegaskan bahwa pihaknya akan berupaya keras untuk mengerek rasio penyewaan tersebut. "Perseroan dan manajemen akan berupaya untuk meningkatkan aset tower dan fiber optik serta meningkatkan utilisasinya," tuturnya kepada media.

Melalui penerapan strategi yang komprehensif ini, perusahaan berharap kontribusi bisnis non-menara dapat memberikan porsi yang lebih besar di masa depan. Hal ini sejalan dengan visi perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konektivitas data dan transformasi digital yang masif di tanah air.

Ringkasan performa dan aset yang dikelola oleh PT Inti Bangun Sejahtera Tbk. dapat dilihat pada tabel berikut:

Kategori Informasi Data / Pencapaian
Jumlah Menara Telekomunikasi 3.200 Menara
Panjang Jaringan Serat Optik 19.500 Kilometer
Margin EBITDA Tahun 2024 67,2%
Margin EBITDA Tahun 2025 90,7%
Kontribusi Bisnis Serat Optik 26% dari Total Pendapatan

Tabel tersebut menggambarkan lompatan efisiensi yang berhasil dicapai oleh IBST setelah melakukan sinergi dengan ekosistem Grup Djarum. Dengan basis aset yang kuat, perseroan kini berada di posisi yang strategis untuk mendukung kebutuhan infrastruktur telekomunikasi nasional.

Di sisi lain, IBST juga tengah mempersiapkan rencana korporasi lebih lanjut terkait dengan rencana go private dan delisting dari Bursa Efek Indonesia. Proses tender offer dari Grup Djarum dilaporkan akan dilakukan pada harga Rp5.400 per lembar saham dalam waktu dekat.

Artikel terkait

Rekomendasi